Rentetan gempa bumi yang melanda Nangroe Aceh Darussalam (NAD) menimbulkan kerusakan dan korban meninggal di sejumlah daerah. Pemerintah pun langsung bergerak cepat dengan mengirimkan bantuan yang totalnya mencapai Rp 1,04 triliun. Bantuan tersebut berupa pangan, sandang, dan perlengkapan sehari-hari. “Hingga sekarang Kementerian Sosial (Kemensos) sudah mengirimkan berbagai macam barang untuk membantu korban gempa Aceh,” kata Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri di Jakarta, Kamis (12/4).

Data dari Kemensos, bantuan yang sudah dikirimkan di antaranya makanan siap saji 2.000 paket senilai Rp 97. 076.000, mie instan 1.540 bungkus senilai Rp 61.600.000, kids ware 700 paket senilai Rp 275.347.100, food ware 700 paket senilai Rp 225.190.000, family kit 900 paket senilai Rp 214.053, peralatan keluarga 800 set senilai Rp 191.400.000. Kemudian, bantuan lauk pauk berupa sarden 28.000 kg senilai Rp 125.832.000, kecap manis 4.800 botol Rp 15.811.200, sambal pedas 4.800 botol senilai Rp 17.736.000, minyak goreng 800 botol senilai Rp 23.109.600.

Selanjutnya bantuan sandang berupa kain sarung 700 potong senilai Rp 28.350.000, kain batik 700 potong senilai Rp 19.810.000, kaos 700 potong Rp 15. 225.000, daster 700 potong Rp 15.750.000, selimut 1.000 potong Rp 24.500.000, seragam SD untuk laki-laki 700 potong senilai Rp 38.255.000, seragam SD perempuan Rp 38.633.800. Menurut Salim, pihaknya langsung melakukan berbagai langkah antisipasi dan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk seluruh dinas sosial provinsi, dan kabupaten/kota yang terkena bencana. Dampak gempa berkekuatan 8,5 SR pukul 15.38 WIB, Rabu (11/4) di Simeuleu itu dirasakan di lima provinsi, yaitu NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Lampung.

“Sekarang kondisinya berangsur membaik. Kami telah menyerahkan penanganan bencana ke pemda setempat. Perkembangan terakhir yang dipantau di lima titik bencana di wilayah Aceh dan Sumatera, hanya ada satu korban jiwa meninggal dunia, karena syok dan terkena serangan jantung,” jelas politisi dari PKS tersebut. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dan Kerajaan Oman ini menambahkan, gempa sekarang ini berbeda dengan bencana serupa pada 2004 lalu. Akibat trauma, beberapa warga mengalami syok berat. Jadi sekarang penanganannya tinggal pemulihan trauma. Untuk pemulihan kondisi kejiwaannya, ada banyak pekerja sosial yang akan membantu.

“Kondisi terakhir gempa dua titik yang dekat dengan lokasi gempa, yaitu Simeuleu dan Meulaboh, Aceh. Bangunan rumah dan fasilitas tidak banyak mengalami kerusakan berat. Beberapa luka ringan dan hanya ada satu orang luka berat. Taruna Siaga Bencana (Tagana) sudah kami kerahkan. Di Aceh ada 1.103 orang, Sumut 800 orang, Sumbar 1.200 orang, Bengkulu 425 orang, dan Lampung 630 orang,” ujarnya.

Ia melanjutkan, buffer stock atau persediaan barang sudah pula dikirim ke daerah bencana. Tiap kabupaten sudah memiliki buffer stock seperti beras, sandang, dan pangan.

“Sejauh ini keadaan semakin normal. Meski masyarakat di sana masih trauma karena takut seperti tsunami pada 2004 lalu. Tapi, kondisi sekarang biasa-biasa aja, sedangkan sudah dapat dikendalikan ketakutan masyarakat di sana,” ujarnya. (cdl/JPPN)

Sumber: http://www.dakwatuna.com | 13/4/2012 | 21 Jumada al-Ula 1433 H