Sebagai orang tua anak usia sekolah, tentu kuatir sekali dengan maraknya penggunaan bahan non pangan yang berbahaya bagi kesehatan anak. Pada usianya yang masih dini, anak belum memiliki pengetahuan yang memadai untuk memilih makanan yang higienis dan bergizi. Anak-anak pada umumnya senang membeli jajanan yang menarik tampilannya, seperti warna menyolok dan aroma yang harum. Bisa saja pedagang yang menyasar anak sekolah hanya memikirkan laba semata, dan mereka menggunakan bahan beracun yang peruntukannya bukan untuk makanan seperti zat pewarna tekstil dan bahan pengawet yang berlebihan. Juga proses memasak yang menggunakan minyak goreng yang dipakai berulang-ulang. Dampak jajanan demikian tidak muncul seketika melainkan jangka panjang.

Disarankan kepada pihak sekolah untuk mendata semua pedagang di sekitar sekolah dan mengumpulkan mereka untuk diberi penyuluhan kesehatan secara rutin, sehingga dampak buruk dapat diantisipasi.

Bila sekolah memiliki kantin di dalam tentunya pengawasan terhadap pedagang jajanan sekolah akan lebih mudah, sehingga resiko untuk kesehatan anak lebih rendah.

Yang paling baik tentunya orang tua mengambil kendali sepenuhnya terhadap makanan dan minuman yang dikonsumsi anak, caranya dengan menyiapkan sendiri semua bahan pangan. Kita bisa memilih sumber-sumber karbohidrat,protein dan serat secara lebih bervariasi. Untuk sumber karbohidratnya kita bisa menyiapkan nasi putih atau nasi goreng, bisa pula dengan mie goreng instant atau bisa roti tawar dan roti manis. Untuk mie goreng instant tidak disarankan lebih dari dua kali dalam seminggu. Untuk protein kita bisa memilih telur ayam atau sosis dan nugget, tentu dengan selalu memperhatikan tanggal kedaluarsanya. Sedangkan untuk serat, kita bisa menambahkan sawi hijau yang ditumis dengan sedikit minyak, irisan timun, irisan tomat,atau membuatkan puding agar-agar, dan tentunya buah yang praktis dikonsumsi seperti pisang.

Dengan menyiapkan sendiri makanan dan minuman anak, kita mengurangi resiko anak terpapar jajanan yang tidak sehat