Cerita hari ini adalah seorang yang gagal jadi sarjana karena suatu alasan, namun yang pasti bukan karena drop out (DO). Sebutlah namanya Catur, dia kuliah mengambil jurusan statistik. Hanya sampai dengan semester 7, dia akhirnya harus meninggalkan teman dan kampusnya.

Mencari pekerjaan, ternyata tidak mudah dengan tanpa bekal ijazah. Mau berusaha jadi pengusaha, tidak punya modal. Mau pulang ke kampung halaman nan jauh, dia malu. Tapi, hidup harus berjalan. Untuk mengirit, dia meninggalkan tempat kos yang lama mencari tempat yang lebih murah. Bertahan hanya beberapa bulan, Catur pun akhirnya numpang kos dengan temannya.

Selama beberapa hari temannya berangkat kuliah, sementara dia menjalani sebagai pengangguran, rasanya salah tingkah juga. Maka, dia pun akhirnya berpikir untuk bekerja apa saja. Maka tersebutlah pilihan kerja informal seadanya: membantu pemilik warung (toko) kelontong dan sembako yang dekat tempat tinggal sementaranya. Jadilah Catur sebagai tukang antar barang-barang kebutuhan sehari-hari warga perumahan itu, yang membeli di toko Alibaba.

Catur pun membuat kesepakatan dengan toko Alibaba, bahwa dia mengantarkan barang dengan sepeda motor ke warga untuk penjualan di atas Rp 100 ribu. Dalam menjalankan pekerjaannya, Catur tak lupa bawa pena, kertas, HP, dan tentu saja bon pembelian dari toko Alibaba. Seluruh nama barang beserta harganya, dia catat detil. Mulai dari catatan nama-nama pelanggan, alamat, laki/perempuan (pak/Bu), besarnya uang belanja, serta barang-barang yang dibeli, termasuk varian-variannya seperti mie instan merek XYZ, jenis-jenis beras, ukuran timbangannya, dan juga sampai merek berasnya tak lepas dari catatannya.

Setelah semua daftar harga dia pegang, maka dia pun memberanikan diri memasang iklan/reklame/pengumuman di sepeda motornya: “Toko Alibaba Melayani Pesan-Antar Sembako, GRATIS. Kirim SMS ke 08123456789.”

Di zaman serba praktis dan serba instan, maka siapapun yang tahu toko Alibaba dan melihat iklan pesan-antar seperti itu, maka akan tertarik. Tinggal kirim SMS, simple sekali. Zaman kini, hampir tak ada ibu rumah tangga perkotaan yang tidak memiliki HP. Akhirnya, pekerjaan pun berlangsung secara lancar dan terus menerus.

Hari-hari Catur mengantarkan barang-barang kebutuhan warga ke para penduduk sekitar kompleks perumahan Pondok Bambu yang masih sekomplek dengan tempat toko Alibaba. Karena kadang Catur mengendarai sepeda motornya sampai ke perumahan tetangga, maka iklan pesan-antar itu pun merambah ke desa/komplek sekitar. Jadinya, pasar (market) Toko Alibaba kian meluas. Sampai-sampai Catur kewalahan. Bila sebelumnya dia hanya kerja hari Senin

Sabtu, akhirnya hari Minggu pun dia bekerja. Untuk hari Minggu dia cuma menerima antaran, sedangkan pesannya hari Sabtu. Kalau pesan hari Minggu akan diantar hari Senin, karena toko Alibaba tutup.

Setiap hari pembelian dan penjualan dicatat oleh Catur. Dia pun rekap setiap minggu. Dia pun kumpulkan semua catatan itu setiap bulan. Hari terus berjalan, bulan terus menyita, dan sampai dia kumpulkan seluruh catatannya dalam waktu 6 bulan. Akhirnya semua catatan manual iu dia kumpulkan dan dicatat memakai komputer dengan cara rental di warnet.

Karena Catur pernah memetik pendidikan statistik, dia kumpulkan seluruh data dalam pengelompokan-pengelompokan. Berdasarkan catatan pesan-pesan yang diterima, Catur dalam waktu 6 bulan mengetahui siapa pelanggan Toko Alibaba yang belanjanya paling besar dari sisi harga (budget besar), siapa yang belanjanya paling banyak dari sisi jumlah barang, siapa yang paling sering belanja tapi budgetnya kecil-kecil. Catur juga bisa mengetahui, jenis-jenis barang yang paling banyak dipesan, makanan yang paling banyak dikonsumsi, bahkan dia bisa membedakan antara RT yang satu dengan RT yang lain, mana yang paling besar belanjanya. Data-data itu dibuatkan dalam bentuk program Excel, statistik dengan memakai grafik garis (line chart), grafik pie (pie chart), dan grafik pagar (bar chart). Pencatatan sesuai dengan kebutuhan untuk kemudahan pembacaan datanya.

Setelah menyusun banyak hal, sebagai anak yang pernah kuliah, Catur pun menceritakan kepada pemilik Toko Alibaba. Dia menyarankan agar stok barang mie instan merek tertentu diperbesar, minyak sayur merek XYZ tidak perlu belanja lagi karena pesanan sedikit, beras merek-merek tertentu dengan ukuran 10 kg diperbanyak karena pesanannya tinggi.

Entah bagaimana, maksud baik tidak selalu berbuah baik. Pemilik toko Alibaba pun tersinggung dan merasa Catur sok tahu dan berlagak menggurui. Mulai hari itu, Catur pun kembali menganggur karena dipecat oleh pemilik Toko Alibaba. Pemilik toko merasa tidak butuh bantuan Catur lagi. Dunia seolah gelap lagi bagi Catur. Dia akan menganggur lagi dalam pikirannya. Untungnya, pemilik toko masih berbaik hati mau membayar upah kerja informal tersebut ke Catur beberapa ratus ribu.

Sejak hari itu, hubungan Catur dengan pemilik Toko Alibaba putus. Catur tak menduga catatan-catatan yang dia sampaikan dengan maksud untuk membantu tulus “juragannya”, berbuah pemecatan dirinya. Namun, Catur tidak menyangka bahwa hubungan dia dengan pelanggan Toko Alibaba yang biasa memesan padanya, terus berjalan.

Hari sejak dia dipecat oleh pemilik toko, order barang terus mengalir ke HP-nya. Semula dia bingung bagaimana harus menjawabnya. Tapi dia tidak mau mengecewakan pelanggannya. Maka Catur pun tetap melayaninya dengan membelanjakan berbekal uang upah yang diterimanya.

Tapi, rupanya ordernya banyak sekali hari itu. Upahnya tidak cukup untuk melayani order sebanyak itu. Dengan terus terang dia minta ke beberapa pelanggan yang dikenalnya baik, untuk membayar lebih di muka sebelum barang diantar. Akhirnya, Catur pun secara tak langsung mendapatkan modal belanja.

Singkat kata, Catur akhirnya tetap setia melayani pelanggan. Dia tidak perlu membuat toko tersendiri di pinggir jalan, tapi hanya memiliki sebuah tempat gudang untuk menyimpan barang-barang kebutuhan sehari-hari (sembako). Jadilah, Catur memiliki usaha khusus pesan antar barang kebutuhan sehari-hari (sembako).

Belajar dari cerita Catur di atas, maka dalam menjalankan kegiatan, sekecil apapun jangan meremehkan riset dan data. Dari sini bisa ketahui the power of data. Dengan data Anda bisa lebih cepat mengakselerasi usaha. Apapun bisnis atau usaha Anda.