Ditulis oleh: Ki Suki, No. 11
Semua nama dan lokasi adalah fiksi semata.

Foto diambil dari diodrama di Museum Tugu Pahlawan Surabaya

Pagi itu Sobar, seorang pemuda di gang Kapasan, berlari-lari menemui temannya sambil membawa selembar kertas.

“Rek, Iki piye rek?” Sobar bertanya kepada teman-temannya di kampung Kapasan.

“Opo’o Bar?” Para pemuda yang cangkruk di gang-gang kecil itu bertanya kepada Sobar.

“Iki lho!” Sobar memberikan selembar kertas.

“Wah! Gawat iki!!” Para pemuda gang Kapasan mengerutkan dahi setelah membaca lembaran yang ternyata ultimatum.

“Mosok awak dewe dikongkon nyerahno senjata. Londo edan!” Sahut Paimo sambil menenteng bedil karatan di tangan kanannya.

“Dudu Londo. Inggris iku Cak Mo.” Timpal Kokom mencoba membenarkan.

“Yo mbuh lah, arep Londo, arep Londo Inggris, arep Londo Jepang, awak dewe gak terimo nek dikongkon nyerahno senjata.” Paimo tetap dengan pendiriannya.

“Setuju!!!” Semua mengangkat tangan pertanda sepakat dengan apa yang dikatakan Sobar. Masak sudah proklamasi kok malah disuruh menyerahkan senjata. Sebuah negara berdaulat tidak layak diperintah-perintah oleh negara lain.

“Cak Sobar, aku moco jarene ono Jendral Inggris sing ditembak mati karo pemuda Suroboyo. Bener tah?”

Saidi yang dikenal pintar mencoba mencari informasi tambahan tentang ultimatum itu.

“Iyo. Jarene wong-wong nang pos Bubutan yo ngono. Aku dewe nggak weruh.”

Jawab Sobar.

“Laopo sih atek nembak-nembak wong durung ono perintah.”

“Wis ta lah. Mbuh iku Jendral Londo opo Jendral Londo Inggris, nek wani gaya menteng kelek nang Suroboyo, yo wis pantes nek ditembak.” Jawab Paimo dengan semangatnya. Paimo memang terkenal bonek (bondo nekad).

Yang lain mengiyakan pendapat Paimo. Tidak selayaknya tentara Inggris menginjakkan kaki di tanah Indonesia. Negara yang sudah memproklamirkan kemerdekaannya. Lebih-lebih menginjakkan kaki dengan membawa pasukan seolah-olah mau menyerbu.

“Aku krungu soko konco nang pos Bubutan, nang burine tentara Inggris iku ono tentara Londo.” Kata Sobar mencoba membuka kembali pembicaraan setelah siraman semangat dari Paimo.

“Aku yo krungu soko konco-konco nang pos Pandegiling.” Sahut Kokom.

“Wah, nek ngono pancen Londo arep nggolek goro-goro nang Suroboyo.” Sahut Saidi.

“Bener kan! Londo iku pancen penjajah. Londo Inggris iku podo wae.” Timpal Paimo geram. Ya! Semua yang mendengar geram dengan tindakan pengecut semacam itu. Tidak hanya pemuda gang Kapasan saja yang geram dengan kedatangan tentara Inggris yang ternyata ditunggangi Belanda.

“Terus awak dewe laopo iki?” Tanya Sobar kepada teman-temannya.

“Yo gak terimo lah. Nek perlu tentara Londo Inggris iku tak sobek-sobek.” Jawab Paimo.

“Bener! Awak dewe gak terimo!”

Pemuda-pemuda gang Kapasan memang kompak. Mereka akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan diri dari serangan yang katanya akan dilancarkan dari darat, laut dan udara.

“Tapi ojo maju dewe-dewe yo. Ngenteni berita soko radio. Cak Tomo jarene arep siaran.” Kata Sobar.

“Iyo rek! Asyik iso nonton Cak Tomo nang radio. Aku koyo mari ngombe multivitamin nek wis mari ngrungokno Cak Tomo ngomong.” Sahut Paimo.

“Multivitamin iku opo Mo?” Tanya Kokom.

“Waduh koen norak banget. Mosok Multivitamin wae gak ngerti… multivitamin iku wedang kopi dicampur jahe karo telor.”

Wakakakakakakak! Semuanya terbahak. Pemuda-pemuda gang Kapasan sudah hapal dengan kelakuan Paimo kalau dengerin radio yaitu ngorok. Jadi multivitamin itu ya ngorok sekeras-kerasnya.

Tanggal 9 Nopember 1945 malam. Malam ini pemuda-pemuda gang Kapasan bersama semua lapisan masyarakat berkumpul untuk mendengarkan radio. Mereka menunggu pidato dari cak Tomo. Dan benar, akhirnya mereka bisa mendengar pidato cak Tomo yang dikenal sebagai pemersatu pemuda-pemuda di Surabaya.

“….. Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah, yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu pula tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga….”

Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!

Ucapan cak Tomo menggugah semangat pemuda-pemuda di gang Kapasan. Paimo terlihat paling semangat, mungkin karena sudah minum multivitamin.

“…. Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!”

Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!

Pekik sorak membahana di seantero gang Kapasan. Mereka serentak berdiri. Mengepalkan tangan ke atas pertanda mereka semua siap menghadapi gempuran musuh darimanapun juga. Tidak perduli apakah mereka punya bedil atau hanya pisau dapur bahkan ketapel, mereka akan maju bersama. Besok mereka akan tunjukkan pada dunia bahwa arek-arek Surabaya siap mengukir sejarah. Demi sebuah kemerdekaan.

Merdeka!!!