example.

Bagaimana anggota DPR termuda ini menanggapi keraguan masyarakat pada kinerja
anggota DPR?
Sejak kecil, ANGELINA Patricia Pingkan Sondakh (28) sudah punya banyak prestasi. Ia
langganan juara kelas, juara pidato berbahasa Inggris dan debat ilmiah, juga menerima
penghargaan semasa studi di Australia. Angie juga, demikian panggilan akrabnya, menjadi
satu-satunya Puteri Indonesia yang berani mengungkapkan kontroversi tugas dan arti
seorang putri.
Setelah ‘pensiun’ sebagai Puteri Indonesia, kesempatan yang terbuka untuknya tidak
hanya menjadi presenter, bintang sinetron, dan bintang film. Pembicara pendamping pada
sidang umum PBB untuk isu Women, Peace, and Security 2003 ini terpilih sebagai
Ambassador Orangutan oleh Orangutan Republik Education Initiative (OUREI) pimpinan
Gary Saphiro yang berbasis di Santa Monica, USA. Atas partisipasi dan kepedulian
terhadap lingkungan hidup, Angie meraih penghargaan KLH (Kementrian Lingkungan Hidup)
Award 2005.
Kesibukannya kini amat padat. Diakui Angie, jadwal ketat membuat dirinya sulit
mengatur skala prioritas. Selain di Jakarta, Angie memiliki jadwal kunjungan kerja ke daerah.
Sebagai anggota DPR Angie juga menerima banyak tawaran menjadi pembicara seminar.
Sekarang, dalam sebulan, Angie menerima tawaran sekitar 10 sampai 15 seminar berbagai
topik.
Tampaknya Anda menikmati aktivitas sebagai pembicara seminar?
Saya memang merasa, ‘kecantikan’ saya utuh ketika menjadi pembicara. Sebelum
tampil, saya berusaha menguasai permasalahan, dengan didukung data-data akurat.
Bagaimana Anda menyeleksi berbagai tawaran berbagai acara ini?
Saya dan tim manajemen memilih yang sesuai dengan spesifikasi saya. Tidak mau
mengambil terlalu banyak dan akhirnya tidak sesuai dengan segmen posotioning dan
branding saya.
Bagaimana tepatnya positioning dan branding diri itu?
Konsepnya dari Pak Hermawan Kertajaya: Brain, Beauty, Behavior, dan Blessed.
Semua kesempatan diusahakan sesuai dengan kriteria tersebut. Ada lima tenaga
manajemen yang membuat penilaian pada setiap tawaran yang datang. Saya
memosisikan diri sebagai suatu produk dengan spesifikasi berbeda, agar tidak
dianggap sama dengan produk lain. Jelas positioning-nya, branding-nya, serta
segmen apa yang mau dimasuki.
Sebagai public figure, diakui Angie, tak sedikit suara sumbang yang menilai dirinya begitu
mudah menembus gedung parlemen. Tidak banyak yang tahu. Ia pun melewati masa-masa
sulit sebelum sukses sebagai politisi. Salah satu kesulitan adalah mengatur strategi.
Saat kampanye, Anda tidak menonjolkan diri, itu juga strategi?
Pada saat itu konstalasi politik tidak memungkinkan saya menonjolkan diri sendiri.
Memilih partai saja bingung, apalagi memilih orang. Dan, saya ditempatkan bukan di
tempat saya berasal. Jadi aya memakai strategi pemasaran, termasuk pengenalan
lingkungan. Di lingkungan Jawa, tidak mungkin saya mengunggulkan diri, sementara
bahasa Jawa saya belum lancar. Saya memiliki keunggulan komparatif, tapi saya
tidak memiliki keunggulan kompetitif.
Masyarakat banyak meragukan kinerja anggota DPR. Ada komentar?
Wajar saja. Kami tidak bisa mengomunikaskan semua yang kami kerjakan.
Seandainya masyarakat melihat perjuangan kami, dengan semua tekanan-tekanan
politis, mungkin pendapat itu bisa berubah. Untuk satu undang-undang saja
perjuangannya luar biasa. Sebagian orang menilai pekerjaan kami cuma bolak-balik
bersidang, padahal di situlah terjadi perdebatan-perdebatan khusus antara partaipartai
politik.
Jika ada wakil rakyat yan gkurang bertanggung jawab, fakta itu tidak bisa
digeneralisasikan untuk semua anggota. Saya berusaha menjadi anggota dewan
yang menunjukkan kinerja dan penguasaan permasalahan. Pada akhirnya, seleksi
alam ikut menentukan. Ini era keterbukaan, masyarakat bisa ikut mengakses dan
menilai.
Anda anggota dewan yang termuda dan populer. Bagaiman tanggapan rekan-rekan
politisi senior?
Like or dislike itu wajar. Saya terus belajar dan ingin membuktikan diri sebagai
anggota dewan yang berkualitas.
Pencapaian sebagai apa yang membuat Anda bangga sebagai anggota parlemen?
Saya gembira pernah terpilih dalam tim yang membuat undang-undang baru tentang
olahraga. Undang-undang yang antara lain memikirkan nasib atlet dan mantan atlet,
serta mengupayakan sarana olahraga di setiap sekolah. Perjuangannya panjang dan
melelahkan.
Anda sekarang lebih sering tampil dengan gaya resmi. Tuntutan pekerjaan?
Penampilan saya jadi lebih ibu-ibu (tertawa). Tapi, akhirnya, inilah saya. Sekarang
saya risi memakai baju agak terbuka. Mungkin, karena faktor usia dan lingkungan
juga. Dari dulu saya tidak glamor, tetapi sekarang memang lebih sederhana.
Kesederhanaan perlu sebagai rasa empati kepada rakyat.
Selain gaya berpakaian berubah, sikap Anda juga lebih hati-hati?
Ya, memang mesti disesuaikan dengan posisi saya sekarang. Saya bersikap tegas
sebagai wanita. Tidak mau didiskriminasikan dan tidak mau dilecehkan. Saya tidak
mau bercanda berlebihan. Bahasa tubuh pun saya juga, karena cantik untuk politisi
tidak selalu menguntungkan. Banyak orang hanya menilai cantiknya saja.
Penilaian sebagian orang itu mengganggu ya?
Ya, karena saya berprinsip kekuatan wanita itu tidak hanya pada kecantikan.
Jadi bagaimana dengan rame-rame wanita melakukan operasi plastik untuk
mendongkrak percaya diri?
Untuk alasan kesehatan, bolehlah. Kalau untuk alasan kecantikan dan menambah
percaya diri, saya kurang sependapat. Kecantikan sejati terpancar dari dalam.
Kepuasan itu tidak ada limitnya. Saya pribadi tidak mau terjebak dalam satu
ketidakpuasan terus-menerus.
Lingkungan, kasih sayang, dan pendidikan yang didapatkan wanita kelahiran Australia, 28
Desember 1977, ini tergolong sempurna. Sosok ayah, Prof. Dr. Ir. Lucky Sondakh, MEc.
dan ibu, Ir. Sjul Kartini Dotulong, menjadi figur panutan Angie. Di antara para sepupu
Angie, suasana kompetitif diciptakan sejak dini. Mereka juga diajarkan bisa menerima
kekalahan saat tidak berhasil menjadi juara kelas. Angie mengaku, belajar banyak dari
paman-pamannya yang sukses sebagai pengusaha, bupati, gubernur, dan menteri.
Kemandirian telah dikenalnya sejak usia 15 tahun, di sekolah berasrama di Australia.
Dengan latar belakang keluarga seperti itu, apa konsep keluarga yang Anda inginkan
kelak?
Saya bisa saja jatuh cinta, tetapi harus tetap nasional. Saya orang yang berpikir
visioner. Saya ingin anak-anak saya tumbuh bahagia di dalam keluarga yang
lengkap.
Sekarang ini, Anda sedang dekat dengan Adjie Massaid?
Ehm, saya akui, saya sedang jatuh cinta. Tapi, untuk melangkah lebih jauh, masih
banyak yang harus disesuaikan, dipertimbangkan, dan dirembukkan dengan
keluarga. Saat ini, kami menikmati hubungan ini saja dulu.
Kabarnya juga sudah dekat dengan kedua anak Adjie?
Saya terbiasa dekat dengan anak-anak. Saya pernah mengajar bahasa Inggris untuk
anak-anak. Juga duta Gemar Membaca versiKomnas Anak pimpinan Kak Seto.
Saya juga mengampanyekan peduli lingkungan untuk anak-anak. Jadi bisa dibilang,
saya memang mudah bergaul dengan anak-anak, termasuk dengan anak-anak Adjie.
Aktif di DPR, pembicara seminar, aktivis lingkungan, ada lagi yang baru?
Saya akan menerbitkan buku kedua. Buku yang kedua sama sekali berbeda dari
buku saya yang pertama (Kecantikan Bukan Modal Utama Saya). Tidak akan
menimbulkan kontroversi, justru akan berguna bagi orang banyak.
Dengar-dengar, Anda diproyeksikan menjadi menteri?
Memang bisik-bisik itu pernah saya dengar. Tapi saya jawab dengan tersenyum saja.
Bagi saya hidup yang mengalir ini saya jalani saja. Kita tidak tahu apa yang akan
terjadi besok. Sejak terpilih sebagai Puteri Indonesia 2001, ada satu komitmen yang
saya pegang teguh: dedikasi saya untuk negeri ini. Berjuang untuk kepentingan
masyarakat kecil adalah panggilan hidup yang akan saya lakukan secara terusmenerus.