bem unisfat 20131

Apakah kehidupan sehari-harimu dapat ikut mengubah sejarah bangsa ini menjadi semakin lebih baik?
“Manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing, Saudara-saudara, semua siap sedia mati mempertahankan tanah air Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap sedia, masak untuk merdeka”

– Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945.

Nasionalisme merupakan kata yang lazim ditemui dan tidak asing lagi di telinga setiap masyarakat Indonesia. Ya, bahkan dapat dikatakan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia dimulai dari kata ini. Semenjak kata ini hidup dalam setiap pejuang kemerdekaan, seharusnya Indonesia sudah merdeka dalam hati mereka. Kemudian semangat nasionalisme yang dibawa oleh para pejuang Indonesia sejak era kolonialisasi Belanda dan gerakan nasionalis pertama pada tahun 1905 pun melalui perjuangan panjang yang pahit. Namun benih yang pahit itu tumbuh menjadi pohon yang memberikan harapan dimana lahir sebuah kemerdekaan yang diharapkan oleh seluruh tanah air Indonesia saat itu. Tentu pula bangsa Indonesia ingin untuk memanen buah yang manis dari hasil perjuangan yang sedemikian rupa. Maka muncul sebuah pertanyaan retorika: “Dimana buah yang dihasilkan oleh benih pahit yang telah tumbuh menjadi pohon pengharapan tersebut?”

Dimensi Semu Nasionalisme

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia[1], nasionalisme dapat didefinisikan sebagai (1) paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan (2) kesadaran keanggotaan di suatu bangsa yg secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan. Namun apakah itu masih hidup dalam setiap rakyat Indonesia?

Tentunya harapan bagi para pejuang Indonesia agar nasionalisme itu dapat tumbuh juga di hati para penerus bangsa Indonesia. Semangat nasionalisme positif yang berapi-api untuk membakar hal-hal negatif di negeri ini. Semangat nasionalisme yang terus hidup hingga tumpah darah yang kedua di tanah air tercinta.

Dewasa ini, konteks nasionalisme yang ada telah berbeda dan disesuaikan dengan modernisasi serta perkembangan bangsa merah putih ini. Tidak ada lagi penjajah dari luar yang mau menjajah tanah air kita. Namun apakah dengan ini kata nasionalisme perlu dihapuskan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia? Bisakah rakyat hanya bersikap santai?

Penjajahan terbesar rakyat kita pada saat ini adalah penjajahan mengenai cara menghidupi nasionalisme itu sendiri. Seringkali nasionalisme dihidupi secara semu dengan hanya membeli barang-barang buatan bangsa, acap kali menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik, menghapal lagu ‘Indonesia Raya’ dan pembukaan UUD 1945, menjadi pegawai instansi pemerintahan, sering membaca buku-buku tentang cara memajukan bangsa, dan berbagai hal lain termasuk menulis artikel untuk mengkritik tanpa memberikan solusi dan tindakan.

Tidaklah salah melakukan hal-hal yang disebutkan diatas, malah itu adalah hal-hal yang memang seharusnya dilakukan. Namun semua itu harus diimbangi dengan sikap yang ‘nasionalisme’ pula. Jangan sampai dengan segala atribut nasionalisme sebagai orang Indonesia, kita tidak dapat menghidupi nasionalisme itu sendiri. Itulah dimensi semu nasionalisme yang membawa Indonesia menuju keunggulan yang semu pula.

Menghidupi Nasionalisme

Saya bukanlah seorang yang ahli dalam riset nasionalisme, bukan seorang sosiolog, bukan seorang politikus atau negarawan, bahkan bukan seorang yang pandai dalam mengamati bangsa. Namun satu hal yang pasti, saya adalah rakyat Indonesia! Seorang awam yang mencintai negaranya dan ingin agar cinta itu menular kepada orang lain melalui artikel ini.

Entah dari mana saya mendengungkan kata “dimensi semu nasionalisme” atau “menghidupi nasionalisme”. Maksud dari kedua kata ini, nasionalisme yang sebenarnya bukan hanya tercermin dari apa yang dilihat saja, namun dari apa yang kita lakukan untuk bangsa ini mulai dari hal yang terkecil. Tidak akan saya membahas hal-hal yang terlalu “wah” dalam kancah politik atau ekonomi bangsa.

Nasionalisme adalah “darah” yang harus mengalir di setiap tubuh anak bangsa. Oleh karena itu, mari hidupi nasionalisme dalam tindakkan sehingga dimensi semu tersebut akan berangsur-angsur hidup dan menjadi nyata. Menghidupi nasionalisme berarti rela ‘memberikan nyawa’ (baca: darah) kita kepada bangsa ini seperti para pejuang yang dahulu telah menunjukkan hal itu. Ya, hanya itu bukti nasionalisme yang konkrit.

Bukan berarti kita seolah-olah seperti pejuang yang berperang melawan penjajah, tetapi hidupilah nasionalisme itu agar tercermin siapa kita sesuai dengan yang kita hadapi sekarang. Mengutip kata-kata Presiden Soekarno yang menjelaskan bahwa dahulu pahlawan kita dapat memperjuangkan kemerdekaan dengan hanya memakai bambu runcing, kita pun sekarang dapat memperjuangkan kelangsungan bangsa ini melalui kesadaran dan tindakan sederhana yang kita lakukan.

Apabila Anda adalah seorang politikus, maka jadilah seorang negarawan yang benar-benar cinta pada Indonesia dengan memberikan kontribusi yang positif, nyata, dan berintegritas pada rakyat. Bila Anda seorang pengusaha, jadilah pengusaha yang membayar pajak, bersaing secara sehat, dan meningkatkan ekonomi bangsa. Bila Anda rakyat biasa, jadilah rakyat yang mencintai bangsa ini dengan tidak mengutuk melainkan mencintai, mendoakan, dan melakukan apa yang bisa dilakukan. Bila Anda sebagai mahasiswa, jadilah calon penerus bangsa ini dimana kita sebagai tulang punggung bangsa yang akan datang membawa perubahan yang signifikan pada negara ini serta menghidupi nasionalisme melalui keahlian kita sehingga jadilah nyata bahwa pohon pengharapan yang sudah ditanam dari benih pahit tersebut mendapat pupuk yang baik sehingga dapat menghasilkan buah yang manis. Jadi, hidupi nasionalisme secara nyata dalam hidup setiap kita dengan tindakkan, bukan hanya atribut nasionalis semata! Hidupilah nasionalisme!!

“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih medjadi merah dan putih, maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djoega!”

– Bung Tomo dalam siaran radio menyongsong serangan sekutu ke Surabaya, 9 November 1945.