Beberapa hari yang lalu, saya turut melepas kepulangan seorang teman bule untuk kembali ke negerinya. Sambil menunggu waktu check in di Terminal 2D Bandara Soetta yang masih 3 jam lagi, kami mengobrol tentang apa saja. Sesekali kami juga saling melempar tebakan. Bagaimana cara memasukkan gajah ke dalam kulkas? Bagaimana menaikkan 5 ekor gajah ke dalam mobil berkapasitas 4 orang? Sebuah kereta dengan empat gerbong menaikkan 20 penumpang di stasiun pertama, lalu di stasiun ke-2 menaikkan 10 penumpang dan menurunkan 2 penumpang, dst… dst… tebaklah, siapa nama masinisnya? Rasanya banyak tebakan yang sudah ‘basi’, ya?!

Tiba-tiba teman bule itu mengeluarkan beberapa koin dari saku celananya. Saya mengira dia akan bermain sulap. Ternyata dia mengulurkan koin-koin itu kepada saya dan teman yang lain, disertai ucapan “This coin will remind you of me”. Dengan suka hati kami pun menerima koin kuning bernilai 1 денар (Denar Makedonia) yang di sisi lain bertuliskan Република Македонија (Republik Makedonia) 2006. Lalu kami pun buru-buru mencari-cari recehan dengan niat yang sama yaitu memberinya kenang-kenangan. Tetapi saat teman saya mengulurkan sebuah koin rupiah, teman bule itu menolak. Lalu dengan bangga bercerita, bahwa dia sudah memiliki banyak koin rupiah. Hal yang mengejutkan adalah cerita dari mana dia mendapatkannya. Konon banyak recehan bertebaran di tempat-tempat yang dilewatinya—jalanan, angkot, bus, dan lain-lain. Dia mengumpulkan recehan hasil temuannya selama 2 minggu tinggal di Indonesia. Jika tak salah dengar, pada akhir kisahnya dia bergumam demikian: “People in your country are easily to throw away their money.” Ups… betapa terkejutnya kami!!!

Saya pribadi menyadari bahwa pendapat teman bule itu sulit dibantah. Saya pun sering menemukan koin rupiah di lantai angkot, bus, kereta, atau di jalanan. Terakhir kali saya menemukan koin Rp500 pada tanggal 14 Agustus 2013 pukul 12.45 di dalam Mikrolet 19 jurusan Depok-Rambutan. Dalam pikiran positif saya, tentu pemiliknya bukan bermaksud membuangnya, mungkin saja koin tersebut jatuh tanpa sengaja. Namun analisis saya menyatakan sebuah tuduhan yaitu: ‘mereka enggan mengambil kembali koin yang telah jatuh itu’. Alih-alih sebagian dari mereka berpikir “Ah cuma seratus perak, cuma dua ratus perak, ah cuma recehan, dsb.” Fenomena ini sangat jamak dan memprihatinkan. Saya bahkan nyaris yakin bahwa tidak sedikit warga negara pemilik rupiah ini kurang menghargai uang receh, terutama yang bernilai kecil seperti Rp50, Rp100, Rp200, atau Rp500. Perlukah dibuktikan?

Permen sebagai “Uang Kembali”

Tidak sedikit warung atau toko swalayan—mini market bahkan beberapa super market—menyiapkan permen sebagai “uang kembali”. Saya sering mengalaminya, tapi hanya menerima saja karena malas berdebat. Mungkin banyak orang sering mengalami hal demikian dan diam seperti saya. Jika mau jujur, sebenarnya tindakan diam saya termasuk mendukung praktik “tidak menghargai” uang receh. Bahkan konon mengganti pengembalian rupiah dengan barang termasuk melanggar aturan Bank Indonesia.

Hingga saya pun sangat salut saat mendapati seorang teman yang berani menolak saat petugas kasir di sebuah toko swalayan memberinya kembalian berupa permen. “Saya mau kembalian berbentuk uang bukan permen! Sudah banyak koleksi permen saya di rumah. Memangnya Mbak mau kalau saya bayar belanjaan ini pakai permen?” begitu komplainnya. Petugas kasir pun jadi melongo, dan kemudian sibuk ke sana ke mari mencari uang receh untuk kembalian.

Pengamen dan Recehan

Beberapa dari pengamen yang konon mengais rezeki dari recehan pun terkadang juga bersikap sombong terhadap koin rupiah. Jika ingin memberi penghargaan pada seorang pengamen, saya biasa menyiapkan koin bernilai Rp500. Namun ada kalanya di dompet saya hanya ada sekumpulan koin Rp100 dan Rp200. Percayakah Anda, jika saya takut secara terbuka memberikan recehan 100-an dan 200-an tersebut kepada si pengamen? Bahkan, meskipun recehan itu totalnya berjumlah lima ratus atau seribu rupiah. Saya baru berani memberikannya jika si pengamen menyodorkan kantong atau wadah tertutup—tentu mereka baru akan membukanya setelah pergi dari hadapan saya. Mengapa saya harus takut?

Sejujurnya, saya takut dipermalukan. Saya pernah melihat seorang Ibu merasa “dipermalukan” oleh seorang pengamen di sebuah angkot. Pasalnya setelah pengamen selesai dengan nyanyiannya, si Ibu tersebut memberikan sejumlah recehan Rp100 dan Rp200—dari banyaknya mungkin jumlahnya lebih dari Rp500 atau Rp1000. Anehnya, pengamen itu bukan berterima kasih tetapi malah mengomel dan melecehkan seolah-olah sejumlah recehan yang diberikan si Ibu tadi tidak berharga sama sekali. Sungguh ironis! Bahkan orang berkekurangan pun tidak bisa menghargai uang receh. Tidakkah mereka berpikir bahwa tanpa seratus rupiah, nilai Rp999.900 pun tidak akan pernah disebut satu juta rupiah?

Meminta Maaf karena Recehan

Saya sering mendengar orang meminta maaf karena membayar dengan uang receh, entah itu di pasar, toko, warung, atau di angkutan umum. Oya, satu lagi… saat memberi penghargaan pada pengamen! Saya bahkan sempat iseng menanyakan pada beberapa orang di sekitar saya: “Apa yang Anda ucapkan bila membayar dengan uang receh?” Anehnya, sebagian besar dari mereka menjawab: “Minta maaf, karena membayar dengan recehan!” Begitulah, banyak orang di negeri ini merasa bersalah saat memberikan uang receh pada orang lain.

Jika membayar barang berharga jutaan rupiah dengan sekarung uang receh, mungkin saja perlu kita sertakan permintaan maaf karena akan merepotkan si penerima menghitung jumlahnya. Tetapi jika sekadar membayar ongkos angkot sebesar dua atau tiga ribu rupiah atau membeli sebungkus cabe seharga tiga ribu, haruskah kita merasa bersalah jika mengangsurkan uang recehan? Bukankah pecahan logam sama berharganya dengan lembaran kertas?

Berita tentang penolakan suatu bank atas setoran nasabahnya karena setorannya berupa uang receh pernah beberapa kali saya baca. Jadi terpikir oleh saya, mungkinkah Bank Indonesia meniadakan saja uang koin atau pecahan logam dengan nominal 50, 100, 200, 500, atau bahkan 1000 rupiah. Lalu para pedagang sebaiknya menggenapkan saja harga barang-barang dagangannya dengan nominal tertentu sehingga tidak perlu dibayar dengan uang receh atau sebaliknya memberikan uang kembali berupa recehan. Hehehe.. itu hanya angan-angan sederhana si bodoh ini…🙂

Akhirnya, saya teringat lagu anak-anak “Aku Cinta Rupiah” yang dipopulerkan pertengahan tahun 1997 ketika krisis melanda negeri ini.

Aku cinta rupiah, biar dolar di mana-mana/Aku suka rupiah, karena aku anak Indonesia.
Mau beli baju, pakai rupiah/Jajannya juga, pakai rupiah
Mau beli buku, buku sekolah/Pakai rupiah ya bayarnya.

Lihat tabunganku isinya rupiah/Karena mamaku kasihnya rupiah
Buat beli buku, buku sekolah/Pakai rupiah ya bayarnya.

Aku cinta rupiah, biar dolar dimana-mana/Aku suka rupiah, karena aku anak Indonesia
Aku cinta rupiah , biar dolar merajarela/Aku suka rupiah, karena ku tinggal di Indonesia.

dst…dst…

Jika tak salah, lagu yang dilantunkan penyayi cilik Cindy Cenora ini memiliki lirik yang pada zamannya bertujuan membangkitkan kecintaan akan rupiah dan produk dalam negeri. Semestinya lagu ini perlu terus-menerus dilantunkan dalam hati setiap penduduk negeri pemilik rupiah ini. Kali ini kita melantunkannya dalam konteks mencintai negeri ini lewat recehan. Mungkin ide ini terdengar lucu dan sepele. Namun tidak ada salahnya bila kita lebih memaknai pecahan logam atau recehan rupiah yang jatuh ke tangan kita. Sekecil apa pun nilainya, rupiah tetaplah rupiah yang merupakan pilar penopang kehidupan NKRI tercinta.

DIRGAHAYU KE-68 INDONESIAKU TERCINTA!