Bangun tidur minum air Aqua, sahamnya milik Danone perusahaan Perancis. Lantas mandi pakai sabun Lux dan sikat gigi dengan Pepsodent, perusahaannya milik Unilever dari Inggris. Selesai sarapan, menikmati rokok Sampoerna Mild, sahamnya milik Philip Moris dari Amerika Serikat.

Berangkat kerja pakai Toyota Innova, juga milik perusahaan Jepang. Di kantor, minum Teh Sariwangi, sahamnya milik Unilever perusahaan Inggris. Pulang ke rumah, minum susu SGM supaya hidup sehat, sahamnya milik perusahaan Numico dari Belanda.

Mau telpon, BBM, Whatssup, dan browsing Kompasiana juga pakai pulsa yang sudah dikuasai asing, Telkomsel dari SingTel Singapura, XL Axiata dari Malaysia, Indosat dari Qatar.

Setiap tanggal muda, belanja keperluan rumah bareng istri ke Carefour, perusahaannya milik Perancis. Belanja di Hero juga sama saja, punya perusahaan Dairy Farm Internasional dari Malaysia. Ke tempat lain juga sama saja, Alfamart punya Prancis, Giant punya Hongkong, Superindo punya Belgia, LotteMart punya Korea.

Mau belanja di Mini Market macam Circle K, juga milik perusahaan Amerika. Ingin santai malam mingguan nongkrong di 7Eleven, punya perusahaan Jepang.

Mau renovasi rumah pakai Semen
Tiga Roda atau Indocement, sahamnya milik perusahaan Heidelberg dari Jerman. Pakai Semen Gresik juga sama saja, pemiliknya perusahaan Cemex dari Mexico. Pakai semen Cibinong pun juga begitu, punya Holcim dari Swiss.

Mau nabung uang di Bank dengan bunga yang menarik, namun rata-rata Perbankan macam begitu di Indonesia dikuasai asing, Bank Commonwealth, Bank ANZ, Bank UOB, HSBC, Bank OCBC, City Bank, dan masih banyak lagi.

Lantas bangsa ini bisanya apa? Di sektor Perbankan kita hanya bisa jadi Debt Collector alias tukang tagih hutang. Di sektor Pertambangan, kita hanya bisa jadi kuli gali tanah. Di sektor Komunikasi, kita hanya jadi tukang jual pulsa elektrik di terminal dan pasar. Di sektor Perkebunan, kita hanya mampu jadi kuli cangkul dan kuli petik.

Di sektor perekonomian, kita hanya mampu hutang sana sini di luar negeri, setiap tahun gali lobang tutup lobang. Di sektor automotive, Mobil Nasional Timor kita sudah almarhum. Di sektor Hankam, kita hanya mampu beli alutista barang bekas dari negara lain. Di sektor IT dan Internet, kita hanya mampu Pertamax, menyimak gan, dan cekakak cekikik wkwkwk.

Masih sanggupkah kita memperingati hari Pahlawan dan menyanyikan lagu “Pada Mu Negeri” dengan wajah bangga dan dada yang tegap membusung, atau justru haruskah kita tertunduk malu tanpa harga diri?