ffff

Apa??????

Iya, katanya ketua mahkamah konstitusi (MK) tertangkap komisi pemberantasan korupsi (KPK) ya? Malah saya sempat membaca ada plesetan mahkamah konstitusi menjadi mahkamah kolusi, dengan kata ‘terlibat’ dalam kurung ditengah-tengahnya.

Seperti yang kita ketahui bersama, MK adalah suatu lembaga tertinggi yang memiliki kekuatan paling mumpuni untuk menentukan sah atau tidaknya “aturan-aturan” di Republik ini. Sebagai negara hukum, aturan-aturan hukum adalah harga mati, aturan-aturan itu menjadi “kitab suci” kita bersama. Betapa tinggi posisi ketua MK itu, dan betapa besar pengaruh dari MK untuk memastikan keadilan terjaga. (sumber)

Belum hilang juga ingatan kita tentang kasus jendral kepolisian yang tertangkap KPK dengan nominal hasil korupsi yang menggiurkan, sekarang malah yang tertangkap orang yang lebih tinggi ‘derajatnya’ dari jendral tersebut. Lucunya, saat tertangkap KPK, ketua MK tersebut baru saja selesai menangani ‘kasus’ hukum yang memang seharusnya ia tangani. Nah, Ini malah hakim dihakimi. Hakim yang pekerjaannya menghakimi orang, sekarang malah terpukul balik. Mungkin pak ketua MK tersebut meyakini jika ia adalah penegak hukum, maka hukum tak akan berani untuk memakannya. Tapi jika ketua MK saat ini telah menjadi makanan hukum, pantaskah hukum tak menyantapnya?

Baik, kita kembali ke beberapa kasus-kasus korupsi yang seakan-akan telah melumut di negeri ini. Batapa banyak koruptor yang menurut kita mendapatkan ganjaran yang tidak setimpal dengan perbuatannya. Sudah ngambil uang rakyat, memiskinkan negara, eh, sama kepolisian malah dijebloskan ke dalam hotel berjeruji besi. Subhanallah sekali negeri ini ya?

Sekarang, mari kita beranalogi tentang judul tulisan ini. Indonesia Masih (Merasa) Kaya! Orang kaya pastinya tidak akan kebakaran jenggot jika uang atau hartanya hilang, baik ketlisut ataupun diambil orang. Pastinya jika barang yang hilang tersebut masih ia anggap sebagai kehilangan yang masih terstandar. Namanya juga dalam keadaan kehilangan yang biasa, pastinya ya nggak terlalu dipikir sama yang punya.

fdgdgd

Sama juga kasusnya dengan Indonesia. Mungkin negara ini masih merasa bahwa dirinya kaya, yang berakibat tidak terlalu geram dengan ulah orang-orang yang telah mengambil barang berharganya. lagi, mungkin karena masih merasa kaya, seolah-olah gebrakan-gebrakan pada para koruptor seakan-akan hanya berupa nyanyian yang menenangkan. Ah, wong jadi koruptor nggak sampe dibunuh saja. Ah, wong jadi koruptor penjaranya berbintang saja. Apa yang perlu ditakutkan? Begitulah mungkin yang menancap di benak mereka.

Sekarang pertanyaan saya, atau juga mungkin pertanyaan anda para pembaca, kapan Indonesia akan menyalakan lampu merah pertanda STOP dengan huruf kapital kepada para TIKUS-TIKUS berkepala manusia tersebut? Apakah Indonesia masih ingin menunggu jika ia telah benar-benar merasa dirinya adalah negara MISKIN? Jika iya, maka dengan apa hutang-hutang negara nanti akan dibayar jika sekarang, uangnya dibiarkan untuk diambil para koruptor? Dibayar dengan daun, boleh? Kan Indonesia kaya akan pepohonan….