Berita Politik Humaniora Ekonomi Hiburan Olahraga Lifestyle Wisata Kesehatan Tekno Media Muda Green Jakarta Fiksiana Freez
Home
Lifestyle
Catatan
Artikel
Catatan
Gangsar Mangkasaro
TERVERIFIKASI
Jadikan Teman | Kirim Pesan

melihat dengan kaca mata kebenaran.
0inShare
Hidup Ngoyo, Kapan Sedekahnya
OPINI | 21 November 2013 | 10:33 Dibaca: 218 Komentar: 22 9

Pernahkan anda mendengar keluhan teman, tentang keuangan keluarga atau gaji yang kurang setiap bulannya ? Saran apa yang harus kita berikan kepadanya agar tidak selalu mengeluh setiap kali bertemu.

Gaya hidup perkotaan sudah merambah di desa-desa dengan adanya mart-mart dan uang plastik. Kemudahan bertransaksi dengan uang plastik berpengaruh besar kepada masyarakat kita yang memang demen sekali berhutang.

‘Walah pak, semua barang ini kalau tidak dari utang apa bisa kebeli’ begitulah celoteh teman-teman kalau kita sedang bersilaturahmi kerumahnya. Kita tidak tanya barang-barang yang dia miliki, eh dia sendiri yang bercerita tentang keberadaan barang-barang pengisi rumahnya. Bahkan sering terjadi besar pasak daripada tiang, sehingga tiap bulan hanya tutup lubang gali lubang.

Saya jadi ingat waktu masih menjadi capeg (calon pegawai) hidup di ibukota yang serba glamour, dalam hati apa mungkin saya bisa menghidupi diri sendiri. Di ibukota ternyata semua serba ada, tergantung kita harus bisa menyesuaikan diri pada tingkatan yang mana yang mau dipilih. Mulai dari pola makan, untuk bisa cukup saya tiap hari hari harus ke Warteg. Sesekali bolehlah mencicipi masakan Padang, kalau tiap hari dijamin gaji tidak akan cukup untuk makan saja. Apalagi kalau ke restoran SUKI, gaji sebulan akan habis dimakan sehari.

Begitu pula pakaian, semua yang ber merk dan buatan luar negeri terpajang di toko dan mall bila kita punya uang tak bernomor seri sih tinggal comat sana-sini. Karena masih capeg, cukuplah beli kain di TA (Tanah Abang) dan silaturahmi ke tukang jahit selesai dah urusan pakaian. Toh tak ada teman yang usil menanyakan, ‘celana elu pakai merk apa sih’. Yang penting bisa menutup aurat, pas, serasi dan tidak melanggar etika.

Yah hidup pas-pasan, diusahakan ada yang ditabung untuk akherat dengan memasukan ke kencleng masjid setiap jum’atan. Untuk Zakat ? Ya tentu saja belum memenuhi syarat dan yakin tidak akan ditanya oleh malaikat kecuali zakat fitrah.

Bila ingin punya sesuatu, sepatu, buku atau yang lainnya bagi saya lebih baik menunggu sampai akhir bulan. Ada sisa baru berani beli kalau kurang sedikit dan bisa ditutup dengan gaji yang tak mengganggu untuk makan dan transport saya berani pinjam tanpa bunga kepada teman.

Sampai berlanjut pada berumah tangga dan memilih tempat tinggal, saya tetap berusaha sesuai dengan kemampuan. Rumah tipe 45 di Perumnas cukup untuk berteduh dan menampung tamu dari daerah yang menginap. Walau tidurnya di ruang tengah harus berderet seperti ikan pindang atau bandeng. Yang penting cukup dan lebih menghormat dibanding bila kontrak di kota.

Secara alamiah semakin lama tentu akan membaik perekonomian, banyak diantara teman-teman yang mengatakan (bodoh kenapa cuma tipe 45). Yah dengan rumah tipe yang sesuai kantong insyaAllah masih bisa menabung untuk akherat. Mereka yang mengambil tipe 70 atau 100, seharusnya kalau ada urunan atau sedekah bisa lebih banyak. Kenyataannya tidak demikian, dengan penghasilan yang sama mereka harus mengeluarkan lebih banyak untuk cicilan kredit rumahnya. Terus kapan sedekahnya, dari dulu kok minus terus.

Dengan pola konsumsi ngoyo, diluar kemampuan mana mungkin bisa memikirkan orang lain atau bersedekah. Mereka bilang untuk diri sendiri saja masih kurang kok. Padahal kalau mau menurunkan sedikit saja pola konsumsinya mereka pasti bisa berbuat untuk masyarakat yang masih kurang beruntung. Bagaimana dengan rekan-rekan, merasa berlebih, pas-pasan (pas butuh pas ada), atau selalu kurang ?

‘Berbahagialah orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin’.