aku masih berharap kertas2 ini tak bosan menampung segala unek-unek hatiku, lidahku kelu dan tetap tak mampu banyak bersenda gurau

kini aku cemburu, cemburu menampung janji bisu dimalam itu
“dik, jumpai aku di chatting pada malam hari jika kamu membutuhkan bantuanku, disaat aku tak terlau disibukkan oleh pekerjaan keseharianku “

oh, ternyata itu hanya sekedar kata-kata, tak ubahnya dirimu seorang penulis, hanya pandai berbohong pada para penikmat cerpen, puisi dan novelmu..
engkau meyakinkan mereka untuk larut dan tenggelam didalamnya, melarutkan semua materi, menghanyutkan ruang dan waktu

siapa aku, ya ya ya.. siapa aku kini yg terjebak dalam bait-bait nada suara ringanmu..

“anak pintar harus selalu memandang hidup penuh optimis, bahwa dunia ini bisa luas seluas batas pandang kita dan juga bisa terasa kecil sekecil genggaman kita”

perbedaan cara pandang telah membuat kesalahan, kesalahan, kesalahan, kesalahan…
salah, salah, salah, salah…