Ramadhan, datang hanya sebulan dalam setahun…

Ramadhan, seharusnya adalah waktu yang akan memberikan ketenangan batin…

Ramadhan, alangkah nikmatnya jika mendekatkan diri pada Illahi, membaca kalamNya dan menemuiNya di tengah malam…

Ramadhan, kukira nafsu angkara murka akan bisa tenggelam, walau sekejab…

Tapi, Ramadhan hari ke 21 ini, ada kisah biadab atas nama yang mereka kira cinta…

http://news.detik.com/read/2013/07/30/075528/2318285/10/tersangka-pembunuhan-di-ciputat-berharap-tertangkap-setelah-lebaran?991104topnews

Apa yang bisa ditarik dari kisah asmara durjana dua anak usia muda itu?

Sungguh suatu hal yang sangat memprihatinkan. Prihatin pangkat sepuluh atau lebih. Seorang laki-laki usia 17 tahun, membunuh mantan pacarnya yang masih berusia 14 tahun, setelah berhubungan intim di siang hari di bulan Ramadhan, hanya untuk menyenangkan pacarnya yang ingin punya motor. Sadar dirinya tidak mampu menyenangkan hati kekasihnya, maka dicarilah jalan pintas, yaitu mengambil motor mantan pacarnya. Rencana sudah disusun, tapi apa daya tidak sesuai yang diharapkan. Motor tak dapat, hingga akhirnya ditangkap polisi dan dijebloskan ke penjara. Harapannya untuk ditangkap setelah lebaranpun pupus. Penjara, tempatnya merayakan hari kemenangan. Kemenangan setan atas dirinya.

Berapa banyak hal-hal yang mengundang decak heran dan geleng-geleng kepala?

1. Usia muda, sudah berani-berani pacaran. Di berita lain, diceritakan awalnya si korban yang meminta untuk berhubungan intim dengan pacarnya, namun ditolak. Dan pada akhirnya, mereka berhubungan intim. 14 tahun dan 17 tahun. Jika usia belia semua sudah diberi, lalu apa lagi yang tersisa?

2. Gaya pacaran yang aneh, dengan panggilan Ayah dan Bunda. Oh, betapa rasanya makna ayah bunda jadi menyempit. Seperti kehilangan makna dan keagungannya.

3. Berhubungan intim di siang hari di bulan Ramadhan. Apakah tak terpikir untuk menghormati bulan suci ini? Setelah itu membunuh pula. Apa yang ada di pikiran laki-laki itu?

4. Sudah tahu tidak mampu secara ekonomi untuk membelikan barang mahal, tapi dengan alasan menyenangkan hati pacar, apapun akan dilakukan. Apakah ketakutan ditinggal pacar lebih dominan daripada membunuh?

5. Bagaimana mungkin, alangkah naifnya pacar laki-laki tak bermoral itu yang malah ingin mengikuti kekasihnya ke penjara? Mungkin sebagai bentuk tanggungjawabnya karena secara tidak langsung dia yang menyebabkan semua itu. Dan pengakuan bahwa pacarnya telah membunuh ditanggapi biasa-biasa saja. Tidakkah terpikir, kalau nanti pacarnya tergoda sama yang lain kisah yang sama akan menimpanya?

Mengapa mereka bisa seperti itu? Mungkin memang generasi alay ya seperti itu. Seperti orang yang tidak berpendidikan. Seperti tidak punya adat dan norma selain norma yang mereka punya. Yang senangnya nonton acara sinetron, musik, lawakan yang tidak bermutu. Yang dengan tanpa beban memaki ‘Setan lu’, ‘jalan sana lu duluan ke akhirat, gue nyusul’, ‘masuk ke dasar neraka sana lu’, ‘bangsat jahanam deh lu’… Mereka sudah tidak takut lagi pada setan, iblis, dan panasnya neraka. Seolah-olah hanya singgah ke suatu tempat dan keluar lagi. Dan gaya pacaran ala alay, ah.. saya tidak mau memikirkannya apalagi membayangkannya. Kisah di atas saya yakin menggambarkan realita yang ada. Tidak hanya terjadi di bulan Ramadhan, tapi akan lebih banyak terjadi di bulan-bulan lainnya, baik yang alay ataupun non-alay