Adakah yang pernah bertanya dimana gerangan sisa-sisa kejayaan angkatan udara kita di tahun 60’an… jika anda pernah bertanya maka anda mungkin akan menemukan jawaban standar bahwa pesawat Mig (Mig-17, Mig-19 dan Mig-21) tersebut mengalami kerusakan akibat kekurangan suku cadang dan jawaban lainnya, sehingga akhirnya harus digrounded dan tidak beoperasi lagi.

Sebelum bicara tentang hal itu kita sedikit flash back ke tahun 60’an, berikut adalah kutipan dari situs Alutsista dan Aditya’s hanggar tentang keberadaan Pesawat Mig buatan Rusia tersebut:
“Keberadaan burung besi ini masuk dalam daftar peralatan perang yang disiapkan dalam rangka kampanye Trikora. Pasalnya Belanda yang masih ngotot bercokol di Papua Barat merasa diatas angin dalam hal persiapan perang terbuka. Hawker Hunter F-6, jet tempur buatan Inggris tahun 1954 yang dimilikinya belum mampu ditandingi oleh AURI kala itu. Walaupun AURI kebanjiran peralatan perang yang tergolong canggih, tapi untuk masalah jet pencegat pesawat lawan masih belum ada. Mig-17 Fresco belum menjadi tandingan Hawker Hunternya Military Luvchvaat yang mampu melesat 1.117 km/jam, daya capai ketinggian 14.325 meter dengan jangkauan 690 kilometer.

Sukarno, Presiden pertama RI rupanya tidak main-main dengan ucapannya. Segala aspek militer baik kekuatan offensive maupun defensive dibangun habis-habisan. Sebagai tindakan pertahanan apabila Belanda menempuh jalan perang dipilihlah jet tempur Mig-21 type F sebagai pesawat pencegat/interceptor. Tak perlu berlama-lama, pemerintah segera meneken kontrak pembelian 20 pesawat Mig-21 F ditambah dengan 10 Mig-19. Kemudian persiapan kilat segera dilakukan dengan membentuk dua tim kecil untuk belajar menerbangkannya. Tim pertama terdiri dari empat penerbang berangkat ke Uni Soviet untuk sekedar bisa terbang tepatnya di Pangkalan Udara Lugowaya di dekat perbatasan India. Sedangkan tim kedua belajar di dalam negeri tetapi tetap dalam bimbingan instruktur terbang dari Rusia.

Pengusaan terbang cepat dilakukan oleh penerbang-penerbang muda tersebut dikarenakan mereka telah berpengalaman dengan pesawat jet yaitu DH-115 Vampire, Mig-15 dan Mig-17 yang telah ada sebelumnya. Walaupun demikian penerbang muda tersebut sempat dibuat kaget dan kagum oleh performa dan kemampuan jet bersayap delta hasil rancangan spektakuler biro desain Mikoyan Gurevich ini.

Mig-21 F termasuk jet pemburu paling mutakhir di jamannya. Mampu mengejar laju dari pesawat pembom strategis Amerika B-52 Stratofortress yang terbang mendekati 1 mach. Pesawat kebanggaan Skadron 14 ini memiliki daya dorong 5.950 kilogram dari sebuah mesin turbojet Tumansky R-11-F2-300 yang mampu membuatnya terbang menanjak sampai ketinggian 20.000 meter, jarak tempuh 1800 km dan pada posisi mendatar bisa mencapai 2 kali kecepatan suara (> 2 mach). Masih belum cukup, Mig-21 juga dilengkapi dengan senjata kanon 30 mm dan dua rudal K-13A atau NATO menamainya AA-2 Atol. Jelas suatu mesin pemburu paling menakutkan bagi pilot-pilot Belanda di dalam kokpit Hawker Hunter yang jelas bukan tandingannya.

Walaupun akhirnya tidak turun langsung di kancah Trikora, tetapi keberadaannya membuat perang berakhir dimeja perundingan. Hal itu disebabkan, sebuah pesawat intai AU AS Lockheed U-2 Dragon Lady melayang di atas Madiun. Selama konfrontasi, sering pesawat ini sengaja diterbangkan dari Darwin ke Filipina untuk misi-misi intelijen. Dari ketinggian 70.000 kaki, teridentifikasi oleh pilot beserta kru deretan jet tempur dan pembom. Ditiliknya dengan cermat. Tak salah lagi, sang pilot yakin bahwa pesawat yang dilihatnya adalah pembom Tu-16 Badger dan MiG-21F Fishbed C (sebutan yang diberikan NATO), jet tempur penghadang (intercept) paling ditakuti barat kala itu. Sebelumnya, intelijen AS sudah mengendus kedatangan MiG-21 di Indonesia.

Hasil pengintaian ini bergegas disampaikan Amerika kepada Belanda. “Percuma melawan Indonesia, mereka punya ini.” Begitu kira-kira laporan intel AS kepada pihak Belanda sambil menyodorkan foto hasil jepretan pesawat U-2. Amerika pun sebenarnya masih gamang, mengingat F-4E Phantom yang baru dimodifikasi, masih meragukan untuk diadu berlaga melawan MiG-21.

Selain digunakan dalam kancah Trikora, tercatat pernah berpartisipasi dalam perang Dwikora, dimana Mig-21 melaksanakan tugas pengawalan terhadap pembom raksasa TU-16 Badger yang terbang melintas di perbatasan Serawak. Pernah berpapasan dengan Hawker Hunter dan HS Buccaneer-nya Inggris tapi kedua belah pihak tidak pernah mendahului melakukan tindakan provokasi.

Menurut cerita Marsda (Pur) Jahman dan Marsda (Pur) Rusman, penerbang MiG-21 AURI, ketika konfrontasi dengan Malaysia yang dikenal dengan kampanye Dwikora, Indonesia menyiagakan pembom Tu-16 dan MiG-21. Karena jangkauannya yang kecil, pesawat harus ditempatkan di Palembang dan Medan. Selama pengabdiannya di AURI, memang tidak ada pengalaman perang udara hebat yang ditinggalkan MiG-21 bagi generasi berikutnya. Selama Dwikorapun, hanya beberapa kali berpapasan dengan pesawat Hawker Hunter atau HS Buccaneer Inggris saat mengawal Tu-16.

Komodor Udara Leo Wattimena sendiri memang tidak menghendaki adanya duel udara di antara kedua belah pihak. “Kecuali ditembak,” perintah Leo. Namun begitu, dua rudal K-13A atau NATO menyebutnya AA-2 Atoll dan kanon 30 mm, tetap disiagakan. Biarpun dilarang bertindak provokasi, ada saja beberapa penerbang yang berbuat iseng. Maksudnya hanya ingin melihat kesiapan radar lawan.

Dengan airborne dari Medan, pesawat terbang low level menyusuri selat Malaka. Begitu menjelang perbatasan, tower akan berteriak memberitahu ada pesawat naik dari Butterworth. “Kita langsung pull up, kabur,” jelas Jahman yang menjabat komandan Skadron 14 setelah Rusman. Saat pesawat Inggris tiba di perbatasan, MiG-21 AURI sudah terbang jauh. “Kita (MiG-21) memang tidak pernah perang. Sebagai pencegat, kita hanya menunggu lawan yang tidak pernah jelas. Itulah tugas kita, menunggu dan menunggu,” tutur Jahman yang menerbangkan MiG-21 nomor 2164.

Mig-21 F memperkuat AURI hanya sampai dengan tahun 1967. Selanjutnya pesawat hebat ini di-grounded setelah sebelumnya melakukan farewell flight terbang sebulan penuh di Lanud Kemayoran.”

Berikut adalah kutipan yang diambil dari
“Red Eagles, America’s Secret MiGs” karangan Steve Davies.
“Setelah pemerintahan mantan presiden Soekarno jatuh, yang diikuti hubungan Indonesia dan Uni Soviet yang memburuk dan pemerintahan mantan presiden Soeharto yang condong ke arah Amerika Serikat. Maka Uni Soviet kemudian menarik maintenance support untuk pesawat buatan Uni Soviet yang berada di Indonesia. Sehingga dengan “terpaksa” Indonesia mempensiunkan 30 Mig-17, 10 Mig-19 dan 20 Mig-21 yang dimilikinya diakibatkan kekurangan suku cadang.

Kemudian Pemerintah Amerika Serikat dengan dalih untuk membantu mengembangkan kekuatan TNI AU maka memperbolehkan Indonesia untuk membeli peralatan militer buatan amerika serikat mulai dari T-33, UH-34D, hingga F5E/F dan OV-10. Tetapi perjanjian tersebut entah bagaimana membuat Amerika Serikat dapat membawa Mig kita ke ke Groom Lake, markas dari Red Eagles yaitu suatu skuadron yang ditugasi untuk mempelajari kelemahan dari pesawat-pesawat buatan uni soviet.

Adapun Mig yang dibawa ke amerika serikat tersebut dari 10 Mig-21F13 dengan tail number 2151,2152,2153,2155,2156,2157,2159,2162,2166,2170; 1 Mig-21U tail number 2172 dan 2 Mig-17F tail number 1184 dan 1187.”

Sementara Mig-19 dijual ke Pakistan. “Saya sendiri yang mengantarkan ke Pakistan, sekalian melatih penerbangnya,” aku Rusman.

Beberapa dari pesawat Mig tersebut masih bisa dilihat di Musium Satria mandala dan ITB, beberapa kabar dari milis info militer juga menyatakan beberapa Tu-16 kita juga dibawa kesana dan sisanya discrap. Lebih menyedihkan lagi pesawat T-33 yang kita beli dari Amerika tidak dilengkapi oleh persenjataan, walaupun akhirnya bisa diakali oleh ground crew TNI AU sehingga T-33 tersebut bisa dipersenjatai dan dapat digunakan untuk operasi militer

Iklan