Dalam setiap up date status, aku selalu menghindar. Kepada siapa kulabuhkan pilihan. Tapi bukan berarti aku tidak punya pilihan. Karena pilihan tidak perlu mereka tau. Pilihan hanya milikku. Tersimpan dalam hati. Karena itu aku bebas mencintai. Cinta sebagai sebuah pilihan. Adakalnya membuatku termangu. Seperti bilik ruang yang aku pilih itu. Membuatku terlelap dalam alunan irama Yanni, the sadness of the heart. Aku terjaga dari impian. Tidak terasa alir irama dalam One Man’s Dream. Irama klasik terus mengalir. Ternyata The end of August lejit peringkat hit melambung mengisi waktu.

“World Dance“, teriak anakku. Pikirku menerawang. Ternyata anakku suka genre klasik juga. Aku beranjak dan membuka pintu. Tersentak apa yang diucapkan. Ternyata TV terus menyala sepanjang hari hingga malam menjelang. Bergabunglah aku dengan anak. Satu demi satu kusimak. Sejenak kuseka mata terasa lelah. Gelas kopi yang masih penuh terlempar di luar sadarku. Rata dengan lantai rumahku. Aku buka pintu langit rumahku. Selembar tirai kutemukan. Agar noda-noda itu menghilang.

Tak kusangka anakku berseloroh. “Jusmine Flower atau Song Bird, Kenny G. aja, Bapak”, saran anak perempuanku dari sebrang kamar. Tape recorder di kamar memang belum saya off-kan. Tentu saja irama terus mengalun dari balik pintu kamar. “Apa tidak Ilir-ilir Cak Nun, Menjaring Matahari Ebiet G. Ade, atau Bengawan Solo-nya Gesang saja, biar terasa in lander lagi meng-Gesang-kan“, kilahku. Namun, alasan itu tidak cukup menyurutkan niat apa yang ia mau. Anak sekarang memang beda dengan dulu.

Semua lantunan irama itu memang tidak asing bagiku. Sebetulnya aku tidak ambil pusing dengan macam irama apapun. Dangdut, Rock, Pop, Kroncong, Jaipong, Kasidah, Langgam Jawa, Janger, Kecak, Baris atau apa saja musik itu. Semua ramah di telingaku? Gak taulah, apa sudah tebal telinga ini. Ternyata tidak juga. Masih sama aku dengan mereka. Hingga aku tercenung. Masalahnya apa yang membuat kita beda selera. Ternyata cuma dua kata saja. Cengkok dan lagu. Yaaah, kramat betul – padahal pastinya akan takluk di tiang gantung listrik.

Ia membuat kita terlena. Cengkok dan lagu menjadi identifikasi diri dan impian. Akibatnya kita tidak lagi ingat You are me, I am You. Atau Know You by Heart. Sampai-sampai akhirnya kita sulit sekadar say hello. Apalagi dengan tulus hati mengatakan, I am Waiting for You. Berpaling dari Hipno-psiko music klasik Dave Koz dalam irama itu, tidak jarang kita saling mengejek atau hanya sekadar menggoda teman dengan mengatakan, “kampungan.” Seleranya! Karena itu, masih saja Bundaran HI, Tugu Proklamasi, dan tempat lain strategis selalu menjadi incaran gelar konser bersama The Clouds, Bridge Over Trouble-nya Kitaro atau Bongkar, Anarki- Iwan Fals — rilis cintanya?

Kini, masih ada waktu gelar konser bersama dengan The Caravansary, Forever in Love-nya atau Perjuangan Rhoma Irama, Padang mBulan Cak Nun, dan Shalawat Badar Hadad Alwy dan banyak pilihan lainnya. Pagelaran akan seru lagi. Kolaborasi akbar unjuk warna seribu pelangi. Bersama bernyanyi. Sendiri dalam tarian suci terpekur. Ekspresi hari-hari melukis pelangi. Agar tidak terasa berat bersalam. Ucapan selamat kepada yang sedang mendapat berkah hal biasa. Sebaliknya, berkabung pada yang berduka kemulian tiada tara. Radhiyallah. Wallahu a’lam.