Kamu bisa temui saya malam ini? Saya ingin bicara.

Tidak. Kali ini percuma kita keukeuh mencari bintang di langit Jakarta, kelak akan saya ajak kamu mengunjungi kota saya dan kita akan melihat kerlipan bintang dari bawah langit kota saya. Tentunya bukan untuk menghitung berapa banyaknya jumlah bintang di langit sana, tapi untuk membiarkan kerlipan gemintang itu menemani obrolan syahdu kita.

Bisa temui saya malam ini? Selepas saya kerja.

Saya ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu agar kesalahpahaman menjadi sirna di antara kita. Sesuatu yang mungkin selama ini hanya mampu tersimpan di tempurung otak saya yang keras ini, yang lalu disebut orang sebagai ‘keras kepala’.

Bisa temui saya malam ini? Di tempat yang menurutmu memiliki kenangannya.

Ya. Saya ingin berbicara padamu. Duduk bersebelahan denganmu. Pertama-tama biarkan saya melahap makanan saya dulu. Kamu pasti sudah hafal segimana maruknya saya sama makanan. Saya gak akan membiarkannya terlantar begitu lama. Setelah makanan saya habis. Setelah makanan porsi kecilmu juga sudah habis, mari kita lanjutkan dengan menikmati es krim sesendok demi sesendok sambil berbicara. Ya, dalam setiap suapan sendok eskrim ada hal yang ingin aku katakan padamu. Tentang aku. Agar kelak tidak ada lagi kesalahpahaman.

Bisa temu saya malam ini? Maaf bila membuat harimu menjadi begitu lelah karena harus menempuh jarak yang jauh .

Sebagai balasannya kamu boleh menyenderkan kepalamu di pundak saya. Nanti juga akan saya genggam tanganmu. Untuk mengalirkan rasa hangat dan nyaman yang biasa kamu transfer ke saya. Biarkan kepalamu terjatuh lemah di pundak saya. Biarkan sesekali saya memanjakan kamu yang telah begitu menyayangi saya. Biarkan rasa lelahmu tumpah pada saya. Gak. Jangan takut kepalamu terasa berat di pundak saya. Itu gak berat. Sama sekali tidak.

Temuilah saya malam ini. Malam yang semakin sedikit tersisa untuk kita habiskan bersama

Iklan