1

“””kampus yang besar tergantung pada tingkat dan peran mahasiswa mahasiswa itu sendiri diluar kampus”””

Saya memang seorang aktivis kampus, tapi bukan pula seorang mahasiswa yang sering ikut demo-demo, serta bukan pula seorang kritikus-kritikus yang seperti tikus. Tapi saya hanya ingin belajar untuk mendapatkan sebuah secerca cahaya masa depan sebagai amanat orang tua yang telah menggelontorkan berjuta-juta biaya untuk mempercayai saya agar belajar dengan tekun. Orang tua seorang lulusan SD, tidak muluk-muluk amat cita-citanya terhadap anaknya, ya mereka hanya menginginkan anaknya lebih baik darinya.

Tidak!, saya tidak boleh membencimu wahai kampusku. Ya, dari dulu memang janjimu berkilau sekilau emas, tapi benang yang kusutlah sepertinya saya dapat menggambarkannya. saya menulis ini bukan marah atau apa, tapi hanya sebuah diary yang seperti gunung merapi yang sudah dibibir puncak untuk menumpahkan lavanya. Tidak sedikit para sobat yang mengeluh dan mengaduh, uang terbuang sia-sia hanya untuk sebuah urusan kecil karena jadwal yang diundur karena setitik urusan kecil entah besar yang dijadikan alasan, padahal mereka sendiri yang buat jadwal sekali lagi bukan kita. Kerjaan juga terhambat bagi mahasisawa yang sambil kerja. Kadang dalam hati saya tak mampu berkata lagi, apakah harus menunggu sang dewi fortuna muncul.

Tidak!, saya tidak boleh membencinya. walau kadang apa kati hati berontak selalu muncul dan muncul. Saya kembali bersemangat lagi ketika sekelibat SMS masuk ke HP saya yang berbunyi : “Dimanapun, kapanpun, yang namanya mahasiswa tetaplah sebagai agen perubahan. Jadi ketika satu kebijakan itu nantinya tidak membawa kemaslhatan bersama, disitu peran mahasiswa harus ditegakkan. Dosen ataupun akedemik serta pelayan mahasiswa, karena mereka kita bayar. kalau mahasiswanya udah tahu kebijakan seenaknya dewe, ga’ menguntungkan, tapi diem aja, hanya buat forum dibelakang, ga’ ada show n forcenya, ya sudah yang merasa punya otoritas tinggi akan semakin menekan yang dibawah”. Tidak tahu lagi, saya menahan nafas dan berkata fu*k!.

Tahu tapi tidak mau tahu. ya itulah yang sering digembar-gemborkan dalam forum sebelah. Entah forum itu akan bertahan sampai kapan, yang sebenarnya sebuah forum yang notabene untuk belajar sharing, malah dijadikan ajang lempar-lemparan kritik karena memang banyak akan tidak puas, dan tidak tahu lagi harus kemana lagi mereka mencurahkan unek-uneknya. hufh… “bersabarlah anakku, lanjutkan perdjoeanganmu, belajar yang rajin, tidak usah macem-macem”. Itulah kata-kata yang selalu menjadi penyemangat saya walau, yah harus bersabar he..he..

Perdjoeangan dari berbagai sisi sudah dilakukan oleh sobat semua, malah dianggap provokator he..he.. jadi ngakak saya. dan saya berdo’a, semoga badai keresehan ini segera berakhir dan belajar lagi dengan tenang. Dan site nya segera sembuh dari under contruction yang sudah lama terbengkalai.