Pada tahun 1980-an, kita sering menyaksikan tayangan TVRI yang digemari masyarakat yakni Aneka Ria Safari. Acara yang biasanya muncul selepas Dunia Dalam Berita itu diisi dengan para artis Indonesia yang tenar di masa itu yang menyanyikan lagu-lagu pop bahkan dangdut. Pernah salah seorang penyanyi yang tenar, Ade Putra, mendendangkan lagu dengan judul Anak Desa.

Lagu ciptaan A. Riyanto itu bercerita tentang kisah kebanggaan sebagai anak desa. Meski hanya lulusan SMA namun mempunyai cita-cita untuk membangun negara. Tak hanya itu, dalam bait-bait syair, anak desa itu ingin memberantas korupsi dan pungli sebab tindak pidana itu menghambat pembangunan.

Kisah dan tekad anak desa itu rupanya didengungkan kembali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat melakukan Pidato Kenegaraan menjelang Peringatan HUT Indonesia 17 Agustus pada 15 Agustus 2014 di depan hadapan anggota DPD dan DPR di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta.

Dalam sambutan, Susilo Bambang dengan tegas mengatakan, saya adalah anak orang biasa dan anak biasa dari Pacitan yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia. Kalau Susilo Bambang tidak mengatakan anak biasa dari Pacitan, orang tidak tahu kalau ia anak desa. Dengan mengatakan yang demikian maka orang tahu bahwa ia adalah anak desa.

Pacitan adalah sebuah wilayah yang berada di Jawa Timur. Tempatnya berada di barat daya di provinsi itu. Dulu wilayah Pacitan termasuk daerah yang terbilang terisolasi, sebab sebelah barat, timur, dan utara geografisnya adalah pegunungan. Sedang sebelah selatan adalah Samudera Hindia. Untuk menuju Pacitan bisa lewat Ponorogo, Trenggalek, dan Wonogiri Jawa Tengah. Sebelum pembangunan akhir-akhir ini, infrastruktur jalan sulit dilalui, sering terjadi tebing longsor sehingga menutup akses dari dan ke Pacitan.

Kondisi yang demikian membuat banyak orang Pacitan merantau. Merantau bagi orang Pacitan dilakukan sejak dahulu kala. Konon kakek pemain sepakbola legendaris dari Singapura, Fandi Ahmad, adalah orang Pacitan. Jadi perantauan orang Pacitan menuju ke wilayah lain, perkotaan, sudah terjadi di tahun 1920-an.

Susilo Bambang mengatakan anak Pacitan bisa jadi ia merasa bangga sebagai orang Pacitan. Dari wilayah yang dulu minus dan banyak masyarakatnya yang merantau, ternyata bisa melahirkan seorang yang dikatakan oleh Susilo Bambang menjadi tentara, menteri, kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia.

Apa yang dinyatakan Susilo Bambang bahwa dirinya ‘anak desa’ untuk menunjukan bahwa dirinya memiliki karakter orang desa yang bercitra sederhana, jujur, telaten, sabar, kuat, pantang menyerah, ditempa oleh alam, dan mempunyai cita-cita yang tinggi. Namun benarkan anak desa seperti itu? Bisa jadi namun yang harus kita cermati bahwa tantangan dan godaan masyarakat desa lain dengan masyarakat kota.

Masyarakat desa bercitra jujur dan menerima apa adanya sebab godaan berupa harta dan tahta jarang mereka hadapi sehingga mental mereka belum teruji bagaimana bila mereka menghadapi yang demikian. Lingkungan yang penuh dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme belum mengepung mereka sehingga mereka cenderung bersih dari masalah.

Di sana godaan seperti itu ada namun kadarnya juga kecil. Kita lihat kepala desa banyak yang melakukan hal yang demikian namun karena kadarnya kecil atau tidak terasa membuat masyarakat membiarkan, toleran, atau memaafkan.

Dan sekarang bila anak desa pergi ke kota, apakah citra anak desa seperti di atas bisa dipertahankan? Itu yang perlu diujikan kepada mereka namun kalau kita lihat banyak pejabat, menteri, kepala daerah, dan anggota DPR, adalah anak-anak desa. Mereka saat sekolah dasar hingga sekolah menengah umum menempuh di desa. Untuk menuju ke sekolah mereka harus berjalan puluhan kilometer, naik turun gunung bahkan menyeberangi sungai. Kondisi sekolahnya pun juga memprihatinkan, banyak gedung sekolahnya mau roboh. Meski demikian hal itu membuat mereka menjadi sosok yang kuat.

Sayangnya pembentukan karakter mereka desa yang mulya, roboh ketika mereka menjadi pejabat, menteri, kepala daerah, dan anggota DPR. Ketika berhadapan dengan godaan harta, tahta, dan wanita, mereka yang mayoritas anak desa terlena sehingga menjadi tersangka korupsi dan masuk penjara. Jadi bangga sebagai anak desa itu boleh-boleh saja namun lebih bangga kalau jadi anak antikorupsi, nepotisme, dan kolusi