1377666149525148003

1377666149525148003

Waktu aku lagi ‘addict’ menulis surat2 kepada sahabat2 penaku baik ke dalam negeri Indonesia,maupun ke sahabat2ku secara internasional, apalagi kepada ’sahabat2′ku, para pembesar negara sekitar awal tahun 1980-an sampai awal tahun 1990-an, aku sudah tahu tentang ‘pencurian’ dokumen isi surat2, karena dulupun aku sudah mengalaminya.

Ketika jaman aku sering bertukar prangko dengan teman2ku di luar negeri, aku excited sekali! Dulu, aku belum pumya uang sendiri sehingga aku hanya menggunakan uang saku-ku untuk bersurat2an. Tukar menukarnya pun prangko2 bekas, bukan baru. Karena aku benar2 hobi surat2an dengan banyak orang, prangko2nya aku rwat untuk di simpan. Dan yang double2 aku tukarkan ( swap ). Dan itu sngat enyenangkan sekali!

Semua berjalan lancar. Bertahun2 aku melakukan seperti itu, sejak aku kelas 3 SD. Sampai pada suatu saat, aku mengirim prangko yang untuk tukar menukar. Mungkin sekitar 50-an keping prangko. Tetapi setelah ada balasannya ternyata kata teman penaku, prangko nya tidak ada! Begitu jug beberapa kali teman2 penaku dari luar negeri mengirimkan buku atau souvenir kecil, semuanya tidak ada! Bungkusnya terbuka dengan ada yang menulis ( aku lupa siapa yang tulis ), hanya tulisan :

“Bungkus sudah terbuka tanpa ada isinya …..”

Bahkan ketika aku mendapat balasan dari Perdana Menteri Spanyol waktu itu ( Jose Louise ), amplopnya terbuka! Aku tidak tahu apa yang beliau kirimkan, tetapi untungnya footo dan tanda tangannya masih ada! Itu yang terpenting!

13776663801458403367

1377666512623829932

 

Balasan dari PM Spanyol. Untung foto dan tanda tangannya tidak hilang! Lihat informasi dari entah siapa, di atas amplopnya …..

Setelah itu, sungguh aku sama sekalitidak percaya pada jasa pengiriman! Aku sangat berhati2 untuk mengirimkan dokumen2 kemanapun, bahkan hanya sekedar dalam negeri. ‘Parno’, karena barang2 yang dikirimksn adalah barang2 hobi. Jika memang harus mengirimkan sebuah barang, aku mendingan titip teman jika dia mau kesana begitu juga sebaliknya. Lebay? Ga tahulah …..

***

Sudah lama aku tidak menulis surat setelah aku lulus SMA. Hobiku luruh sejalan dengan kesibukanku, itu ternyata mulai lagi ketika aku stroke 3,5 tahun lalu. Dalam komunitas filateli, aku sering berkirim surat, kartu pos dan prangko. Bagiku yang memang sudah trauma, tetap saja trauma. Tetapi teman2 baruku di komunitas filateli ini meyakinkanku untuk tetap percaya dalam berkirim2 prangko. Toh ada ’surat tercatat’, kataya.  Ok. Aku ikuti dan memang trauma itu mulai menghilang …..

Kemarin aku membuka di grup filateli di Facebook-ku. Teman komunitas filateli, mas Yopi sedang ‘protes’ keras karena kiriman 3 set prangko WWF Orang Utan dan 1 set WwF Thcad di curi orang, dan diganti dengan brosur dan potongan iklan saja! Astaga! Prangko WWF itu sebuah koleksi yang luar biasa! Bertema fauna dengan hewan2 cantik, sangat ‘mahal’ untuk kita, kolektor dan berhobi filateli, sehingga kehilangan seperti ini membuat kita gundah gulana ….. Pasti tidak ada yang bisa memahami, karena mungkin pikir bayak orang, “Apa sih itu prangko?”

13776665531276995069

1377666582491208100

Surat dari mas Yopi untuk Vladimir di Israel, untuk tukar-menukar prangko, dan resi pengirimannya.

Tetapi jika seseorang pernah kehilangan barang2 yang disayanginya, akan mengerti, bagaimana kita kehilangan prangko2 ini. Dan trauma itu datang lagi …..

Mas Yopi ini memang aktif bertukar2an prangko. Waktu itu dia posting prangko WWFnya, dan temannya dari Israel ( Vladimir Shnitman ) ingin bertukaran dengan seri WWF lainnya. Mas Yopi mengirimkan tanggal 12 Agustus 2013 di Kantor Pos Kudus ( dia memang tinggal di Kudus Jawa Tengah ), yang diterima oleh mbak Astri dan diberi label RLN dg no RR 017733107 ID.

Tetapi pada tanggal 20 Agustus 2013-nya surat dari Vladimir sudah sampai ke alamat mas Yopi di Kudus, dan saat itu dia mencoba mengecek kirimannya di web sitenya Posindo ( Pos Indonesia ) dan ada data tangal 20 itu, barusan keluar dari Jakarta ( wah, sepertinya terlalu lama, sampai 8 hari! Karena biasanya hanya 3 sampai 5 hari sudah keluar dari Jakarta! ). Dan kemarin, tanggal 27 Agustus 2013, dia membuka Facebook-nya dan mendapat inbox dari Vladimir, bahwa surat dari mas Yopi sudah terima tetapi isinya sesuai yang aku tuliskan diatas menghilang! Yang ada Cuma brosur dan potongan2 iklan saja! Berarti, ini sudah direncanakan!

13776666331334193993

13776666562084628001

Surat mas Yopi di Vladimir, dengan keadaan kehilangan prangko2 yang akan ditukarkan, serta ada brosur2 dan iklan saja …..

Si ‘tikus2 pos’, sengaja membuka amplop surat2 yang sudah diincar, mengambil isinya dan menggantinya dengan kertas2 saja! Dan aku yakin, kemungkinan besar ‘tikus2 pos’ sudah tahu bahwa komunitas filateli selalu mengirimkan ‘harta benda’ ( atau prangko ) lewat pos! Mungkinkah ini terorganisir?

Dari aku masih kecil dan tidak tahu atau tidak memikirkan tentang sebuah ‘kejahatan’ lewat pos, sampai sekarang aku mulai memikirkan ‘tikus2 yang teroranisir’, karena ternyata banyak kesaksian2 teman2ku yang kehilangan isi surat atau barang2 yang dikirimkannya. Barang2 kecil, yang mungkin untuk orang lain adalah ’sampah’ dan tidak berharga sama sekali, tetapi untuk beberapa orang barang2 itu merupakan ‘harta karun’, apapun namanya!

Untukku sendiri, trauma ini semakin membesar. Dan aku akan terus ‘parno’ dalam hal pengiriman barang, walaupun banyak juga yang menjamin dengan pasti bahwa,

“Ah, itu kan mungkin hanya 1 dari 100 kasus!” ( adakah yang sudah meneliti tentang ini? )

Masa bodohlah! Aku tidak peduli, tetapi akan sangat senang jika aku dan teman2 dalam komunitas2 yang selalu berhubungan dan mengirimkan barang2 kecil filateli lewat pos, untuk mulai dibenahi, jasa pengiriman surat. Baik di pemerintahan ( Pos Indonesia ) ataupun pihak2 swasta, bahwa kita semua dijamin dengan sebuah UU ( jika sudah ada,

1.       Bagaimana dengan pertanggung-jawabannya?

2.       Bagaimana dengan penggantiannya?

3.       Apakah sudah ada penjaminnya? Atau adakah asuransinya? Karena sebuah prangko bukan hanya sekedar ppotongan kertas kecil saja, tetapi prangko mempunyai nilai yang tidak bisa dinilai dengan uang! )

atau apapun namanya, bisa membuat kita merasa aman dan nyaman, walau hanya dengan mengirim surat …..

Tetapi tetap semangat! Tetap melakukan hobi2 kita dan teruslah melakukan kegiatan yang berguna dan terus berkarya …..

Catatan :

Mas Yopi mempersilahkan aku untuk menulisnya, karena menurut beberapa teman di komunitas ini mengatakan, keadaan ini sudah semakin parah. Supaya ada tindak lanjut demi keamanan dan kenyamanan warga, apapun kegiatannya, walau hanya sekedar menulis surat …..