TERNYATA di Australia juga mengenal cara bagaimana membantu pengendara lain menghindari polisi. Kalau di Indonesia biasanya orang akan teriak: “Momen!”, kepada pengendara lain yang akan melewati di mana ada pemeriksaan kendaraan oleh polisi. Sambil teriak begitu biasanya juga diiringi dengan membunyikan klakson atau melambai-lambaikan tangan. Begitu tahu signal itu, pengendara yang merasa tak yakin dengan kelengkapan kendaraannya akan berhenti menepi atau lewat jalan lainnya menghindari polisi.

Tapi polisi tahu dengan siasat ini. Kadang ada polisi yang sudah siaga jauh dari lokasi pemeriksaan. Begitu ada pengendara yang berhenti atau membelok balik atau belok ke jalan lain akan dikejar. Kadang dengan memakai walkie-talkie polisi memberitahukan ke polisi lain sehingga para penghindar pemeriksaan itu tidak berkutik.

Penulis pernah mengalami hal ini saat di Yogyakarta. Ada pengendara lain yang berpapasan berteriak, “Ada momen!”. Begitu mendengar peringatan tersebut, penulis langsung belok haluan putar balik. Tapi betapa terkejutnya, ternyata sudah ada polisi menghadang penulis di depan. Langsung saja kena tilang karena plat nomernya tidak standard. Lempengan plat nomer memang penulis potong agar lebih pas dilekatkan di bagian depan kendaraan vespa yang penulis kendarai waktu itu.

Ketika di Australia, pertama kali penulis kurang menyadari peringatan itu. Kendaraan berpapasan biasanya akan mengedip-ngedipkan lampu beam sebagai pertanda bahwa jalan di depan yang akan penulis lalui ada pemeriksaan polisi atau RBT.

Waktu itu penulis masih terbiasa dengan sinyal di Indonesia. Biasanya bila mobil di depan mengedip-ngedipkan lampu artinya kita harus memberi kesempatan jalan karena mobil yang berpapasan dengan kita itu akan menyalip mobil di depannya dengan melewati marka jalan. Melihat signal itu biasanya kendaraan yang berpapasan akan menurunkan laju kendaraannya dan berusaha menepi ke kiri jalan sejauh mungkin. Memberi ruang cukup untuk kendaraan yang akan menyalip di depan.

Maka penulis kurang paham ketika kendaraan berpapasan mengedip-ngedipkan lampu saat berada di jalan Australia. Tapi sempat bertanya-tanya, pasti ada sesuatu yang aneh. Mungkin mobil yang penulis kendarai ada yang salah. Bannya gembos atau asap yang keluar dari knalpot terlalu besar. Tapi ternyata penulis ketahui bahwa di balik tikungan ada pemeriksaan polisi.

Pemeriksaan polisi atau disebut sebagai RBT (Random Breath Testing) adalah tindakan polisi untuk menangkap pengendara yang mabuk karena alkohol dengan menghentikan kendaraannya secara random. Seorang yang lagi mabuk alkohol memang dilarang untuk mengendarai kendaraan. Kandungan alkohol dalam darah harus tidak melebihi 0,05 BAC (blood alcohol concentration). BAC adalah ukuran kandungan alkohol dalam darah yang dinyatakan dalam satuan per gram alkohol dalam 100 ml darah. Jadi jika batas legal kandungan alkohol dalam darah adalah 0,05 BAC berarti kandungan alkohol dalam darah tidak boleh lebih dari 0,05 gram dalam setiap 100 ml darah. Untuk patokan, seorang pengendara tidak boleh minum lebih dari satu kaleng bir yang punya kandungan alkohol 4,9 %.

Hukum bagi pengendara yang kandungan alkohol dalam darah melewati batas tergantung seberapa besar batas itu dilewati. Jika terlalu besar, polisi langsung membawanya ke kantor polisi dan dipenjara untuk diperkarakan lebih lanjut. Bahkan surat ijin mengemudinya akan dicabut dan dilarang mengendarai kendaraan untuk batas waktu tertentu.

Pengendara dalam taraf belajar harus memasang tanda huruf “P” di kendaraan yang dikemudikan. Foto: dokumentasi pribadi.
Untuk pengemudi yang baru dalam taraf belajar (provisional dan harus memasang tanda “P” di kendaraannya), kandungan alkohol dalam darah adalah 0%. Jadi tidak boleh ada sama sekali alkohol dalam darahnya.

Jika pelanggaran dilakukan berulang kali dan dalam kasus-kasus yang ekstrim, bisa saja si pelanggar dilarang mengendarai kendaraan seumur hidup. Artinya seumur hidup tidak boleh punya SIM!

Ada seorang kenalan pernah ketangkap mabuk berat saat mengendarai mobil, ia diperkarakan di pengadilan. Tapi ia sempat mengajukan banding. Ia menyewa pengacara. Tapi akhirnya ia kalah dan dihukum dengan bakti sosial selama tiga bulan dan SIMnya hangus selama enam bulan. Biasanya masalah denda tidaklah begitu bikin pusing, tapi dilarang mengendarai kendaraan itulah yang malah bikin stress bagi banyak orang. Karena kebebasannya jadi amat berkurang.

Menurut penelitian, setiap 300 pengendara yang di test terdapat satu pengendara yang kandungan alkohol dalam darahnya melampaui batas legal. Dan dari tiga kecelakaan fatal, satu darinya pasti melibatkan pengemudi yang kandungan alkohol dalam darahnya melebihi batas legal. Jadi batas kandungan alkohol yang ditetapkan tersebut sepertinya tidak asal-asalan, tapi berdasar penelitian.

Selama ini penulis tidak pernah punya masalah dengan RBT, karena memang tidak suka minum alkohol. Biasanya polisi akan menghentikan kendaraan jika merasa curiga bahwa pengemudinya mabuk. Tanda-tanda pengemudi mabuk biasanya arah jalan kendaraannya tidak stabil. Sering gonta-ganti membelok ke kiri atau ke kanan tidak lurus di tengah lajur. Maka polisi kemudian membuntuti kendaraan tersebut dari belakang. Sesekali membunyikan sirenenya memberi kesempatan pengemudi sadar dan menepi dengan aman.

Setelah berhenti, polisi akan tanya SIM dan STNK pengemudi. Lalu dikeluarkan alat penguji kandungan alkohol dalam darah. Pengemudi diminta untuk meniup pipa kecil yang dihubungkan dengan alat pengukur. Pengemudi harus mengambil nafas dalam-dalam kemudian meniup sekuat-kuatnya sampai polisi mengisyaratkan untuk berhenti. Dari udara yang ditiupkan ke alat penguji, polisi bisa tahu kandungan alkohol dalam darah. Jika tidak ada alkohol, urusan selesai dan pengemudi dipersilahkan meneruskan perjalanannya.

Meniup pipa untuk mengukur kandungan alkohol dalam darah. Foto: http://static.skynews.com.au/elements/img/article/638×359/skynews_920446.jpg
Meniupkan nafas meski sudah sekuat tenaga kadang tidak cukup memberikan hasil ukuran sehingga polisi akan meminta meniup kembali sampai alat indikator itu memberi hasil yang akurat. Tidak semua orang punya nafas panjang, sehingga perlu dilakukan berulang-ulang. Kadang tidak berhasil sama sekali diperoleh catatan kandungan alkohol dalam darahnya lewat cara ini. Maka polisi akan memakai jalan lain yakni mempersilahkan pengemudi turun dari mobil dan diminta untuk berjalan lurus sambil membentangkan tangannya. Kalau mabuk biasanya jalannya akan oleng dan tidak lurus.

Selain menghentikan secara random pengemudi perseorangan, polisi juga melakukan random beberapa pengemudi sekaligus. Polisi akan membentuk jalur khusus di pinggir jalan. Beberapa polisi secara serentak akan menguji nafas pengemudi, sebagaimana penulis alami pada hari minggu pagi ini di dekat tempat kerja. Pada hari Minggu karena banyak orang pergi ke pub dan minum alkohol untuk mengisi hari akhir pekannya.

Di balik sebuah tikungan, penulis lihat barikade jalan yang didirikan sepanjang pinggir jalan. Seorang polisi berdiri di tengah jalan dan memberi aba-aba kendaraan datang. Kendaraan yang dipinggirkan sekitar setiap lima mobil secara random. Jadi tidak semua kendaraan yang lewat akan dihentikan.

Ketika disuruh menepi untuk menghentikan kendaraan, penulis merasa biasa saja karena tidak ada yang salah. Maka dengan pelan penulis menepikan mobil. Justru yang paling kesal adalah saat disuruh meniup keras-keras pipa kecil alat pengukur kandungan alkohol dalam darah itu. Pasti disuruh niup lebih dari sekali hingga penulis benar-benar kehabisan nafas. Sungguh suatu keadaan yang tidak nyaman sama sekali. Terengah-engah saat duduk di belakang setir. Pengalaman tidak mengenakkan ini sudah penulis alami beberapa kali. Jadi kesal rasanya.

Setelah memeriksa SIM penulis, polisi itu mengeluarkan alat itu. Melihat alat itu bagai melihat jarum suntiknya pak dokter waktu kecil dulu. Benci sekali.

“Please count to ten,” kata polisi itu sambil menyorongkan alat itu ke depan mulut penulis.

Lho mana pipa kecil sterilnya? Biasanya polisi akan mengeluarkan pipa kecil kayak sedotan es dari tas kecilnya dan membuka bungkus plastiknya. Pipa kecil berwarna putih itu kemudian ditancapkan pada alat pengukur kandungan darah. Kemudian pengemudi dipersilahkan meniup sekuat tenaga pipa itu. Setelah dipakai, pipa itu akan dibuang. Jadi setiap pengemudi memakai pipa baru dan steril. Tapi kali ini kok nggak ada pipanya, pak Polisi?

“one.. two… three… four… five…,” hitung penulis setelah beberapa detik dalam kebingungan. Kok kali ini nggak pakai pipa? Gampang banget? Penulis masih bertanya-tanya dalam hati saat menghitung.

Tapi sebelum penulis selesai menghitung hingga sepuluh, polisi tersebut sudah menarik alatnya. Dan mempersilahkan penulis melanjutkan perjalanan.

“Thank you sir. Have a nice day,” kata polisi itu sopan.

“Thank you. You too officer,” jawab penulis.

Penulis melajukan kendaraan pelan-pelan dan bergabung dengan laju lalu lintas lainnya.

Dalam hati masih bertanya-tanya tentang pipa yang harus ditiup itu. Sejak kapan meniup pipa diganti dengan cuma menghitung? Kok pinter juga. Mereka tahu bahwa tidak semua orang sanggup meniup sekuat yang diharapkan untuk memberikan hasil ukuran maka diganti dengan cara yang lebih mudah.

Tahu kalau semudah itu, sejak tadi penulis nggak perlu merasa mangkel dulu. Bisa sedikit nyantai. Tahu kalau cuma begitu, penulis akan ngitung, “Siji… loro… telu… papat… limo… enem…”

Toh yang diperlukan cuma udara yang keluar dari mulut dan bukan apa artinya? Kalau mau hasil yang lebih akurat, penulis bisa saja nyanyi: “Tak lelo… lelo-lelo ledhung… Cup menenga aja pijer nangis. Anakku… sing ayu rupane. Yen nangis ndak ilang ayune

Iklan