Bersandar di batang mahoni yang lapuk, dia duduk terpaku menatap hamparan rumput. Sepotong kayu yang digenggam di tangan kanannya diketok-ketokkan ke tanah. Wajahnya kusut. Rambut sebahunya awut-awutan. Tangan kirinya diperban. Matanya menerawang jauh, dengan tatapan kosong. Tiba-tiba dia tengadahkan wajahnya ke langit. Dipandanginya langit mendung dengan gumpalan awan tebal dan pekat itu. Lama…lama…. Dan lama.
Gerimis mulai turun, membasahi tubuhnya yang diam terpaku, bergeming, bak pantung, tak bergerak. Kembali, ditengadahkan wajahnya ke angkasa. Dipejamkannya mata sendu itu. Hanya beberapa saat. Lalu perlahan dibukanya kelopak matanya. Perih! Dia merasakan tangannya begitu perih. Balutan perban dipergelangan tangannya memerah. Luka bekas sayatan pisau itu mengucurkan darah lagi. Angin menghempas keras kulitnya, menusuk sampai ke tulang. Dingin.
Pandanganya mulai samar, berputar, sesaat kemudian gelap. Dia terkulai layu di bumi. Angin senja terus berhembus menusuk pori-porinya. Gerimis pun ikut menemani. Tubuh itu tak bergerak, diam tergeletak di tanah. Beberapa saat.
Dia merasakan tubuhnya mulai hangat. Aroma melati tercium dari hidung bangirnya. Matanya terbuka sekejap, lalu menutup lagi. Kali ini, kelopak mata itu terbuka lama. Dia tertegun. Tempat itu terasa asing baginya. Lemari tiga pintu ukiran Jepara berdiri kokoh di depannya, dinding warna biru muda membuat sejuk matanya memandang. Kamar itu luas, indah dan cantik.
Aroma melati masih terasa menembus rongga hidungnya. Di sana, di atas meja kecil, di sudut ruangan, melati putih menjuntai dari vas coklat bermotif naga. Tempat tidur yang empuk menopang tubuhnya yang masih terbaring lemas. Dia merasa sangat nyaman dan damai. Dia masih terpaku, terpana seorang diri. Inikah surga?

***“Kamu bantu ibu aja,”
Dia merajuk, duduk bersandar di tiang penyangga yang mulai keropos, di tengah-tengah ruangan pengap pagi itu. Mukanya ditekuk, pandanganya tertuju ke lantai tanah. Dimainkannya ujung rok motif kembang yang dikenakan dengan jari- jari tangannya. Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibir tipisnya. Dia masih diam terpaku.
“ Kita tak punya uang sebanyak itu,”
Seorang wanita berbaju lusuh dan kumal berdiri di depannya. Perlahan dia melangkah, kakinya pincang, urat-urat di tangannya terlihat menonjol. Rambutnya mulai ubanan. Umurnya empat puluh tahun. Namun wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usianya.
Didekatinya gadis yang sedang duduk didepanya. Dari tempatnya berdiri ditatapnya remaja yang sedang merajuk itu, dia lalu duduk tepat di hadapan anak perempuan yang tetap menundukkan kepalanya tersebut. Perlahan, dijulurkan tangannya ke kepala sang gadis, mencoba membelainnya. Namun tiba-tiba gadis itu menepis tangannya. Mata sayu perempuan itu tersentak kaget, badannya terdorong beberapa senti ke belakang. Rona kekecewaan terpanjar dari wajahnya. Jelas hatinya terluka! Sesaat dari sudut mata yang mulai berkerut itu mengalir air bening. Wanita itu menangis.
Dia bangkit dari tempat duduknya, dengan kaki yang terpincang-pincang, melangkah ke luar rumah bedeng itu. Sayup-sayup masih terdengar sesenggukannya. Diambilnya tumpukan kardus-kardus bekas di depannya, lalu dimasukkan ke dalam gerobak kusam di samping gubuk reot, tempat dia dan ketiga anaknya berteduh selama ini. Sesekali disekanya air mata dengan kerah daster kucel yang dipakainya. Pagi itu mendung, semendung perasaanya saat itu.

***

Gadis belia itu masih membisu. Sejuta angan bermain di kepalanya. Berhayal andai saja dia terlahir sebagai anak pengusaha sukses, pasti hidupnya akan bahagia, jauh dari penderitaan. Mau apa saja tinggal minta. Punya tas, sepatu dan baju bagus. Pulang pergi ke sekolah diantar dengan mobil mewah. Dan yang terpenting dia akan bisa terus sekolah, bahkan di sekolah elit dan bermutu sekali pun.
Diangkat kepalanya yang beberapa menit lalu masih tertunduk lesu itu. Dipandanginya sudut rumah sambil menghela nafas panjang. Matanya kembali menerawang jauh. Banyak hal sedang berkecamuk di pikirannya. Dia marah dengan hidupnya. Dengan nasibnya. Dan dengan ibunya. Dia menyesal terlahir sebagai anak pemulung. Dia kecewa dan kesal dengan ibunya yang tidak mau mengerti keinginannya untuk melanjutkan sekolah.
“ Cari makan makin sulit, lebih baik kamu berhenti aja,”
Kata-kata itu bagai pisau tajam menghujam ulu hatinya. Hatinya terluka, tercabik, dan berdarah. Ibunya seolah telah merampas harapannya. Menghancurkan impiannya. Seharusnya ibunya berusaha lebih keras mencari uang untuk membiayai sekolahnya. Seharusnya ibunya kerja sampingan selain memulung agar dia bisa tetap sekolah. Bukan menyuruhnya berhenti sekolah dan membantunya memungut kaleng dan kardus bekas.
Matanya berbinar, senyumnya sumringah, hatinya berbunga setiap kali mendengar pujian teman, guru, di sekolah, kalau dia anak yang pintar. Tapi kenapa ibunya tidak mau mengerti dengan keinginannya itu. Kenapa ibunya bilang bertahan hidup jauh lebih penting dari sekolah. Dia benar-benar marah pada ibunya. Dia tidak bisa menerima alasan wanita yang telah membesarkannya itu.
Seharian dia mendiamkan saja ibunya. Tidak mau bicara dan mogok makan. Kerjanya hanya bengong, malas-malasan dan tidur-tiduran di atas tikar pandan butut di sudut gubuk reot yang telah ditempati keluarganya selama empat belas tahun. Tepatnya sejak dia lahir.
Langit di luar mulai gelap. Angin malam berhembus kencang. Langkah-langkah kaki kecil perlahan mendekati, membuat dia tersentak dari lamunan dan bangkit dari pembaringan. Dipandanginya dua wajah tirus anak lelaki di hadapannya dengan tatapan kosong. Mereka tersenyum padanya. Namun dia tetap membisu. Mulutnya terkatup rapat-rapat. Tak berusaha tersenyum sedikit pun.

“Mbak, hari ini hanya segini yang kita dapat,”
Tangan mungil bocah lelaki itu menggenggam kaleng susu bekas. Di dalamnya ada uang receh senilai sembilan ribuan. Dijulurkan kaleng itu ke hadapan gadis muda yang masih duduk di depannya.
“ Besok kita cari uang lagi,”
Dipandanginya koin didepannya. Dihelanya nafas panjang. Gurat kekecewaan makin memuncak dari raut wajahnya. Uang segitu tentu saja tidak cukup untuk membayar tunggakan SPP yang sudah enam bulan itu. Dia makin gamang. Satu-satunya harapan sekarang hanya tinggal menjalankan ide yang telah dipikirkannya seharian tadi. Dia berharap cara itu berhasil meyakinkan ibunya agar mengizinkannya tetap sekolah.
Malam semakin merayap naik. Cahaya bulan tampak temaram tertutup awan. Kedua bocah sudah tertidur pulas dalam mimpi-mimpi indahnya. Di pojok ruangan, dia melihat ibunya yang sedang menyusun kardus. Perlahan didekatinya perempuan yang matanya terlihat lelah dan suram itu.
“ Pokoknya aku tetap sekolah, atau ibu mau lihat aku mati ,”
Ancamannya membuat perempuan itu kaget. Hanya sedetik dia terperanjat, namun kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. Keputusannya sudah bulat. Dia tak sanggup lagi membiayai sekolah putrinya. Penghasilannya semakin hari semakin berkurang. Sementara biaya sekolah dan kebutuhan hidup lainnya malah semakin tinggi.
Dia tahu keputusan itu tidak bisa diterima anaknya, tapi tak ada jalan lain selain berhenti sekolah. Meski dia tahu anak perempuanya itu rajin, tekun dan pintar. Nyatanya kalau cuma mengandalkan uang dari hasil memulungnya tentu tak mencukupi. Selama ini tak ada bantuan dan beasiswa untuk anaknya itu. Mereka hanya sebatas memuji, tapi tak pernah membantu mengatasi kesulitan biaya sekolah.
“Baik, jadi ibu lebih suka aku mati,”
Tiba-tiba pergelangan tangan kiri putrinya mengucurkan darah. Seketika itu wanita itu berteriak histeris, sambil menutupi asal darah yang terus mengucur keluar dari pergelangan tangan anaknya, dengan kedua telapak tangannya. Jeritan kerasnya membangunkan kedua bocah yang sedang terlelap. Dia terus memegang pergelangan tangan itu sambil mendekap buah hatinya yang mulai terkulai lemas.

***
Senyum manis wanita paruh baya meyembul dari balik pintu. Kedua belah tangannya menggenggam erat nampan coklat berisi sepiring nasi lengkap dengan lauk dan segelas air. Dia melangkah mendekati bibir ranjang tempat gadis yang masih terbaring lemas. Lalu diletakkannya nampan itu di atas meja.
“ Kamu makan dulu ya, biar nggak lemah terus,”
Gadis itu perlahan bangkit dari tempat tidur. Diambilnya piring nasi dari atas nampan. Lalu dia pun mulai makan dengan lahapnya. Selama ini tidak pernah dia menikmati makanan selezat itu. Matanya berbinar, dia menyunggingkan senyum pada wanita yang berdiri di sampingnya.
Dia kembali mereka-reka bagaimana bisa sampai ke tempat asing itu. Dia baru tahu sempat pingsan selama setengah jam. Dia hanya ingat waktu itu tangannya terasa perih, lalu kemudian semuanya gelap. Dia memang pingsan di hamparan kebun kosong di belakang rumah mewah itu. Rumah yang bak istana dalam buku cerita dongeng yang sering dibacanya.
Tinggallah kini dia di rumah itu. Menjadi tuan putri yang disanjung dan dipuja. Dia dimanja, disayang, dikasihi dan dicintai. Bagai mimpi yang jadi kenyataan. Wajahnya berseri sepanjang hari. Senyumnya pun merekah sepanjang malam.

***
Perempuan itu hanya bisa meratap sedih. Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun. Menanti putri kesayangannya pulang. Deraian dan tangisan tak terbendung sepanjang waktu. Air mata itu pun terkuras habis, mengering. Tubuhnya semakin ringkih. Dia terkapar layu di pembaringannya.
Dia hanya terbaring menanti keajaiban. Menyisakan sedikit asa buat hatinya. Mencoba menghibur laranya detik demi detik. Berharap suatu hari buah hatinya kembali ke pangkuannya.
Dua tahun lamanya menanti dalam ketidakpastian. Dua tahun menunggu kembalinya sang gadis ayu tanpa hasil. Dua tahun yang melelahkan. Dua tahun yang menguras segalanya.
Tidakkah remaja itu tahu, kalau ibunya sangat mencintainya. Kalau ibunya sangat memujanya. Kalau ibunya sangat merindukannya. Kalau ibunya ingin mendekapnya. Kalau ibunya juga terluka karena tak mampu membiayai sekolahnya lagi. Mungkin dia memang tidak tahu, atau tidak mau tahu.
Kepergian gadis itu terus diratapi. Kepergian yang diartikannya akibat kesalahannya. Kesalahan yang bahkan membuat hatinya sendiri tak memaafkan ketakberdayaannya. Dia menyalahkan dirinya sendiri. Dia menyesali itu. Bahkan sampai mati.
***
“ Dua orang tewas, puluhan rumah habis terbakar,”
Headline surat kabar Nasional itu menarik perhatiannya. Disela-sela sarapan pagi, dia terus membaca baris demi baris berita kebakaran tersebut. Entah mengapa perasaannya diliputi kecemasan. Jantungnya berdegup kencang. Kata-demi kata yang dibacanya malah semakin membuat hatinya gundah.
Perasaan aneh itu terus menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya seakan tidak percaya saat membaca paragraph “dua bocah lelaki yang tewas terpanggang diidentifikasikan bernama Pardi dan Tono. Mereka hanya tinggal berdua sejak ibunya, Karyosih, meninggal dua minggu yang lalu. Sehari-harinya mereka biasa mengamen di perempatan lampu merah,”
Kalimat yang membuat dadanya sesak, jantungnya seakan berhenti. Yang membuat nafasnya tak teratur. Tangisnya pecah, meraung dan menjerit pilu, membahana ke seluruh ruangan. Pagi yang menimbulkan lara di rumah mewah itu.
Diratapinya jenazah dua bocah yang telah jadi arang itu. Tangisnya makin memilukan. Matanya sembab karena tak hentinya mengeluarkan air mata. Berkali-kali dia jatuh pingsan saat prosesi pemakaman.
Kedua bocah itu dikuburkan di samping pusara sang ibu yang meninggal akibat rasa sedih dan rindu yang luar pada anak gadisnya yang tak kunjung pulang.
Ditatapnya gundukan tanah merah itu. Terbayang kembali hari-hari yang dilaluinya bersama ibu dan kedua adiknya, yang kini terbaring damai di peristirahatan terakhir mereka.
Dikenangnya perjuangan ibunya menjadi seorang pemulung untuk menghidupi mereka. Untuk membiayai sekolahnya. Dia ingat ibunya yang sakit-sakitan itu bekerja keras setiap hari, bahkan tanpa istirahat. Sementara dia hanya pergi ke sekolah tanpa sedikit pun membantu ibunya. Dia hanya belajar, malas-malasan dan tidak perduli bagaimana sulitnya hidup mereka. Dia bahkan kemudian marah dan membenci ibunya.
Air matanya makin deras mengucur. Melayang kembali pahit-getir hidup yang dijalani kedua adiknya. Mereka rela mengamen demi membantu ibunya. membantu membiayai sekolahnya. Mengamen di tengah terik matahari. Atau bahkan di tengah guyuran hujan. Terlintas kembali wajah-wajah tirus kedua bocah itu saat berjuang untuk mendapatkan receh demi receh. Sementara dia hanya bisa mengeluh dan tetap tak mau perduli. Hatinya bagai diiris pisau mengenang semua itu.
Dia bahkan tak pernah mau tahu bagaimana kehidupan ibu dan adik-adiknya sejak dia tinggal pergi dua tahun yang lalu. Tak pernah sedetik pun terlintas dalam benaknya untuk menjenguk mereka di gubuk reot itu. Atau bahkan hanya menatapnya dari kejauhan. Dia terlalu bahagia sehingga tak sedetik pun mau memikirkan mereka. Tak sedetik pun.
Di atas pusara mereka bertiga, dia menyatakan penyesalannya. Penyesalan yang datang terlambat. Penyesalan yang hanya menyisakan duka. Penyesalan yang akan menghantuinya seumur hidup. Bahkan mungkin dibawanya sampai mati. Penyesalan yang entah dengan apa ditebusnya. Saat meninggalkan pusara, terdengar kata yang begitu lirih terucap dari bibirnya,” Maafkan aku!”