Bisnis yang akan semakin berkembang ditahun politik jelang 2014 adalah percetakan.

Bagaimana tidak, mulai dari poster, baliho, spanduk, umbul-umbul sampai pamflet dibutuhkan sebagai sarana sosialisasi pencalonan.

Jika jumlah Calon Legislatif (Caleg) ditingkat daerah I & II serta DPR-RI tentu akan melibatkan sekitar 18.000 kandidat.

Maka bisa dibayangkan berapa guliran ekonomi yang dapat digerakkan dalam perhelatan demokrasi dinegeri ini.

***

Bagi sebagian kalangan, metode kampanye politik yang seperti ini memang tidak efektif selain karena fokus tujuan komunikasi politik, sekaligus biaya politik yang mahal.

Namun pada kenyataannya, seringkali hal ini mampu mempengaruhi keterpilihan atau elektabilitas tokoh/ caleg/ partai. Bahkan jauh lebih berpengaruh dari sekedar kekuatan ide dan program.

Secara general kita dapat mengklasifikasikan pemilih berdasarkan skema teritori menjadi pusat dan daerah.

Dipusat perkotaan, dimana sosial media dan Internet menjadi bahan konsumsi harian maka pola kampanye rendah budget bisa diterapkan.

Gaya Jokowi dengan metode blusukan dan komunikasi dalam interaksi politik langsung dapat dilaksanakan karena kepadatan demografi.

Sementara itu, pola Jokowi menjadi tidak signifikan ketika dilaksanakan didaerah. Karena aspek keterjangkauan nan meluas serta kerapatan nan senjang.

Oleh karena itu, pola politik didaerah yang tidak terkumpul secara demografi memang mengandalkan sarana artifisial dengan tampilan fisik seperti foto dan nomor urut.

***

Lalu formasi popularitas dalam membentuk elektabilitas seperti apa yang dapat mengungkit posisi bawah menjadi hal yang mengemuka?

Hemat saya, tentu melalui pencerdasan politik publik. Bahwa uang hanya alat jangka pendek pembeli kebebasan dari calon wakil rakyat itu sendiri.

Sementara itu, baliho dan spanduk tak lebih dari sekedar upaya penggerak ekonomi publik. Karena secara logis, hasil sosialisasi politik tidak terjadi dalam tataran konsepsi melainkan hanya persepsi yakni foto cantik dan ganteng ala photoshop.

Disini peran kepartaian dalam melakukan formasi keorganisasian menjadi hal terutama dalam menguatkan basis mesin politik ditengah masyarakat secara riil.

Daripada hanya melakukan pendekatan secara tergesa-gesa setiap agenda pemilihan umum menjelang. Tentu kita bicara dalam tahap menengah panjang lebih dari orientasi jangka pendek sesaat.