Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari, mobil yang kami tumpangi berjalan melipir dari arah Cikini menuju Jl. Diponegoro. Di sebelah kiri kami berdiri Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, rumah sakit terbesar di Jakarta. Lalu mobil berbelok memasuki kawasan Rumah Sakit, kami bertanya pada salah seorang petugas loket karcis di mana letak kamar jenazah. Ternyata kami salah masuk, kamar jenazahnya berada di luar lingkungan rumah sakit, tepatnya bersisian dengan Fakultas Kedokteran UI. Mobilpun berputar dan kembali melipir jalan Diponegoro terus sampai lampu merah kemudian belok ke kiri ke arah Senen.

Mobil berjalan perlahan, kami takut kebablasan, setelah halte UI kami bertanya pada dua orang laki-laki yang terlihat sedang nongkrong di tepi jalan. “Pak, kamar jenazah RSCM di mana ya ?”teriakku dari dalam mobil. Laki-laki itu tidak menjawab, dia hanya memberi isyarat dengan telunjuknya. Dia mengarahkan kami untuk berbelok ke kiri dan lurus.

Jakarta benar-benar tidak pernah tidur, segala aktifitas masih dikerjakan tengah malam. Ada yang memasang baliho raksasa, menambal jalan raya dan mengaspal jalur feeder bus way. Hanya volume kendaraan saja yang berkurang, tapi itupun tidak membuat pengendara nyaman dan aman. Bayangkan saja pada pukul satu dini hari saat jalan raya lengang malah dijadikan ajang balap liar oleh sebagian anak muda. Jadilah kami yang masih berkendara malam-malam harus lebih hati-hati. Kadang perapatan lampu merah saja dijadikan arena tancap gas. Tanpa menoleh kiri kanan apakah ada kendaraan yang jalan karena lampu di jalur lain masih hijau.

Ah, Jakarta…serba salah melalui jalannya, mau jalan siang atau sore hari macetnya luar biasa, apalagi waktu hari Jum’at kemarin. Hujan berkepanjangan ditambah lagi long week end, jadilah macetnya menjadi semakin macet. Mau cari jalan yang agak longgar yaitu malam hari eeeehhh malah banyak yang ngebut. Begitulah wajah Ibu Kota, semakin tua maka semakin suram saja senyumnya.

Setelah melalui pos pengaman, mobil diarahkan untuk berjalan terus, sampai kami menemukan kamar jenazah. Ada beberapa mobil jenazah yang terpakir di situ dan satu di antaranya berada tepat di depan pintu bertuliskan “tempat semayam jenazah”. Ya…kami hendak menengok jenazah orang tua kami yang meninggal pada pukul 21.00 malam itu juga. Karena jenazahnya akan dimakamkan di luar kota, maka kami harus ngelayat ke kamar jenazah RSCM.

Suasana kesedihan sangat terasa, satu persatu kami bersalaman, berpelukan, berciuman dan sedikit isak tangis kepada kerabat yang hadir. Setelah semua kesedihan tercurah, barulah kami dipersilahkan melihat jasad Ibunda kami yang sudah berada di dalam peti. Kami melakukan do’a dan sholat jenazah, setelah penghormatan terakhir kami berikan, kamipun ke luar ruangan.

Setibanya di luar ruangan, saya melihat ke sekeliling dengan suasana remang-remang. Tiba-tiba saja penglihatan saya tertuju pada tulisan berjalan yang berada di atas pintu ruangan tempat jenazah disemayamkan. Tulisan dari lampu berwarna hijau itu berbunyi “Kami menerima jasa foto, video, voorijder, mobil jenazah, pemulasaran jenazah”. Karena huruf yang tertera itu berjalan pelan maka sayapun membacanya seperti mengeja. Ketika sampai pada kalimat terakhir yang berbunyi “Hati-hati terhadap calo-calo yang berkeliaran, gunakanlah jasa yang resmi”. Kalimat terakhir ini membuat hatiku sedikit geli, padahal sejak berangkat dari rumah air mataku tak terbendung. Mengapa ?

Kembali pada kehidupan malam Jakarta, bagaimana tidak geli, ternyata di tengah musibah keluarga yang sedang berduka masih ada saja oknum-oknum yang berkeliaran meraup rupiah. Mereka dengan sengaja membantu keluarga yang terkena musibah dengan harapan imbalan dan itu tidak sedikit pula. Menurut sumber yang berada di situ, saat saya bertanya mahalnya seberapa untuk setiap jasa ? Dia menjawab rata-rata 200-300 ribu rupiah. Jadi jika keluarga yang kena musibah menggunakan minimal 3 jasa dikalikan 200 ribu, maka imbalan buat para calo tersebut sekitar 600 ribu per keluarga. Nah, kalau yang ditangani minimal 3 keluarga berarti sudah mencapai omset 1 juta 800 ribu rupiah sehari.

Jika dikalikan dalam sebulan, berapa omset yang didapat calo tersebut ? Kebayangkan, bisa melebihi gaji seorang pegawai swasta dengan gaji UMR yang saat ini mencapai 2,4 juta per bulan. Ternyata musibahpun dapat dijadikan ajang meraup rupiah, tak peduli pada perasaan keluarga yang berduka, uang tetaplah uang. Atau bahkan sebaliknya mencari kesempatan dalam kesempitan. Itukah potret Jakarta yang sebenarnya ?

Malam semakin merangkak larut, udara dingin mulai merambati tubuhku, mobil jenazah yang membawa ibunda telah merayap pergi meninggalkan Jakarta. Kota yang hampir 50 tahun lebih dihuninya, tapi untuk merebahkan jasad kakunya, ibu ingin di kota kelahirannya Jogya. Kota yang lebih manusiawi untuk seonggok jasad tua yang kaku dan dingin. Selamat jalan ibu, semoga engkau tenang di sisi Allah…