Memaknai arti kemerdekaan dibenak masing-masing orang mempunyai cara pandang sendiri. Pada jaman orde baru yang dipimpin rejim otoriter, kemerdekaan warga negara begitu dikekang, tidak ada yang berani melawan pemerintah. Jika ada jawabannya sudah bisa ditebak, aparat akan menangkapnya dan tidak segan pula ada tindakan represif. Gambaran ini dipertegas oleh Wiji Tukul dalam puisinya. Wiji Tukul adalah sosok yang cukup mewakili kondisi rakyat yang tertindas. Ia bukanlah mahasiswa, hanya seorang buruh kasar namum berani melawan ketertindasan itu. Nasibnya pun saat ini tidak jelas sejak orde baru tumbang ditahun 1998, hilang atau “dihilangkan” hanya menyisakan tanda tanya.

Sosoknya yang tidak saja di benci tetapi juga ditakuti oleh rejim orba. Seorang rakyat jelata yang berani melawan penindasan. sumber tempo.co
Dalam puisinya ia menyatakan tentang arti kemerdekaan di jaman orde baru:

memang tak ada kenikmatan
di negri tanpa kemerdekaan
selamanya tak akan ada kemerdekaan
jika berbeda pendapat menjadi hantu
(Kado Untuk Pengantin Baru)

Memang benar kata Wiji Thukul, masyarakat takut menyuarakan pendapatnya. Suara yang disampaikan tidak akan menentang pemerintah, walau dalam harinya berontak. Sebagian besar rakyat tidak berani untuk berbeda pendapat. Resikonya terlalu berat akan diciduk oleh aparat. Khusak-khusuk di tempat tersembunyi pun akan ketahuan karena peran intel yang begitu kuat. Wiji Thukul mencoba mendobrak ketidaknyamanan rakyat itu yang ditulis dalam puisi lainnya:

Bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu
keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!
(Peringatan)

Namun setelah orde baru tumbang dan digantikan oleh orde reformasi kondisi yang diinginkan Wiji Tukul berada pada titik temu, tidak ada kata lawan kepada pemerintah. Tentara sudah kembali ke barak, UU Subversif sudah dicabut. Kebebasan berbicara, berekspresi, menyuarakan pendapat dapat dilakukan siapa saja. Tidak ada rasa takut seperti dulu, rakyat dapat mengkritisi pemimpinnya mulai dari ketua RT sampai presiden. Bahkan di media sosial pun presiden kerap di bully. Tidak perlu orang yang punya nyali besar untuk melakukan demonstrasi, malah pada kondisi tertentu akan dikawal aparat kepolisian. Melihat kondisi seperti ini, ada yang mengatakan inilah kebebasan yang kebablasan.

Itulah pentingnya rasa kebebasan itu, kebablasan sekalipun. Teringat apa yang dikatakan cendekiawan muslim Indonesia, Imaduddin Abdulrahim, “Bila harus memilih dua alternatif yang ekstrem, aku lebih baik mengambil kebebasan yang liar daripada ketentraman yang dipasung. Pemasungan selalu tidak manusiawi dan merendahkan martabat kemanusiaan”. Kita bisa merasakan sendiri bagaimana tidak enaknya kondisi pemasungan itu pada masa orde baru itu. Rakyat tidak dapat menyuarakan aspirasi sesuai hati nurani, semua harus tunduk apa yang dikatakan penguasa.

Kita patut bersyukur akan kebebasan yang kita rasakan saat ini. Tidak semua warga negara di dunia ini dapat merasakan seperti bangsa Indonesia rasakan. Bangsa Indonesia mampu memperolehnya dengan tidak membutuhkan “ongkos” politik dan sosial yang begitu besar serta pertumpahan darah yang tidak begitu memilukan. Sebenarnya kebebasan model inilah yang kita inginkan. Bebas dari rasa takut dan intimidasi (penyalaggunaan aparatur) negara bagi rakyatnya.

Negara dan rakyat belum makmur

Namun di sisi lain kita harus jujur bahwa negara kita belumlah makmur begitu pula rakyatnya. Ketidakmakmuran itu bisa dilihat dengan jelas bahwa negara masih belum bisa memanfaatkan kekayaannya. Banyak sumber daya alam (SDA) yang dikelola oleh perusahaan asing, dan ironisnya negara hanya kebagian sedikit.

Negara (baca:pemerintah) masih belum dapat memaksimalkan potensi SDA yang begitu melimpah. Tanah yang subur malah berubah fungsi menjadi lahan industri atau perumahan. Akhirnya pemerintah melakukan kebijakan yang seharusnya tidak boleh terjadi: impor beras, buah-buahan, garam dan bahan lain yang sejatinya sudah tersedia.

Akibat dari posisi tawar negara yang lemah berpengaruh pula terhadap rakyatnya. Masih adanya kemiskinan, kelaparan, dan pengangguran. Bahan kebutuhan pokok masih mahal sehingga banyak rakyat yang tidak mampu menjangkaunya. Dan tidak salah pula bila rakyat memilih bekerja di luar negeri menjadi TKI walaupun itu pekerjaan “kasar”. Yang dicari sebenarnya cukup sederhana untuk mengubah nasibnya agar menjadi makmur.

Ketidaktegasan pemerintah dalam mengelola tata pemerintahan yang bersih dan bagus (good and clean governance) masih terus dipertanyakan. Masih adanya pungutan liar, korupsi, suap merupakan bukti yang ada di depan mata itupun masih belum mendapat tindakan yang keras dan tegas. Sehingga KPK pun harus bekerja ekstra keras karena tidak saja membereskan oknumnya tetapi juga bersinggungan dengan instusinya. Lembaga negara (DPR, kehakiman, Kepolisian Kejaksaan) yang seharusnya mengatasi masalah korupsi malah benjadi bagian dari masalah itu sendiri.

Maka tidak heran kemakmuran menjadi jauh panggang dari api. Anggaran yang sedianya dipergunakan untuk kemakmuran rakyat direkayasa sehingga dipakai untuk kepentingan kelompok tertentu dan pribadi. Namun rupanya rakyat masih lega dengan adanya kebebasan berpendapat. Segala unek-unek dapat tertumpahkan secara langsung atau melalui media sosial, kritik paling keras dan kasar pun dapat dilakukan. Kondisi ini lumayan efektif sebagai alat untuk mengawasi segala kebijakan pemerintah yang ada. Dalam tatataran tertentu masih ada aparatur yang baik, ada yang ditanggapi positif untuk melakukan perbaikan.

Kita telah memiliki modal dasar: kebebasan dalam berpolitik. Kita bebas melakukan apa saja yang kita mau. Untuk itulah kebebasan itu harus kita pergunakan secara baik, benar, dan tepat. Kita gunakan kebebasan itu untuk memilih kehidupan yang lebih baik. Kita ingin hidup tentram, aman, dan makmur karena pilihan bebas kita bukan karena terpaksa apalagi direkayasa.

Media demokrasi yang ada kita pergunakan dengan aktif terjun langsung atau memilih pemimpin dan wakil rakyat yang tepat. Yang benar-benar mewakili dan membawa kepentingan bersama. Segala partisipasi warga negara di berbagai bidang terus digalakkan walau tidak berada dalam sistem (pemerintahan). Dengan demikian apa yang kita cita-citakan untuk memperoleh kemakmuran dan kebebasan dapat terwujud secara bersamaan. Bebas dari rasa takut dan rasa lapar.