Antara perbuatan kriminal harus dipisahkan terhadap perbuatan kenakalan.

Anak di bawah umur yang bolos sekolah dan lalu pergi bermain futsal, anak sekolah yang mensontek saat ujian, anak yang memanjat pohon mangga tetangga, anak laki-laki puber yang mengintip gadis yang sedang mandi, anak remaja yang berbohong, semua itu adalah kenakalan spontan khas remaja. Kenakalan spontan khas remaja tidaklah meresahkan masyarakat.

Anak remaja yang menyiram air keras ke penumpang bis kota, anak sekolah yang membajak bis kota, anak remaja yang membentuk geng perampok sepeda motor, anak remaja yang membawa senjata tajam di tas sekolah seperti celurit, samurai, parang dan golok. Semua itu bukan kenakalan, tetapi adalah kejahatan kriminal khas orang dewasa. Menyiram air keras ke penumpang bis kota adalah tindakan terencana, membajak bis kota juga. Pada level ini, mereka bukan lagi remaja nakal, tetapi sudah menjadi remaja bajingan, saya setuju dengan Ahok. Semua yang membuat resah masyarakat adalah bajingan, Titik.

Untuk kenakalan spontan khas remaja berlaku UU perlindungan anak, untuk bajingan kriminal itu tidak berlaku, tetapi yang berlaku adalah UU pidana.

Kita jangan menggunakan UU perlindungan anak sebagai tameng melindungi para bajingan di bawah umur. Itu keterlaluan.

Jika kita ngotot, ada konsekuensi serius yang akan membuat masyarakat mederita secara sosial. Para bandar narkoba akan merekrut anak di bawah umur sebagai pengedar, para penadah motor curian akan memanfaatkan anak di bawah umur sebagai pencuri. Para pembunuh bayaran akan merekrut anak remaja menjadi anggotanya. Dan banyak lagi yang akan membuat kita menderita.

Remaja nakal pantas dan harus dibina, remaja bajingan hanya pantas dan harus dipenjara.