Sejarah membuktikan bahwa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan Organisasi mahasiswa terbesar dan terkuat di Indonesia, berbagai ujian dan tantangan dalam setiap fase sejarah organisasi ini telah membentuk karakter dan cirri khas yang membedakannya dengan organisasi lain. Keikhlasan yang luar biasa dari prof. Lafran Pane dkk pada saat-saat pendirian HMI membuat HMI menjadi organisasi yang kokoh dan disegani oleh berbagai pihak.

Niat awal pendirian HMI pada dasarnya merupakan niat suci untuk mepertahan Negara ini dari berbagai bentuk penjajahan, dan mngembangkan ajaran Islam secara kaffah. Dalam perjalanannya, disadari atau tidak, adanya suatu persepsi yang lahir secara perlahan bahwa demi mewujudkan misi HMI dibutuh kekuatan, sehingga lambat laun pergerakan HMI mulai memfokuskan diri pada peningkatan power organisasi.

Fokus yang terlalu besar pada peningkatan Political power HMI, menyebabkan lembaga ini mengalami pergeseran orientasi, tidak lagi berorientasi untuk mewujudkan misi HMI, melainkan sudah menjadi arena untuk belajar politik. Kondisi ini menyebabkan ketertarikan yang cukup besar bagi partai-partai politik yang ada di Indonesia untuk merekrut kader-kader binaan HMI, maka jelas bahwa parpol-parpol yang ada di Indonesia memiliki kepantingan yang cukup besar terhadap HMI. Bukan hanya itu, pihak asing yang memiliki kepentingan di Indonesia juaga memiliki kepentingan yang cukup besar terhadap HMI, karena HMI merupakan lembaga pengkaderan terbesar di Indonesia.

Imbasnya tentu saja pada terciptanya dinamika yang tidak sehat di HMI, terutama pada momentum-momentum regenerasi mulai dari tingkat Pengurus Besar sampai ke Badan Koordinasi, hingga ke cabang-cabang. Biasanya parpol-parpol mendukung masing-masing kandidat yang maju pada suksesi kepemimpinan di HMI, dengan kekuatan financial dari setiap parpol membuat “pesta demokrasi” di HMI sarat dengan politik uang (money politic). Ini merupakan dinamika ala partai yang tidak layak dianut oleh lembaga pengkaderan mahasiswa seperti HMI yang seharusnya steril dari kepentingan politik praktis.

Yang lebih menyedihkan, hal ini menyebabkan keterpecahan di tubuh HMI hampir di setiap momentum regenerasi kepemimpinan HMI. Perpecahan yang paling parah terjadi di periode kepengurusan PB HMI 2010-2012 di bawah kepemimpinan Noer fajrieansyah, dimana terbelahnya HMI menjadi tiga blok politik, kubu Dwi Julian Cs, Sekjen Basri dodo cs, dan ketum Noerfajrieansyah cs, saya katakana perpecahan kali ini yang terparah karena imbas yang begitu besar terhadap cabang-cabang se-nusantara, berbeda dengan perpecahan di tahun-tahun sebelumnya yang tidak sampai membuat cabang-cabang terkotak-kotak dan terjebak dalam pusaran politik HMI di tingkat nasional.

Terlepas dari adanya berbagai isu asusila yang menyudutkan ketua umum PB HMI Noer Fajrieansyah, dan disinyalir sebagai titik awal perpecahan HMI, tidak bisa dipungkiri bahwa adanya keterlibatan “tangan-tangan” diluar HMI memberikan andil yang paling besar terhadap perpecahan ini. Mulai dari Noer Fajrieansyah yang sudah menjadi rahasia umum mendapatkan dukungan financial yang cukup besar dari salah satu pimpinan Parpol yang ada di Indonesia, kemudian Dwi Julian cs yang membentuk kepengurusan PB HMI tandingan sebagai modal untuk bisa bertahan hidup di Jakarta.

Yang paling menggemparkan tentu saja Sekjen PB HMI Basri Dodo yang didaulat oleh MPK PB HMI sebagai Pj. Ketua Umum tertangkap kamera sedang mengikuti perayaan hari ulang tahun Israel di singapura bersama Arip Musthopa dan Ferry Mursyidan Baldan (dua-duanya mantan ketum PB HMI), hal ini yang paling mengkhawatirkan, karena kita semua tahu bahwa Indonesia sendiri tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Jangan-jangan Israel ingin menggunakan HMI sebagai kaki tangan mereka di Indonesia. Atau yang lebih parah bisa jadi Israel sedang melakukan gerakan Infiltrasi untuk membubarkan HMI.

Isu keterlibatan Israel sebenarnya bukan hal yang baru, periode yang lalu dibawah kepemimpinan Arip Musthopa Israel menyalurkan dana miliaran rupiah untuk korban gempa padang 2009 melalui PB HMI. Permasalahnnya adalah, Israel merupakan musuh utama umat Islam, melalui paham zionisnya mereka membantai umat Islam di palestina dengan kejam, dan mengambil alih secara paksa tanah-tanah rakyat palestina dengan cara yang sangat brutal. Bekerja sama dengan Israel sama saja dengan meminum “darah” umat Islam palestina, padahal seharusnya HMI harus berani menyatakan dirinya sebagai musuh utama Israel, dan turut serta dalam upaya membubarkan Negara Israel.

Kalau sudah begini, Cuma dua hal yang bisa dilakukan, pertama, enyahkan pengaruh Israel dan antek-anteknya dari tubuh HMI, karena suatu hal yang sangat berbahaya bila Negara sejahat Israel mengendalikan Organisasi besar yang sangat berpengaruh seperti HMI, begitu juga dengan parpol harus di sterilkan dari ruang pengkaderan HMI. Kedua, jika hal ini gagal dilakukan, maka sudah sebaiknya HMI dibubarkan saja, sperti yang pernah disarankan oleh ideolog HMI Alm. Nurcholish Madjid, tinggal saja menyusun konsepsi dan strategi pembubaran HMI, setelah itu siap-siaplah untuk mengucapkan Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un HMI!!

Penulis adalah Kader HMI Aceh, saat ini menjabat sebagai Direktur Informasi dan komunikasi Badan Koordinasi Nasional Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (BAKORNAS LKMI)