Aku rindu masa-masa ketika kita berdua masing-masing menggendong ransel, berjalan bersama. Menyusuri sepanjang Kuala Lumpur dan Melaka. Menaiki lembah bernuansa Jepang dan Perancis. Memuaskan dahaga akan pengalaman baru hingga letih mendera, hingga tak kuasa mengangkat pantat dari bangku kereta.
Aku rindu hari-hari ketika kamu tidur seperti batu, sedangkan aku terbangun setiap jam sekali, ketika langkah kaki yang berisik melintas di depan pintu kamarku. Lalu, setelah sarapan, di food court murah dekat masjid India, yang aku sulit cocok dengan rasa masakannya, kita akan mulai membahas, ‘Hendak kemana kita hari ini?’ ‘Sudah keringkah sepatu yang kemarin basah?’ Melewati deretan kain sari warna-warni, kita memulai perjalanan kembali.
Kadang kita bertengkar tentang apakah kita harus naik bus atau kereta, apakah kita akan makan siang di sini atau di sana. Belum lagi kalau anak manja ini mengeluh ini dan itu. Namun, bukankah pertengkaran yang membawa pemahaman yang mendekatkan kita?
Terimakasih telah sukses membawaku melewati perjalanan yang dulu mustahil akan kujalani. Terimakasih telah berhasil mengajariku kunci memandang tegar hidup yang serba tidak sempurna: menikmati segala sesuatunya, optimis, berpikir positif, dan berdoa.
Aku berdoa semoga Tuhan berkenan mendamparkan kita berdua ke tempat-tempat yang selama ini hanya tergambar dalam benak.
Orang-orang lalu lalang. Aku duduk bersandar,menunggu pesawat yang akan membawaku pulang.
Bepergian tidak harus selalu untuk mengejar pengalaman baru, mencari teman baru, atau mengabadikan tempat dan peristiwa dalam megapiksel. Bepergian mengajari kita untuk bersyukur, bahwa selalu ada yang membantu saat kita kesulitan, masih ada rumah tempat kita pulang, dan ditunggu oleh orang-orang yang kita sayang