Langit malam yang mendung diikuti suara gemuruh angin menjadi latar suasana desa Soimun. Seorang guru sekolah dasar di pedalaman negeri ini. Dia sedang asyik duduk pada sebuah kursi reyot di ruang tamu, dengan meja kecil dan vas bunga dari bambu yang ia buat bersama murid-muridnya.

Matanya terus tertuju pada sebuah figura. Seorang lelaki tampak tersenyum, itu bukan dirinya. Wajah Soimun terlihat lelah. Ia sudah mengajar anak-anak penangkap ikan itu hampir setiap hari. Kecuali hari minggu. Ia benar-benar sangat lelah hari ini.

Ia berjalan menuju dapur mungilnya dengan sendal jepit hijau yang sudah mulai memudar warnanya. Ia membuka lemari, lalu mengambil dua buah toples bertuliskan kopi dan satu lagi bertuliskan gula. Tangannya kemudian meraih gelas, sendok dan termos.

“Kosong. Aku lupa memasak air.” Ucapnya setelah merasakan betapa ringan termos yang ada di tangannya.

Ia kemudian menyalakan kompor minyak dan menaruh panci yang penuh dengan air di atasnya. Ia baru menyadari semua piringnya masih menumpuk sejak kemarin malam.

“Aku bahkan belum sempat mencuci piring.” Katanya sambil mulai membersihkan piring-piringnya dengan sabun colek yang sudah mulai mengeras.

Air sudah mendidih, ia segera menakar kopi dan gula ke dalam gelas lalu menuangkan air ke dalamnya. Ia duduk mendekati meja makan, ia ingat belum memakan singkong goreng pemberian tetangganya sore tadi.

Perutnya sudah terisi. Hujan mulai memunculkan sederet nada pada seng atap rumahnya diikuti petir yang ikut meramaikan malam. Ia mengunci semua pintu dan jendela rumahnya, lalu mematikan bola lampu lima watt di ruang tamu dan dapur. Sedangkan ruang makan ia biarkan menyala, karena malam nanti biasanya ia bangun lalu meminum air putih yang ada di bawah tudung saji.

Mulanya ia berniat untuk tidur lebih awal. Kemudian ia berkata “tidak”, setelah kepalanya menoleh pada sebuah buku kumpulan puisi Chairil Anwar, dkk. Hatinya tergerak untuk membaca kembali buku karya pahlawannya. Pahlawan yang mendorongnya mengabdi pada negara.

Ia membuka halaman pertama dan mulai membaca karya Chairil Anwar berjudul “Aku”. Puisi yang tidak akan hilang sampai kapan pun, kemudian “Karawang-Bekasi”. Soimun larut dalam setiap halaman buku yang ia baca. Penglihatannya mulai meredup, namun hasratnya untuk terus bertemu dengan sang penyair semakin kuat.

Hawa dingin yang terbawa hujan terus menggerogoti temperatur tubuhnya. Ia membutuhkan sebuah jaket tebal. Ia mengunyah kata demi kata dalam setiap halaman. Menyimpannya dengan rapi dalam memori yang kian hari semakin sulit untuk mengingat apa pun di dunia ini.

Waktu malam sudah berakhir. Jam di dinding menunjukan pukul dua pagi. Aneh. Sekarang ia tidak lagi merasakan kantuk yang sedari tadi menyerangnya. Dan suara hujan yang menemani Soimun perlahan-lahan berubah menjadi suara deru mesin kendaraan.

Kursi kayu yang ia duduki bukan lagi sebuah kursi usang, melainkan bangku panjang pada sebuah truk besar milik tentara Indonesia. Ia memandang sekeliling. Soimun masih merasa aneh dan bingung. Namun perasaannya mengatakan mereka yang sama-sama duduk bersama adalah rekan seperjuangan.

“Mereka juga rekanku.” Ucapnya sambil memandang tentara dengan tubuh, dan wajah biru memucat. Ia bisa mendengar mayat-mayat yang masih bercakap-cakap.

“Apa kita telah gugur lebih dulu? Mengapa tubuh kita tidak bisa digerakkan?” tanya tentara dengan wajah biru pucat sambil terus mencoba menggerakan tubuh mereka.

“Iya, kalian telah menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia.” Jawab Soimun memandang mereka, para pahlawan.

“Jika benar begitu, jangan biarkan kami mati dengan sia-sia lanjutkan perjuangan kami. Kami hanya bisa membantu melalui do’a yang akan kami panjatkan kepada Tuhan”

Mereka berpamitan dengan gejolak perjuangan yang terus membara. Kemudian menaiki tangga yang telah Tuhan persiapkan. Tubuh mereka bersinar ketika menaiki tangga pertama. Sinar mereka semakin terpancar saat mereka terus menaiki tangga itu satu per satu.

Bersinar. Semakin bersinar, terus bersinar hingga akhirnya kami dibutakan dengan kilau cahayanya yang teramat cemerlang.

“Tuhan sungguh memuliakan para pahlawan.” Kata Soimun.

Soimun menutup matanya, ia tidak mampu memandang cahaya yang sungguh terlalu menyilaukan. Ia terus menutup matanya hingga gelap kembali menghias pandangannya. Ia membuka mata. Masih di dalam truk yang sama. Ia kaget, semua rekannya turun dari truk.

Dan akhirnya Soimun bukan lagi tentara biasa melainkan tentara kemerdekaan, karena kemarin ia telah berjuang mempertaruhkan kematian merebut kebebasan negeri bersama para pejuang.

Dan kini di pagi buta telah kami siapkan upacara kemerdekaan. Soimun duduk di bawah pohon rindang. Tidak disangka. Dua penyair yang ia kagumi menyapanya.

“Chairil Anwar? Taufiq Ismail?” tanya Soimun.

“Bukankah hari ini lagu “Indonesia Raya” akan dinyanyikan?” tanya Chairil Anwar.

“Iya benar sekali.” Jawabnya bersemangat.

“W.R Supratman adalah pahlawan, tanpanya kita tidak memiliki lagu kebangsaan.” Chairil Anwar berucap, namun bagi Soimun ini adalah sebuah syair.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Benar?” tanya Taufiq Ismail.

“Iya benar.” Jawab Soimun dengan penuh semangat.

“Kami memiliki permintaan, bisakah kau membantu?” Taufiq Ismail bertanya lagi.

“Tentu saja, selagi saya bisa melakukannya.”

“Kemarin, seorang anak bertanya. Apakah ayahku akan pulang? Aku tidak tahu. Jadi permintaan kami, tuliskan dan kenang semua pahlawan dalam setiap detak jantung bangsa dari jabatan Jendral hingga rakyat jelata. Agar semua anak yang ayahnya gugur di medan perang tidak lagi menangis. Serta ciptakan dan bangkitkan para pejuang baru yang rela berkorban demi negara bukan harta.” Chairil Anwar dan Taufiq Ismail mengakhiri kalimat mereka.

“Baik. Saya akan melaksanakannya.” Jawab Soimun tegas layaknya tentara.

“Dan sekarang, bangunlah. Wujudkan semua impian anak-anak negeri kepulauan.”

Soimun tercengang. Bangun? Bangun dari duduk. Atau bangun memperbaiki negeri? Ia bingung ia menutup matanya. Menarik nafas dalam-dalam, lalu mengerjapkan matanya berulang-ulang.

Pemandangan sekelilingnya mulai berubah, menjadi sebuah kamar tidur yang telah ia kenal dua tahun silam.

“Aku telah bertemu Taufiq Ismail dan Chairil Anwar melalui sajak.” Ucap Soimun penuh semangat.

Ia kemudian mulai menepati janjinya pada penyair kemerdekaan.

Janji kepada para pahlawan.

No.75 Nur Laelasari

Nb : Untuk membaca karya peserta lain silahkan menuju akun Fiksiana Community

Silahkan bergabung di FB Fiksiana Community
http://www.facebook.com/groups/175201439229892/