Inilah kisah yang semua orang di Kerajaan Banten tahu, namun mereka diam dan hanya mengelus dada. Inilah kisah yang sungguh menyayat hati.

“Ini terakhir kalinya kamu menikmati perempuan!” teriak Ratu Banten itu sambil menjambak orang yang berdiri di sampingnya, di dalam lift yang bergerak turun.

Mereka kedapatan berdua berada di dalam lift. Ratu Banten itu secara tak sengaja mendapatinya sedang bermesraan dengan seseorang.

“Kamu akan aku bawa ke penjara!” teriak Ratu dengan geram sambil menonjok muka orang yang memegang tas tangan berlogo Hermes itu.

Dia terdiam.

Dua orang pasangan itu terdiam – salah satunya adalah Tomas. Di dalam lift itu.

Sejak kedapatan berselingkuh dengan sekretarisnya, dia benar-benar mengalami kehidupan yang sangat berubah. Kini kebiasaan berduaan dengan pasangan itu hilang. Tak ada lagi canda dan tawa renyah. Yang ada adalah kepedihan hati.

Ratu pun tak pernah mengajak pasangannya ke mana pun dia pergi, baik dinas maupun pesiar keluar negeri.

“Sejak saat ini kamu kalau pergi harus dengan sopir!” teriaknya.

Dia terdiam. Dia terpaku melihat wajah licin pasangan itu yang terpampang di seluruh wilayah Banten. Dia hanya meratapi saja. Dia teringat kampung halamannya di Bandung sana.

“Dan sopir yang aku tentukan dan berganti setiap hari!” tambahnya.

Dia tetap terdiam.

“Dan, mobil yang aku kasih Land Cruiser ini juga aku pasangi GPS dan juga kilometernya aku awasi. Kamu juga harus sudah pulang ke rumah jam lima sore!” teriaknya.

Dia tetap diam membisu. Berkecamuk penyesalan terkait hubungannya dengan kekasihnya. Dia ingat keindahan dan kemesraan yang terjalin di kantor. Selama beberapa tahun sejak sebelum pasangannya menjadi Ratu dan ketika masih menjadi anggota DPRD Banten sampai terakhir menjadi anggota DPR, pasangan kekasih gelap-terang itu sangat berbahagia.

Dia ingat ketika mereka pergi ke Bangka, ketika Ratu bertugas menemui Djoko S Tjandra di Singapura pada tahun 2004 – jauh sebelum buronon kasus cessie Bank Bali itu melarikan diri dan tinggal di Singapura. Djoko Tjandra sendiri adalah koruptor. Sampai sekarang Djoko Tjandra tak membayar denda Rp 20 miliar terkait izin mendirikan bangunan Hotel Mulia Senayan. Izin mendirikan Hotel Mulia adalah 19 lantai namun Djoko Sugiarto Tjandra membangun 40 lantai. Kini Hotel Mulia selalu membayar upeti kepada Pemda DKI setiap bulan bertahun-tahun sejak 1996. Jokowi-Ahok harus mengusut kasus ini yang meninabobokkan para pejabat Pemda DKI.

“Dan, aku akan kasih kamu uang makan dan bensin Rp 200,000 per hari. Tak lebih dan tak kurang. Plus bon-nya kamu kasih ke sopir. Kartu kredit aku kasih namun limitnya cuma Rp 3 juta. Dan laporannya kamu kirim ke kantor gubernur!” teriaknya sambil melempar dua lembar uang pecahan Rp 100 ribu.

Dia tetap terdiam.

“Dan selingkuhan kamu aku akan kirim ke penjara. Dipecat dari posisinya! Aku lebih berkuasa dari siapapun! Aku anak jawara Banten!” teriaknya sambil menendang pantatnya.

Dia tetap terdiam.

Tujuh tahun berlalu. Pasangan selingkuh telah keluar dari penjara. Namun beberapa bulan lalu meninggal dunia dengan keluhan khas orang disantet. Perut begah dan sakit. Kaki gatal dan bengkak. Kepala berputar dan pusing. Ketika dibawa ke dokter tak ditemukan penyakit apapun!

Kejadian tujuh tahun lalu itulah yang membuatnya tertekan secara lahir dan batin. Semua orang tahu bahwa Ratu Banten ini sangat berkuasa. Bahkan rumput pun akan tunduk dan patuh kepadanya. Semua orang di Banten adalah kroni dan menjadi bawahan dan budak darinya. Kejadian itu telah mengubah kebiasaannya. Kini dia lebih banyak menghabiskan uang ratusan juta bahkan miliaran rupiah untuk belanja di dalam dan luar negeri.

“Dan aku akan santet kamu!” katanya.

Dia tetap terdiam.

“Aku anak jawara dan bisa mengerahkan semua orang pintar dari mulai kiai sampai dukun. Bahkan dukun yang palsu pun aku bisa kirimkan untuk kamu. Untuk menindak kamu! Kamu tak tahu diri!” teriaknya sambil melempar botol Champagne yang baru dibeli dari Paris.

“Kalau ayahmu meninggal tak akan lama kamu akan jatuh karena kekuatanmu ada pada ayahmu!” sahutnya sekali.

“Apa? Bapakku tak sekuat aku! Aku titasan dua darah Jawa dan Pandeglang dari istri ketujuh. Maka aku memiliki kekuatan tak terbayangkan oleh siapapun. Apapun yang aku mau akan tercapai! Bahkan kehidupanmu pun menjadi bagian dari permainanku! Apalagi?” teriaknya sambil menendang pantatnya.

Dia terdiam.

Tahun lalu ayahnya meninggal.

“Kamu menyumpahi aku ya?” teriak Ratu Banten sambil menendang pintu dengan sepatu boot H khas Korea.

Dia terdiam.

“Tahun depan giliran kamu!” teriaknya.

Benar.

Dia terdiam. Namun diam kali ini berbeda. Sejak kemarin dia terdiam untuk selamanya dan beristirahat di Ciomas, Sukabumi, Jawa Barat.

Inilah catatan tentang istri dan Ratu Banten dan cinta segitiga, atau setelah kejadian tujuh tahun lalu, menjadi cinta segi sepuluh untuk Ratu. Semua itu yang akhirnya menghancurkan Dinasti Kerajaan Banten.

KPK – kredibilitasnya dipertaruhkan karena kekuatan Ratu sedemikian hebat terutama jaringan koneksi partai dan kekuatan uang serta gurita kroni yang susah diurai – tetap akan merangsek ke segala penjuru dan memburu KKN dan korupsi di Kerajaan Banten meskipun dia telah terdiam di Ciomas Sukabumi sana.

Salam bahagia ala saya.