Menanggapi soal PR seorang siswa SD yang hari ini mencuat dan ramai diperdebatkan merupakan suatu fenomena unik tersendiri bagi saya. Berkecimpung dalam duni pembelajaran, apalagi yang dihadapi adalah siswa SD memang memerlukan perlakuan yang khusus dan ekstra.

Hasil PR tersebut menjadi heboh karena menjadi perdebatan panjang. Mulai dari calon doktor, para guru, para profesor, hingga astronom LAPAN pun ikutan nimbrung memberikan komentar dan sekaligus beropini mengenai hasil pengerjaan PR tersebut.

Apalagi pengaruh media, yang secara ekslusif mengikuti dan mewartakan mengenai pendapat para ahli di bidangnya untuk ikut memberikan masukan terkait perilaku guru terhadap si siswa tersebut.

Terlihat jelas, di soal PR nya : 4 x 6 = 4+4+4+4+4+4 =…. lalu oleh si siswa dijawab 6 x 4 = 24

Ini yang salah hanyalah tidak adanya kesepakatan antara guru dengan siswa dalam mengerjakan soal tersebut seperti apa alurnya. Namun, pada penilainya si guru memberikan semacam warning untuk membaca bukunya. Artinya, gurunya sudah menekankan bahwa di buku itu sudah ada caranya, otomatis asumsinya adalah sudah diterangkan oleh gurunya. Mungkin siswanya saja yang memang tidak memperhatikan saat guru menerangkan alur menjawab soal seperti apa.

Sejauh ini, gurunya tampak jelas, bahwa memang ia menekankan bukan pada logika matematika, tetapi lebih pada proses alur mengerjakan yang baik dan benar. si guru tampak tidak mementingkan tujuan, sebab memang sudah pasti jawabannya akan sama, satu nilai, yaitu 24.

Nah !, sekarang untuk membela si siswa bagaimana ?.

Ia secara tak langsung sudah memenuhi kaidah-kaidah logika matematika yang akan diajarkan pada jenjang SMP dan SMA. Coba kita renungkan beberapa kalimat matematika berikut :

Premis I : 4 x 6 = 4+4+4+4+4+4

Premis II : 6 x 4 = 4 x 6 (ini sesuai teori sifat perkalian, sifat komutatif)

Premis III : 6+6+6+6 = 6 x 4

—————————————

Kesimpulan : 4  x 6 = 6 x 4 (logis !)

sehingga meskipun si gurunya ngotot ikut alur pengerjaan yang ada di buku, tetapi karena tidak adanya kesepakatan yang jelas diantara keduanya, maka sudah jelas, siswa dengan alur pikir berorientasi pada tujuan akhir sama dengan 24, langsung menulis 6 x 4. Jelas !, yang salah adalah tidak adanya kesepakatan.

Namun, karena media begitu LEBAY sehingga menjadikan hal kecil menjadi besar. Sontak, para ahli pun menjadi momentum ini sebagai ajang menaikkan rating keterkenalannya kepada publik, hehehe

Kadang juga, mengerjakan soal semacam itu malah banyak yang memakai pemisalan yang jelas tidak nyambung sama sekali. Itu soal matematika murni, bukan soal matematika terapan atau aplikasi dari matematika. Oleh karena itu kalau kemudian :

5 kambing + 4 sapi = 9. Ya, jelas salah ! (di matematika hitung asli dan dasar, tidak mengenal satuan. Yang ada satuan, itu sudah soal aplikasi dari matematika. Beda lagi kalau begini logikanya :

5 kambing + 4 sapi = 9 hewan berkaki empat. Ini benar. Tapi ini termasuk aplikasi. Inilah salahnya literatur matematika kebanyakan, mencampuradukkan antara mana hitungan dasar dan hitungan aplikatif.