Suami ku bilang “ percaya gak percaya, lebih dari 3 bulan lalu abang sudah tahu kalau bakalan ketemu adek, maksudnya segala hal yang berkaitan dengan adek”

“Lha kok bisa tahu gitu bang? Gimana ceritanya?”

“tahu dunk, dulu abang pernah nulis di selembar kertas tentang ciri – ciri adek, tapi lupa dimana kertasnya sekarang. Tapi yang abang tulis itu semua sifat yang ada pada adek sekarang.”

“ emang apa aja yang abang tulis tu?” dengan wajah penasaran.

“apa ya?”. Kasih tau gak ya?” makin buat penasaran.

“aii,abang ni, jom lah ceritakan. Jangan buat penasaran”.

“emh,,, rahasia ah…”. dengan senyum puas. “ intinya 90% yang abang tulis di kertas 3 bulan yang lalu itu sama dengan adek lah” senyum yang kian membuat istrinya kesal.

“ceritakan lah bang pada ku, apa abang tak kasihan pada ku yang penasaran ini?” dengan wajah manjanya.

“beneran ni mau tau?” goda suaminya.

“ia lah bang, jom ceritakan pada ku” senyum bersemangat.

“ jadi…” suaminya mulai bertutur.

“ 3 bulan yang lalu, abang pernah menulis di selembar kertas tentang harapan abang menikah dan tentang istri yang abang idam- idamkan. Malam itu yang abang tulis , mempunyai istri yang bisa satu visi hidup dengan abang, istri yang memiliki pemahaman agama yang baik, istri yang memiliki rasa kemanusiaan tinggi, istri yang bisa menerima abang bukan dari apa yang abang miliki, tapi istri yang bisa menerima abang dari segala kekurangan yang abang punya, istri yang bisa mencintai abang dalam suka duka menjalani perjalanan hidup, istri yang tak hanya dapat menjadi pendengar yang baik, tapi juga dapat memberi masukan untuk abang saat abang melakukan hal yang keliru. Dan saat ini wanita idaman abang itu ada di hadapan abang, sudah jadi istri abang. Makasih sayang untuk kerelaan mu menerima abang apa adanya”. Menatap wajah istrinya dengan senyum syukur dan bahagia.

Terpancar rona bahagia di wajah sang istri. Cahaya mata nya seolah kilauan permata yang di terpa sinar sang surya. “aku akan mengabdi pada abang selama denyut nadi ini masih berdetak, aku akan terus di samping abang hingga kulit kita keriput bersama, hingga tulang – tulang kita mulai menua dan aroma kita berbau tanah.”

Kisah itu selalu terulang di fikiran ku, kisah yang tak pernah usang dalam ingatan ku. Kisah perjalanan cinta yang sederhana namun penuh kesempurnaan. Mata ku beralih dari jendela. Ku tatap raut wajah keponakan ku yang begitu mungil dan lucu,kini ia tumbuh besar, jika sekilas di pandang ia mewarisi wajah jawa ayah ku, kakeknya. Namun jika di pandang seksama ada raut wajah kakak ku, ayah nya yang begitu kentara. Namun matanya milik ibunya, kakak ipar ku. Matanya bulat dan slalu bercahaya, cahaya itu akan redup kala ia disinggahi duka lara. Dan hal itu yang membuat ku tak kuasa untuk melihatnya menangis. Aku hanya ingin melihat senyum nya.

Pandangan ku kembali ke jendela, di luar sana hujan belum juga inggin berhenti. Rasanya langit masih inggin menumpahkan segala air mata. aku teringat pesan terakhir kakak saat ia menitipkan istrinya disini. Dia bilang akan segera kembali, tugas ini tak lama. Tak ada sepekan ia akan pulang lagi untuk menjemput istrinya yang tengah hamil tua. Dia bilang ia tak inggin melewatkan proses kelahiran sang buah hati, buah cinta nya yang pertama. Aku masih dapat menatapnya dengan nyata, hari itu sangat cerah, mentari bersinar begitu sempurna. Hangatnya memancar hingga sukma. Ia berpamitan pada sang istri, melihat kakak ku mencium keningnya mesra, cukup lama untuk sekedar ciuman perpisahan sementara. Ia berpasan untuk tetap menjaga mujahid kecil meraka. Setelah berpamitan kepada ibu dan bapak kami, aku lah orang terakhir yang ia pamiti, dia hanya memintaku untuk tetap menjaga istri tercintanya dan majahid kecilnya.

“dek, kakak titip bidadari kakak, tolong jaga mujahid kecil kakak juga, kelak ia akan menjadi anak sholeh yang rela mati demi agama ini. Kakak sangat mencintai mereka. Kakak menunggu mereka di surga NYA”.

Deg, hati ku berdesir mendengar kata – kata abang ku waktu itu. Aku tak sempat mengatakan apapun, dia langsung mengucapkan salam dan masuk ke mobil yang telah menjemputnya sejak tadi. Orang tua ku mulai masuk kedalam rumah. Hanya tinggal aku dan kakak ipar ku yang masih memandangi bayangan yang tak lagi terlihat itu.

Tiba – tika kakak ipar ku berucap yang ku yakini pasti bukan pada ku, serasa pada angin. Sangat lirih namun sangat jelas terdengar oleh ku,”bang, segeralah pulang, aku dan mujahid kita tlah merindukan mu, meski kau baru perpamitan”. Ia lalu masuk rumah setelah berucap seperti itu.

Aku memandangnya. Ada hal janggal yang di ucapkan abang ku tadi, aku tak mengerti maksudnya, aku pun tak ingin menanyakannya pada siapapun. Akhirnya kuputus kan untuk diam. Lalu mengikuti yang lain masuk kedalam rumah.

***

Seminggu telah berlalu, namun abang ku tak juga kunjung pulang. Abang telfon kemarin kata nya kepulangannya di tunda karna ada hal yang belum selesai. Hingga hari ini, hari istrinya akan menjalani persalinan abang belum juga datang. Kami semua berusaha menguatkan hati kakak ipar ku itu, pagi – pagi sekali kami semua telah dirumah sakit karena kakak ipar ku mengeluh perutnya sakit, 12 jam berlalu namun rasanya keponakan ku belum ingin menyapa dunia, sementara kakak ku merasa kesakitan. Dalam penantian yang begitu menegangkan itu, kami semua dapat duka bahwa abang ku mengalami kecelakaan. Mobil yang ia tumpangi terperosok kejurang akibat jalanan yang licin di guyur hujan. Di kabarkan bahwa tak ada korbanyang selamat dari kejadian tersebut. Hti kami hancur rasanya, kami semua binggung hanrus bekata apa kepada kakak ipar ku di dalam sana. Ia sedang dalam proses mempertaruhkan nyawanya demi anak pertaanya, ia begiu mengharapkan kehadiran suaminya di sisinya saat ini. akhirnya tepat 24 jam dirumah sakit keponakan ku yang mungil itu menangis sebagai sapaan pertamanya pada dunia. Kami semua yang menunggu di luar berucap syukur dan saling berpelukan. Tak lama kemudian dokter keluar dan mengucapkan selamat kepada kami atas kelahiran anak pertama kakak ku itu. Namun ada berita duka yang mengiringi bahagia kami saat itu, kata dokter keadaan kakak ipar ku sangat lemah. Kami semua masuk untuk melihat kakak ipar dan bayi pertamanya yang sangat mungil itu. Karena abang ku belum pulang maka bapak ku lah yang meng adzani dan meng – iqomahi bayi mugil itu. Kami semua merasa sangat bahagia, ku pandangi wajah kakak ipar ku yang begitu kentara tidak sehatnya. Ada senyum yang terukir di wajar pucatnya. Ia tak berkata apa – apa saat ia melihat bayi mungilnya di gendong ibu ku, ia hanya tersenyum menyaksikan bayi itu. Lalu ia menutup matanya dengan begitu tenang, kami semua yang menyaksikan langsung panik, ayah ku memanggilkan dokter, aku berusaha membangunkannya, ku panggil – panggil namanya namun tetap tak ada jawaban, matanya pun tak mau terbuka, ibu ku yang sedang menggendong si kecil ikut panik, lalu si kecil menangis begitu keas. Keadaan saat itu begitu kacaunya hingga dokter datang kami semua sedang menangis. Dokter menyuruh kami semua keluar dulu, aku dan ayah menuntun ibu ku untuk keluar dengan tetap menggendong si kecil. Tak ada satu katapun yang kelua dari mulut kami. Kami semua diam dalam kebisuan. Tak seberapa lama kemudian dokter keluar untuk mengabarkan bahwa kakak ipa ku telah tiada. Ia telah menghadap sang pemilik nyawa. Kami semua menangis, bahkan si kecilpun seolah mengerti akan kedukaan itu, ia pun turut menangis.

***

Kini usia keponakan ku telah memasuki usia tiga tahun, ia begitu menggemaskan. Kami memberinya nama fajri idhatul akbar. Semoga kelak ia menjadi seperti apa yang di harapan kedua oarang tuanya. Ku pandangi lagi wajah mungil fajri. Waja yang begitu tenanang, bening seolah tanpa beban. Wajahnya selalu tampak bahagia. Aku berharap hanya wajah gembira itu yang akan terus menghias hidupnya. Ku dekati dia, ku kecup kening nya lalu ku peluk tubuh kecil itu perlahan. Tiba – tiba terdengar suara mungil nya yang bau bangun tidur. Ku pandangi wajah unyuk –unyuk itu. Ia benar – benar mirip abang ku dan kakak ipar ku perpaduan keduanya begitu kentara terlihat pada wajah fajri. Ia menatap ku, tatpannya begitu lembut sama seperti tatapan ibunya. Lalu aku berujar pada fajri “ fajri sayang, jadi lah pemuda sholeh seperti apa yang di harapka kedua orang tua mu, lalu bela lah agama allah ini”. Aku tahu dia pasti tak faham apa yang sedang ku katakan. Lalu ku peluk tubuh mungilnya sambil berujar “ jangan lupa doa kan kedua orang tua mu sayang”. Ia mempererat pelukkannya. Seolah ia tahu apa yang sedang ku katakan