Sungguh mengejutkan ketika membaca berita bahwa Raja Saudi justru menjadi kepala negara pertama yang mengucapkan selamat kepada pemimpin baru hasil kudeta militer di Mesir. Terkait ucapan selamat itu, Raja Abdullah mengatakan, “Atas nama saya sendiri dan atas nama rakyat dari Kerajaan Arab Saudi, saya ucapkan selamat kepada kepemimpinan Mesir baru pada titik kritis dalam sejarahnya,” kata sang raja yang dipublikasikan oleh kantor berita Saudi SPA. “Dengan demikian, saya memohon kepada Allah SWT untuk membantu Anda memikul tanggung jawab yang diletakkan di bahu Anda dalam mencapai harapan rakyat Mesir.”

Raja Abdullah juga memuji angkatan bersenjata Mesir, dengan mengatakan: “Pada saat yang sama, kami berjabat tangan erat dengan pihak militer, yang diwakili oleh Jenderal Abdel Fattah al-Sissi, yang berhasil menyelamatkan Mesir saat ini dari terowongan gelap.”

Tidak sekedar memberi ucapan selamat, lebih jauh Arab Saudi bersama UEA “mengguyur” Kairo dengan bantuan senilai 8 juta dolar AS pada Selasa, 9 Juli 2013, untuk menunjukkan dukungan mereka atas tentara Mesir yang mendepak Ikhwanul Muslimin dari kekuasaan, sehari setelah tentara menewaskan puluhan pendukung gerakan itu. Demikian diberitakan Al Arabiya.

Baik Arab Saudi dan UEA telah menjanjikan bantuan setelah mantan diktator Husni Mubarak digulingkan pada tahun 2011, tetapi bantuan itu ditahan pada masa pemerintahan Mursi. Pemerintahan Mursi telah dibantu dari Qatar, yang memiliki hubungan hangat dengan Ikhwanul Muslimin.

13751190501268039665

Raja Abdullah dan Obama (wordfromjerusalem.com)

Sebenarnya jika mengingat bagaimana hubungan kerjasama Arab Saudi dengan Amerika Serikat, ucapan selamat itu tidaklah mengejutkan. Dalam Perang Teluk yang pertama, Raja Fahd dengan resmi memerintahkan penggelaran pasukan Amerika di tanah Saudi. Kerajaan itu menjadi tuan rumah bagi 600.000 pasukan Sekutu hingga kas negara mengalami defisit. Amerika mengeluarkan $60 miliar pada Perang Teluk pertama. Kuwait membayar separuhnya dari anggaran itu.

Dan kini Arab Saudi menyediakan wilayahnya sebagai pangkalan udara rahasia yang dioperasikan oleh CIA untuk melancarkan serangan dengan drone (pesawat tanpa awak) terhadap sasaran Al Qaeda di Yaman, tetangga Saudi. Media AS (5/2/013) melaporkan bahwa operasi itu telah berlangsung selama dua tahun terakhir.

Serangan udara dengan pesawat tak berawak AS yang dilancarkan dari pangkalan rahasia di Saudi merupakan hal yang memalukan bagi pemerintah kerajaan itu. Kelompok-kelompok konservatif telah lama menuduh pihak berwenang Arab Saudi terlalu dekat dengan AS. Mereka antara lain keberatan dengan kehadiran pasukan asing non-Muslim di negara mereka.

Lain Raja Abdullah, Lain Raja Faisal

13751184381879282470

Raja Faisal (wikipedia.org)

Berbeda dengan Raja Abdullah yang begitu dekat dengan Amerika, Raja Faisal yang memerintah tahun 1964 – 1975 justru sangat tegas menentang Amerika. Raja Faisal adalah kepala negara Arab Saudi yang paling populer hingga saat ini. Dia pernah dinobatkan sebagai Man of the Year 1974 versi majalah TIME, sebuah media massa terkemuka di Amerika Serikat. Raja Faisal juga dikenal sebagai pelopor embargo minyak yang dilakukan negara negara Arab terhadap Amerika Serikat pada bulan November 1973. Embargo ini dilakukan sebagai dukungan terhadap serangan yang dilakukan Mesir dan Suriah terhadap Israel.

Negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang sebelumnya mendukung Amerika pun berbalik diam dan meninggalkan dukungannya atas Amerika karena takut terkena embargo besar Raja Faisal tersebut. Akibat dari embargo tersebut atas Amerika Serikat adalah lumpuhnya sektor industri dan transportasi, bahkan perekonomiannya menjadi kacau hingga mengalami krisis berkepanjangan yang diperkirakan baru bisa pulih selama sepuluh tahun kemudian (sejak dimulainya embargo).

Dan keputusan embargo yang dipelopori oleh King Faisal ini membuat beliau menjadi sangat dihormati di seluruh wilayah Arab. King Faisal sendiri digambarkan sebagai orang yang soleh, raja yang suka berdialog dengan rakyatnya. Diceritakan bagaimana beliau sering menggelar sajadah di tepi pantai, dan sholat dalam kesendirian bersama alunan ombak. Dan jika berjamaah di mesjid, king Faisal suka mengundang jamaah mesjid makan bersama di istananya.

Raja Faisal juga dikenal sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Ia sangat memperhatikan kepentingan rakyatnya, banyak sekali program-program baru yang dicanangkannya selepas penobatannya sebagai kepala negara. Di antaranya adalah melakukan penyederhanaan gaya hidup keluarga kerajaan serta melakukan penghematan kas kerajaan dengan menarik 500 mobil mewah Cadillac milik istana, dana dari hasil program diatas salah satunya terealisasi pada pembangunan sumur raksasa hingga sedalam 1.200 meter sebagai tambahan sumber air rakyat untuk dialirkan pada lahan-lahan tandus disemenanjung Arab.

Sayang sekali, masa pemerintahannya tidak berumur panjang. Pada 25 Maret 1975, Raja Faisal wafat karena dibunuh keponakannya, Pangeran Faisal bin Musa’id, yang baru saja pulang dari kuliahnya di San Fransisco State College dan University of Colorado Amerika Serikat. Pembunuhan itu terjadi di sebuah majelis acara di mana Raja biasa menerima warga untuk berdialog. Di ruang tunggu, Pangeran Faisal sedang berbicara dengan perwakilan Kuwait yang juga tengah menunggu untuk bertemu dengan Raja Faisal. Ketika Pangeran bergerak untuk memeluknya, Raja Faisal membungkukkan kepalanya agar dicium oleh keponakannya sesuai budaya Arab. Saat itulah, Pangeran Faisal mengeluarkan pistol dan menembaknya.

Penyelidikan resmi menyatakan pembunuhan itu dilakukan sendiri. Namun banyak pihak meyakini bahwa Amerika dengan CIA-nya berperan sebagai dalang pembunuhan itu.