mungkin kita dikatakannegara berpenduduk muslim terbesar di dunia, tetapi jangan salah umat kristen di indonesia juga banyak sekitar 80 juta penduduk,berarti itu lebih dari jumblah penduduk slowakia dan swiss  jadi jangan terlalu arogan dan membuat hukum sendiri, toh kita negara pengganut pancasila,bukan islam!!! jangan mempropokasikan idealisme tertentu dan mengancam kedaulatan nkri dengan agama….

 

mungkin kalahnya sama sumbanggan politik kali ea… hahahahhaa

pulak itu yang terjadi di Tanjung Balai di mana pemeluk agama Buddha harus menurunkan patung Buddha dari atas rumah ibadah mereka? Menurut media seperti the Jakarta Post, masyarakat di sana keberatan dengan keberadaan patung itu. Alamaak, itu patung Buddha kan bukan diletakkan dan dilekatkan pemeluk agama Buddha di atas gereja atau mesjid tetapi di atas rumah ibadah mereka sendiri, Kuil Tri Ratna.

Apa sih alasan dari orang-orang yang keberatan ada patung Buddha di atas Kuil Sri Ratna? Memang ada yang keberatan kalau ada salib di dalam gereja atau ujung bagian atas gereja menjulang sampai ke langit ke-seribu? Apa yang non-Muslim di Indonesia ada yang keberatan kalau Umat Islam mau menempelkan simbol-simbol Islam di mesjid atau di atas mesjid? Ada yang keberatan? Tak ada kan!

Kaum Muslim yang keberatan ada patung Buddha di atas Kuil Sri Ratna di Tanjung Balai adalah kaum Muslim yang berpikiran sempit atau pura-pura berpikir sempit. Macam-macamlah latar belakangnya itu mulai dari rasa tengik politik yang memanfaatkan keluguan bahkan kedodolan masyarakat sekitar untuk kepentingan politik. Walikota penuh basa-basi bilang tak ada kaitannya dengan pemilihan walikota dengan penurunan patung itu. Bilang pulak, umat Buddha di sana setuju untuk menurunkannya. Yang idiot juga bisa ngerti kalau mereka mengalami tekanan.

Nggak enak kan ketika sebagian warga Amerika keberatan ada mesjid di Ground Zero. Nah, sama nggak enaknya ketika umat Buddha harus menurunkan patung Buddha dari Kuil Sri Ratna mereka di Tanjung Balai. Indonesia bukan negara Islam jadi jangan arogan memaksa pihak non Muslim menurunkan simbol-simbol agama mereka dari rumah ibadah mereka kecuali mereka menempelkannya di tempat yang salah seperti gereja atau mesjid.

Apa sih yang membuat pihak yang keberatan ada patung Buddha di atas Kuil Sri Ratna berpikir bahwa patung itu tidak boleh ada di sana? Ini tingkah laku yang sangat keterlaluan dan menurut saya kurang beradab bahkan memalukan. Buddhisme dan Hinduisme sudah lama ada di Indonesia, jauh sebelum Islam dan Kristen masuk di negeri ini. Yang datang belakangan sopan dikit nape?

Indonesia bukan negara Islam Kawan, akh!***Jika sekilas mengamati judul artikel ini,maka bisa dipastikan bahwa penulisnya akan terjepit dari berbagai arah oleh kepungan kelompok -kelompok muslim yang sejak dulu menghendaki supaya Indsonesia ini berdasarkan hukum syari’at Islam. sebagaimana dikehendaki Piagam jakarta.Sementara dari arah yang berlawanan berduyun-duyun pula penulis di datangi dengan muka berseri-seri mengucapkan terima kasihnya kepada para politisi yang mayoritasmnya muslim itu atas jasa-jasanya berhasil mementahkan kehendak umat Islam meskipun merupakan mayoritas populasinya di Indonesia.

 

Bagi yang menghendaki Indonesia ini berdasarkan syariat Islam tentu saja dengan marah-marah mendatangi nsaya seraya memprotesnya dengan,dan pemnulisnya dianggap mereka sudah mengkhianati mereka .Sebaliknya bagi yang tidak menghendaki Indonesia berdasarkan syariat Islam dengan alasan,bahwa Indonesia ini dihuni oleh berbagai suku bangsa yang sifatnya multikultural.Karenanya demi kesatuan dan persatuan,maka Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI) hanya di dasarkan kepada Pancasila dengan catatan pemerintah mendorong semua agama supaya menjalankan syariat agamanya masing-masing tanpa perlu merasa takut,karena semua agama yang sudah diakui oleh Indonesia berhak menjalankan ajaran-ajaran agamanya.

Persepsi terus berubah selaras perkembangan dinamika zaman,serupa halnya kelompok yang menginginkan diberlakukan syari’at Islam bagi para pemeluknya di Indonesia seiring proses “doktrinasi”yang dilakukan rejim Orde Baru,yang memaksakan Pancasila sebagai azas tunggal dalam berbagai aspek sosial masyarakat Indonesia. Namun demikian perubahan sikap mereka secara perlahan sambil berkeluh kesah akhirnya menerima Pancasila sebagai azas tunggal ,yang disambut dengan antusiasme tinggi oleh kelompok yang memang sudah sejak lama menentang syariat Islam diberlakukan dalam ketatanegaraan Indonesia .

Kedua kelompok ini meskipun kelihatannya bersatu di dalam koridor negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang undang dasar 1945 ,namun keduanya tetap saling “curiga”karena masih tetap terkesan pihak pemerintah sengaja mengalahkan golongan mayoritas dan memenangkan golongan minoritas dengan alasan demi intgritas bangsa dan negara Indonesia yang multi kultural masyarakatnya itu.

Pihak mayoritas yang muslim itu tetap saja masih dicurigai oleh pihak minoritas,bahwa pada suatu saat nanti jika rejim mengalami kelemahan dan kemunduran pasti akan mengkaji ulang sikapnya serta diindikasikan kemungkinannya akan mengambil alih pemerintahan dan memulihkan “Piagam Jakarta”untuk menerapkan syari’at Islam dalam berbagai aspek sosial bangsa Indonesia..Karenanya pihak yang mayoritas perlu di pecah belah sembari menguatkan pihak minoritas sebagai penopang dalam kebijakan pemerintah Indonesia.

Dalam konteks inilah kemudian Ali Mustopo,Benny Murdani sengaja mendukung berdirinya NII Kawai IX (az Zaitun) Patrol,Indramayu ,Jawa Barat,serta membiarkan tumbuh dan berkembangnya Ahmadiyah meskipun Sukarno telah melarangnya.Padahal sekiranya mereka mengetahui ,bahwa umat Islam justeru bersyukur karena Indonesia tidak berdasarkan syari’at Islam ,tetatpi berdasarkan ideologi Pancasila dan UUD 1945 dengan di topang oleh hukum produk rejim kiolkonialisme Belanda.

Mengapa umat Islam justeru bersyukur tidak diberlakukan syariat Islam dalam ketatanegaraan Indonesia ? tentu saja ,sekiranya memang syari’at Islam menjadi landasan ideologi Indonesia,serta syari’at islam itu diberlakukan di Indonesia secara utuh maka perjalan sejarah Indonesia sekarang akan berbeda dari apa yang kita lihat dan rasakan sekarang.Makanya sangat aneh sekiranya kelompok-kelompok atheis,liberalis sekuler,ataupun kelompopk lain yang sejak dulu menentang pemberlakuan syariat Islam di Indonesia menuding Islam sebagai faktor penyebab terjadi berbagai skandal kejahatan di Indonesia.

Nah,inilah sebabnya umat Islam itu sangat berterima kasih kepada para bapak bangsa yang telah menyelamatkan kesucian Islam dari noda dan cela dengan menolak “pemberlakuan syariat Islam di Indonesia secara utuh” sehingga Islam tidak bisa dipersalahkan dan tidak bertanggung jawaab terhadap berbagai penyimpangan sosial kejahatan,kebiadaban,kekejian yang semakin marak dilakukan secara berjama’ah oleh orang-orang yang memang kebetulan memakai label-label Islam,sebagaimana pernah dilakukan oleh Prof.Dr.Snuock Hurgroye dan mitranya Dr.Golziher sebelumnya.

Iklan