HADIAH ulang tahun kali ini benar-benar istimewa. Abraham Samad, pria kelahiran Makassar 27 November 1966 itu resmi terpilih menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia mengalahkan empat pesaingnya dengan perolehan 43 suara. Pria muda energik yang baru berusia 45 tahun ini diharapkan bisa memimpin lembaga KPK untuk memerangi kasus korupsi yang sudah menjadi budaya di negeri ini.
Dikenal luas oleh kawan-kawan dekatnya sebagai aktivis Anti Korupsi, Abraham Samad merupakan penggagas LSM Anti Corruption Committee di Sulawesi Selatan. Dia juga sekaligus menjadi Pemimpin LSM tersebut. Akibat aktivitasnya itu, dia pernah menerima perlakuan buruk akibat membongkar kasus korupsi dengan Walikota Makassar sebagai tersangkanya. Akibatnya, rumah dan tempat usaha istrinya pun dirusak orang tak dikenal.
Saya sempat berkenalan dengan Openg, demikian panggilan akrab Abraham Samad, saat pertengahan tahun 1990 berkunjung ke Makassar untuk suatu kegiatan

kemahasiswaan di kota tersebut. Saat itu saya menjabat Sekjen Senat Mahasiswa UGM, dan selama di Makassar saya diantar kemana-mana oleh Abdul Azis Kahar Muzakkar (belakangan terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah Sulsel hasil Pemilu 2004), rekan sesama aktivis di HMI.
Openg waktu itu adalah aktivis HMI dari Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Dia dan Azis bisa dikatakan seide, seia, sekata. Lebih senior dia dari Azis. Openg seangkatan dengan Tamsil Linrung, Ketua HMI Cabang Makassar. Saat HMI terpecah dua menjadi HMI Dipo dan HMI MPO, tanpa ragu-ragu kedua kawan ini memilih HMI versi MPO sebagai tempat mereka beraktivitas. Tak ayal lagi, cobaan demi cobaan harus mereka hadapi sebagai aktivis yang harus lebih banyak bergerak di bawah tanah menentang rezim yang berkuasa.
Seorang kakak Abraham yaitu Imran Samad yang bekerja sebagai Camat di Rappocini, Kota Makassar berkisah tentang adiknya itu. Menurut Imran, Openg adalah anak lelaki yang keras kepala dan bersikukuh jika punya keinginan. Openg adalah anak anak kelima dari enam bersaudara. Seorang saudarinya telah meninggal. Tiga yang lain bekerja di TVRI. Ibu Abraham adalah pegawai negeri yang bekerja di Departemen Penerangan.
Ayahnya adalah seorang tentara anggota CPM yang di jaman Soekarno sempat mengawal Presiden pertama RI itu saat berkunjung ke Makassar. Nama Abraham, merupakan pemberian dari ayah mereka yang pada 1960-an mengagumi perjuangan Abraham Lincoln, salah satu Presiden Amerika Serikat. Abraham tamat sekolah dasar di SD 129 Kunjung Mae, di Jalan Mappanyukki, Makassar.
Saat usia SMP-nya, Openg sebutan Abraham sering pindah-pindah sekolah. Bahkan hingga tiga kali karena nakal dan suka berkelahi. Kakaknya ingat saat dia pontang-panting mengurus surat pindah Openg hingga tiga kali lantaran kenakalan sang adik itu. Untuk mendisiplinkan sang adik, ayahnya memutuskan Abraham harus bersekolah di SMP Katolik Sulaiman yang terletak di Jalan Batu Putih, Makassar.
Lulus dari situ, remaja bandel dan keras kepala ini meneruskan sekolahnya di SMA Katolik Cenderawasih. Menurut Imran sebagai anak laki-laki tertua, Imran selalu datang memberikan jaminan ke wali kelas dan kepala sekolah di SMA yang dikenal keras mendidik siswanya itu bahwa Abraham akan patuh dan tamat sekolah serta kelakuannya tidak akan seperti saat dia masih duduk di bangku SMP.
Lulus dari SMA Katolik, dasar memang otaknya encer, tanpa diduga oleh keluarganya Openg mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Hasanudin Makassar dan diterima pada 1985. Dia baru bisa menyelesaikan kuliah hukumnya di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin di tahun 1993 akibat kesibukannya sebagai aktivis mahasiswa. Abraham lantas meneruskan jenjang S-2 di Universitas yang sama hingga dia mendapatkan gelar Doktor Ilmu Hukum pada 2010.
Abraham memulai bekerja dengan berpraktek sebagai pengacara sejak tahun 1995. Karir awalnya dia curahkan pada LSM anti korupsi yang dia bentuk sendiri bersama sejumlah teman-temannya alumni HMI. Komite Anti Korupsi Makassar adalah LSM yang dia bentuk dan sekaligus dia pimpin. Dengan LSM ini Abraham Samad menapakkan perjuangannya memerangi korupsi dengan dedikasi untuk pemerintahan dan layanan publik yang lebih baik.
Menurut Haris Rusly Moti, Kordinator Grup Politik Petisi 28, mantan aktivis PRD, Abraham Samad adalah “orang gila”. Sebagai aktivis yang juga sering dijuluki dengan sebutan “orang gila” juga, Haris Rusly menilai sudah saatnya orang muda memang harus maju ke depan. Dan Abraham Samad adalah representasi orang muda yang sudah menemukan momentumnya untuk tampil sebagai pembawa perubahan di negeri ini.
Sebagaimana disebutkan di atas tadi, Openg semasa di HMI memilih bergabung dengan HMI 1947 atau versi HMI MPO yang tidak diakui pemerintahan Orde Baru. HMI MPO pada saat itu menentang program Pancasila sebagai azas tunggal yang dalam dekade terakhir kekuasaan Soeharto sering diangkat oleh penumpang kekuasaan Suharto untuk semakin menguatkan sang patron sekaligus menguatkan posisi para kroninya.
Ini tentu saja menarik. Jika menarik garis sejarah keormasan Abaraham Samad sebagai aktivis HMI 1947 yang getol dengan anti korupsi tentu dia harus bisa menyelesaikan persoalan jerat korupsi yang menimpa sejumlah seniornya. Sebut saja M.S. Ka’ban mantan Menteri Kehutanan yang juga sama-sama berasal dari HMI 1947. Beberapa orang HMI 1947 yang saat ini menjadi politisi yang cukup beken di antaranya adalah Tamsil Linrung dan Eggy Sudjana.
Tentu tantangan bagi Abraham Samad cukup berat karena dari koleganya sendiri tantangan terberat sudah menghadang. Siapa tidak kenal reputasi Tamsil Linrung yang sekarang di Komisi XI DPR-RI dan sangat dekat dengan aroma korupsi di Badan Anggaran DPR, terkait isu korupsi di lingkungan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi? Siapa tidak kenal dengan Eggy Sudjana yang reputasinya sebagai aktivis-cum pengacara mencatatkan berbagai kontroversi.
Yang menarik lagi, Openg juga dikenal dekat dengan kelompok-kelompok Islam garis keras seperti Komite Perjuangan Penegakan Syariat Islam Sulawesi Selatan, Hizbut Tahrir Indonesia, Laskar Jundullah, dan juga kelompok Mujahiddin yang dipimpin Abu Bakar Ba’asyir. Namun dari telusuran yang ada, Openg memang tidak pernah sekalipun terlibat afiliasi dengan partai politik manapun.
Suami dari Indriana Kartika ini unik juga. Sebelum dia terpilih menjadi Ketua KPK. Abraham membeli sebuah mobil Toyota Fortuner baru berwarna putih yang tercatat dibelinya pada Agustus 2011 lalu. Dia sengaja membelinya agar jika kelak terpilih menjadi Ketua KPK, dirinya tak dikait-kaitkan soal mobil barunya tersebut. Menurut istrinya, Openg adalah tipe orang yang sangat sederhana. Bahkan dulu ia dan suami harus berpindah-pindah menghuni rumah kontrakan sebelum menempati rumah warisan dari orang tuanya yang seorang Bupati Mamuju tahun 1989-1994.
Latar belakang Openg yang dekat dengan kalangan Islam garis keras ini pasti akan mendapat perhatian dari diplomat negara-negara barat dan sekutunya. Menurut The Jakarta Post, kiprah Openg dalam beberapa tahun terakhir terkait dengan beberapa kelompok Islam garis keras dan menjalin hubungan dengan figur-figur kuatnya karena profesinya sebagai pengacara. Openg punya kedekatan dengan Laskar Jundullah saat dia menjadi pengacara bagi Komite Penegakan Syariat Islam (KPSI), tempat Azis sahabatnya beraktivitas di sana.
Pada tahun 2002 dia adalah pengacara bagi terdakwa teroris Agus Dwikarna, yang dituntut 17 tahun penjara oleh pengadilan Filipina yang tertangkap (bersama Tamsil Linrung -red) membawa bahan peledak dan tuduhan terkait jaringan dengan teroris Asia Tenggara khususnya jaringan bekas MILF, Moro Islamic Liberation Front yang terkenal di bawah pimpinan Nur Misuari.
Kasus Dwikarna dan Linrung menjadi kasus intelejen regional yang hingga kini tidak terlalu terang benderang ujung pangkalnya. Yang pasti Tamsil Linrung, kolega HMI 1947 nya Openg saat ini terus melenggang dan menjelma menjadi politisi yang makmur dan terkenal, dan juga disegani. Tamsil dulu sempat di PAN sebelum akhirnya hijrah ke PKS atas ajakan Anis Matta, Sekjen PKS yang juga sesama orang Makassar.
Openg semasa masih mahasiswa dekat dengan almarhum Baharuddin Lopa, mantan Jaksa Agung. Dan itu juga dibenarkan kakaknya, Imran Samad. “Saya ingat, Abraham itu dianggap anak sama Pak Lopa. Bahkan Abraham sering nginap di rumahnya Pak Lopa, dan kalau pulang di rumah Openg selalu menceritakan kehidupan Pak Lopa dengan bersemangat. Mudah-mudahan dia mewarisi integritas almarhum Lopa,” harap sang kakak.
Tak selamanya Openg beruntung dalam kehidupannya. Saat meraih sarjana hukum, Abraham pernah ikut seleksi calon hakim, tapi masih kurang beruntung dan dia tidak lulus. Dia juga pernah menjadi calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pada Pemilu 2004 tetapi sama juga nasibnya, tidak terpilih. Dan dia dua kali mengikuti seleksi sebagai calon pimpinan KPK, dua kali pula gagal. Rupanya Dewi Fortuna baru berpihak padanya pada seleksi yang ketiga. Tak tanggung-tanggung, setelah menempati rangking nomor lima pada Panitia Seleksi, Openg langsung melejit dan mengalahkan dua seniornya di HMI masing-masing Abdullah Hehamahua dan Busyro Muqoddas. Selamat bekerja Openg

Iklan