Romo Franz Magniz Suseno sudah mengeluarkan buku terakhirnya tentang pemikiran Karl Marx, filsuf tersohor dari Jerman itu, dengan judul, “Dari Mao ke Marcuse”. Tulisan itu menarik dengan pendekatan khas akademisi Driyarkara yang membahas beberapa filsuf yang “tertular” oleh pemikiran Marx, mulai dari biografi singkat, sistem pemikiran, gagasan pokok, dan beberapa pertanyaan kritis terhadapnya.

Mao Zedong adalah salah satu tokoh yang menarik perhatian saya. Mao adalah salah satu tokoh yang tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang bangsa Cina hingga bisa berdiri sebagai bangsa besar seperti sekarang ini. Mao terkenal karena keberaniannya untuk tampil beda dari paham Marxisme Uni Sovyet yang dipimpin oleh Lenin dan kemudian Stalin. Jika Marxisme Uni Sovyet seperti memandang gagasan Marx sebagai dogma, dimana bahasa dan konsep tidak bisa lari dari gagasan itu, maka Mao hadir dengan berani keluar dari pakem itu. Mao menyadari betul bahwa konsep Marxisme yang diusung oleh Lenin dan Stalin itu tidak relevan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh masyarakat Cina. Dalam hal inilah akhirnya sebuah paham harus berhadap dengan sebuah artikulasi yang kontekstual demi mengejar relevansi.

Usaha dan keberhasilan Mao dalam mengartikulasikan konsep Marxisme dalam konteks pergumulan Cina ini disebut-sebut sebagai salah satu kunci keberhasilan kepemimpinan Mao Zedong di Cina.

Dalam buku itu, Romo Franz mengatakan bahwa berhubungan dengan sistem epistemologis yang diusung Mao, maka Mao mencoba untuk memperkenal sebuah sistem pemerintahan negara yang cocok. Mao meyakini bahwa ilmu pengetahuan itu bukan berasal dari teori-praksis-teori. Mao meyakini bahwa kelahiran teori selalu dimulai dari sebuah kondisi praksis, yang akhirnya membentuk teori, dan dari teori itu kemudian menghasilkan sebuah praksis lagi, demikian seterusnya. Dengan demikian, praksislah yang menjadi barometer dari sebuah kebenaran teori. Jika sebuah teori tidak dapat dibuktikan sebagai praksis, maka itu tidak menjadi benar. Gagasan Mao ini memang cenderung akan mengarah kepada cara berpikir pragmatisme.

Namun, dikarenakan praksis yang menjadi landasan kebenaran sebuah teori, maka massa menjadi unsur penting. Apa yang dirasakan massa menjadi sebuah kebenaran penting yang harus dipikirkan. Dalam hal ini, Mao terkenal dengan konsep “garis massa”nya. Garis massa adalah sebuah sistem pemerintahan negara yang selalu mencoba mendengar apa yang massa rasakan. Sesuai dengan epistemologinya, Mao akan merumuskan sebuah pengetahuan, filsafat, dan kebijakan untuk menjawab kehendak praksis massa itu. Dalam hal inilah, Mao akhirnya sempat dipuja oleh rakyatnya.

Ideologi yang berakar dari pemikiran Marx ini menjadi efektif dalam memimpin sebuah negara komunis terbesar di dunia kala itu. Mao dikagumi bukan hanya rakyat Cina, tapi juga kelompok Kiri Eropa yang didominasi oleh mahasiswa yang merindukan sebuah revolusi.

Mao tak selamanya dipuja. Kepemimpinan tidak ada yang sempurna. Kritik datang silih berganti. Kekuasaan dan kebijakan Mao akhirnya dipertanyakan. Banyak anak muda dan aktivis mulai berani mengritik kepemimpinan Mao. Hal ini seharusnya baik jika mengikuti konsep “garis massa” yang digagasnya. Tapi Mao mengingkari ini. Dia bilang, “Terkadang, tak selamanya massa bisa menentukan apa yang benar.” Mao akhirnya membunuh secara membabi buta semua pihak dan kelompok yang mencoba melawan dia. Mao mengingkari ideologi-politiknya. Kekuasaan akhirnya membuai dia hingga tega membiarkan rakyatnya mati kelaparan dan membunuh lawan-lawan politiknya. Mao yang dipuja, kini malah dihina. Mao jadi seorang diktator berdarah dingin.

Kisah kepemimpinan Mao Zedong mengajarkan kita bahwa tak selamanya ideologi menjadi raja dalam kepemimpinan. Daya tarik kekuasaan bisa merayu seorang raja untuk mengkhianati ideologi dan rakyatnya. Ini pelajaran bagi pemimpin bahwa penting untuk menjaga jarak dari kekuasaan. Kekuasaan itu ibarat memulihkan haus dengan meminum air laut. Dia seperti benalu yang akan menghisap habis pemimpin yang tak tahu bagaimana berjarak dengannya. Ideologi hanya isapan jempol jika hasrat berkuasa jadi tujuan.

Kegagalan Mao bukan pada artikulasi paham yang dianut, sebagaimana yang sering dituduhkan pada kehancuran komunisme. Tapi sebaliknya, kegagalan Mao terletak pada konsistensi dalam menjalankan ideologi. Kesetiaannya pada ideologi yang dibangunnya sendiri ternyata tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan hasratnya untuk menjadi penguasa.

Mao gagal memahami visi dari konsep Marxisme yang bersifat emansipatoris, egaliter, dan tidak rakus. Kegagalannya ini menjadikan Mao hanya sebatas seorang diktator dan sekaligus menghancurkan konsep komunisme yang telah susah payah dibangunnya dengan melewati berbagai macam tantangan dan kontradiksi-kontradiksi.

Komunisme Mao gagal karena pemimpinnya sendiri tidak konsisten pada ideologi dan visi politik yang dia bangun sendiri dan malah memilih untuk berpihak pada kekuasaan yang menggoda bina