Aku selalu menyukai nogosari. Kue kukus dibungkus daun pisang yang terbuat dari tepung beras berisi sepotong pisang itu sungguh-sungguh membuatku tergila-gila. Tidak boleh tidak, tiap hari harus ada nogosari di meja makan. Itu pun bukan sembarang nogosari, tapi harus nogosari yang dibuat dan dijual Lik Ngat.

Bulik Ngatminem adalah perempuan cantik yang menjual aneka kue basah keliling kampung. Sebagian kue yang dijualnya adalah hasil olahannya sendiri. Buatku, yang paling istimewa dari hasil tangan Lik Ngat adalah nogosarinya itu. Pulen, legit, pisangnya selalu manis, tak pernah berbau apek seperti nogosari yang pernah dibeli Ibu di pasar.

Aku tak tahu apakah aku memang cinta mati pada nogosari Lik Ngat ataukah pada Anggoro, anak semata wayang Lik Ngat. Anak laki-laki yang 2 tahun lebih tua daripada aku itu sebenarnya adalah kakak kelasku. Sejak SD sampai SMA. Tapi aku nyaris tak pernah bertegur sapa dengannya. Dia terlalu pendiam. Mungkin juga minder karena ibunya cuma seorang pedagang kue keliling. Cuma? Oh… Aku jauh lebih menghargai profesi Lik Ngat daripada perempuan pengemis yang hobi sekali datang ke kampungku. Kerjanya cuma minta-minta sambil menggendong bayi. Entah bayi siapa.

Ketika aku harus menyelesaikan kuliahku di Jogja, aku sangat kehilangan nogosari Lik Ngat. Aku pernah mencoba membeli nogosari pada seorang penjual kue di dekat kampusku. Tapi aku kapok. Rasanya tak pernah sama dengan nogosari buatan Lik Ngat.

Tapi aku masih bisa menikmati nogosari Lik Ngat. Bapak selalu membelikanku nogosari Lik Ngat tiap kali aku liburan dan pulang ke rumah. Ibu sudah tiada. Hanya ada Bapak dan Johan, adikku satu-satunya. Johan baru masuk SMP ketika aku masuk kuliah, dan Ibu pergi setahun kemudian, setahun yang lalu. Serangan jantung.

“Ning Alin! Beli nogosari ndak?”

Aku segera melesat ke teras. Lik Ngat menyambutku dengan senyumnya yang manis.

“Ndak mau kue yang lain?” senyum Lik Ngat melebar.

Aku menggeleng. “Lima aja, Lik.”

Dan Lik Ngat memberiku enam buah nogosari. Dia hanya tersenyum ketika aku protes.

“Sudah… Ndak usah protes, Ning. Nanti ilang ayunya lho…”

Mau tak mau aku tertawa. Sambil mengucapkan terima kasih.

“Lik, besok aku sisain nogosari sama kue cucur ya?” ucapku.

Lik Ngat menatapku dengan mata berbinar.

“Bulik besok libur, Ning. Mau ke wisudanya Anggoro.”

Mataku membulat. “Wah! Mas Anggoro wisuda besok?”

Lik Ngat menatapku dengan mata makin bercahaya. “Dapat hukum laut, Ning.”

“Hah?” Aku benar-benar tak mengerti maksud Lik Ngat.

“Itu lho, Ning, yang paling pinter itu lho, apa namanya? Hukum laut atau apa gitu…”

“Oh…,” aku terbahak. “Cum laude, Lik, bukan hukum laut.”

Lik Ngat tersipu. ” Ya itulah, Bulik ndak ngerti namanya.”

“Selamat ya, Lik,” ucapku tulus. “Titip salam buat Mas Anggoro.”

Bulik masih menatapku dengan senyum di bibirnya. Tapi perasaanku bilang ada yang aneh dalam tatapan mata Lik Ngat kali ini. Hanya saja apa, aku tidak tahu.

* * *

Pagi-pagi Tria sudah menjemputku. Dia mengajakku ke acara wisuda Mbak Nunil, kakaknya. Hah! Tentu saja aku mau! Karena acara itu adalah wisuda yang sama dengan wisuda Anggoro. Aku tak tahu ada apa dengan hatiku. Hanya saja ada rasa begitu kuat untuk datang dan melihat wisuda Anggoro.

Halaman depan aula besar itu sudah mirip lautan manusia. Aku menggenggam lengan Tria erat-erat. Takut hilang. Ini bukan kampusku. Aku tak mengenal sama sekali lekuk likunya. Tria yang tahu, karena dia kuliah di sini.

Sekilas aku melihat sosok Lik Ngat sedang berdiri di suatu tempat. Tapi aku tak bisa mendekatinya. Tria menerobos ke sana kemari untuk menemukan Mbak Nunil.

“Tria!”

Tria dan aku sama-sama menoleh ketika mendengar teriakan itu. Mas Danet, kakak Tria juga, adik Mbak Nunil, melambai-lambaikan tangannya. Wajah Mas Danet secerah mentari pagi ketika tatapannya jatuh ke arahku. Ya ya ya… Aku tahu. Sudah lama dia jatuh hati padaku. Tapi aku belum memberinya harapan. Bagaimana harapan itu bisa kuberikan padanya kalau aku tahu hatiku sudah memimpikan Anggoro sejak dahulu kala?

Aku mengedikkan bahu tanpa sadar. Tepat ketika aku menangkap kelebat seseorang yang kukenal betul. Membuatku serta-merta melepaskan cengkeramanku pada lengan Tria. Aku mengejarnya. Laki-laki itu.

“Pak! Bapak!”

Dia menoleh. Seketika kulihat wajahnya memias. Aku mendekatinya.

“Lho, kemarin Bapak bilang mau tugas ke Madiun? Kok ada di sini?”

Bapak hanya menatapku pasrah. Dalam roman wajahnya tak ada jawaban. Dan aku sungguh tak mengerti ketika Lik Ngat muncul dari balik tubuh Bapak. Menatapku dengan kekhawatiran bertumpuk.

“Ada apa ini?” kuburu Bapak dengan pertanyaan itu.

“Lin, nanti akan Bapak jelaskan di rumah,” jawab Bapak dengan suara bergetar. “Bapak mau masuk dulu. Itu, masmu mau wisuda.”

Masku? Siapa?

Tanya yang berdesakan dalam otakku itu rupanya didengar Bapak. Ya, tentu saja! Karena aku mengucapkannya dengan suara keras.

“Anggoro,” ucap Bapak, nyaris berbisik. “Dia masmu, anak Bapak.”

Seketika bumi berputar di sekelilingku. Entah siapa yang menangkap tubuhku ketika aku jatuh dalam kegelapan yang begitu rapat kelamnya.

Lalu aku melihat sedikit cahaya itu. Makin terang. Makin jelas. Dan Ibu berdiri di sana. Menatapku sedih.

“Sekarang kamu tahu kenapa jantungku berhenti mendadak, Nduk… Karena pengakuan bapakmu… Titip Johan ya, Nduk…”

Aku hanya bisa meraung memanggil Ibu ketika perlahan Ibu menghilang. Sama kerasnya seperti ketika aku mendengar berita kepergian Ibu dua tahun yang lalu.

Tapi sekelilingku hanya gelap yang hening. Bahkan aku tak dapat mendengar raunganku sendiri. Lalu kulihat sesosok bayang samar menatapku dengan sedih. Anggoro. Hanya sedetik. Dan dia menghilang.

Yang kudengar kemudian adalah teriakan-teriakan memanggil namaku. Yang kudengar jelas adalah suara Mas Danet. Tapi aku terjebak. Aku ingin membuka mata. Tapi aku tak bisa. Dan kenapa malah ada puluhan nogosari mengungkung dan menertawakan aku?

Ah! Mendadak dalam gelapku, aku benci nogosari. Tapi hanya nogosari yang itu.

Nogosari Lik Ngat.