Menjelang lebaran saat ini harga bahan pokok semakin melonjak tinggi, seperti tingginya harga cabai di pasar hingga menembus angka 100rb/kg, harga daging sapi yang terus meroket, hingga harga-harga kebutuhan lain. Hal ini rupanya berbanding lurus juga dengan tingginya tingkat kriminalitas di mana-mana.

Masih segar dalam ingatan saya ketika puasa tahun lalu saat Bapak dan Ibu saya memarkir motor maticnya di depan minimarket di kompleks. Hanya berkisar sekian menit untuk beli rokok dan minuman bervitamin, keluar mini market motor sudah raib. Kejadiannya malam hari sekitar pukul 23.00. Apa mau dikata, laporan ke kantor polisi pun hanya tinggal laporan semata. Motor sudah berjalan entah kemana.

Pagi ini ojek langganan saya, sebut saja Pak Tarno (bukan nama sebenarnya), menuturkan kejadian pada malam kemarin, Minggu (28/7), di depan salah satu minimarket yang ada di kompleks di wilayah Tangerang. Ada pencurian sepeda motor bersenjata. Si pencuri a.k.a maling sempat baku hantam dengan satpam minimarket. Si maling kemudian mengeluarkan pistol untuk mengancam si satpam. Merasa tersudut si satpam memanggil bala bantuan, kebetulan lewatlah Buser dari kepolisian. Buser menantang maling lari dan membawa kabur motornya, kemudian Buser menembak si maling.

Saya pun menggeleng-gelengkan kepala. Prihatin sekaligus cemas. Kenapa momen jelang lebaran di saat kita semua harusnya khusyuk beribadah malah jadi ajang pencurian barang berharga.

“Kadang ya bu, orang itu nyolong bukan buat keluarga. Alasan doang ekonomi keluarga, selalu dijadiin kedok,” kata Pak Tarno menambahkan. Saya menyimak sambil memandangi jalan di atas motornya,

“Terus apa dong pak?”

“Ya cuma buat happy ending doang bu. Rata-rata buat mabok, judi, ya buat happy-happy dia sendiri aja sama teman-temannya. Buat gegayaan pas lebaran duit gue banyak. Keluarga mah alesan doang,” tutur pak Tarno.

Saya jujur speechless. Apa iya hanya demi eksistensi diri orang rela sampai mencuri? Gejala kemauan untuk hidup trendy dan update tapi kemampuan tidak ada ternyata wabah yang terus menjangkiti siapa saja. Efeknya, jika kena pada pengangguran dan yang tak berpendidikan, adalah kriminalitas.

“Saya bisa ngomong begini karena saya juga dulu ngelakuin Bu,” tambahnya jujur. Waduuuh yang ini menarik, batin saya.

“Cuma saya pikir masa hidup saya mau gini terus. Ya udah saya tutup buku aja Bu. Mau hidup lebih tenang. Biarpun sedikit yang penting berkah. Istri dan anak-anak bahagia,” Pak Tarno mengaku sambil tetap menjalankan motornya mengantarkan saya ke terminal shuttle tujuan saya.

Lagi-lagi saya kehabisan kata-kata. Saya bersiap turun dan mengeluarkan dompet.

“Setiap orang pasti punya masa lalu kok Pak. Ya yang penting Bapak sekarang sudah taubat. Rejeki Insya Allah ada terus kok,” saya berusaha menghibur Pak Tarno sekenanya. Pak Tarno pun mengamini doa saya. Setelah berterima kasih Pak Tarno kembali ke pangkalan ojek di dekat rumah saya.

Selalu ada hal-hal positif dari sekitar kita ketika kita mau mengamati dan merenungkannya. Penuturan dari cerita Pak Tarno tersebut salah satunya. Memang bukan cerita heroik yang dramatis, tapi bisa dijadikan pelajaran tentang bagaimana “memutar kemudi hidup”.

Ketika dirasakan jalan hidup salah jangan ragu untuk balik kanan, memutar kendali, dan menempuh jalan lain yang diyakini benar. Kesalahan itu manusiawi, tapi lebih manusiawi lagi adalah orang yang belajar dari kesalahannya.

Persis busur panah. Ketika ingin melesat ke depan untuk menembus sasaran, harus ditarik dulu ke belakang agar lebih cepat. Kadang hidup juga seperti itu, untuk maju harus mundur dulu jauh ke belakang. Tapi bukan berarti mundur itu satu keharusan. Karena kita tidak tahu sebatas apa dan seperti apa kadarnya kita mundur atau kadar kita salah pada saat kita belum menyadarinya.

Pepatah atau ungkapan, “Lebih baik mantan penjahat daripada mantan ustadz” itu benar adanya. Karena yang dilihat oleh setiap orang adalah kondisi saat ini, bukan kondisi yang lalu. Bisa saja setiap orang mengklaim bahwa dirinya pernah berbuat baik ini, pernah menyumbang itu, tapi jika yang dilihat oleh orang lain saat ini adalah kejahatan atau kejelekan tetap saja jelek. Tak ada gunanya sejarah dalam perbuatan. Sejarah itu bacaan bukan dalam perbuatan.

Introspeksi diri adalah esensi dari ibadah puasa di bulan ramadhan. Introspeksi atas berbagai kekhilafan dan kesalahan yang mungkin pernah kita lakukan. Introspeksi diri tidak harus menjadi pelaku atas apa yang kita renungkan atau sesalkan. Bisa saja pelakunya orang lain tapi kita introspeksi diri agar tidak seperti itu. Sama seperti tidak harus terjun dulu dari lantai 26 untuk membuktikan bahwa terjun dari lantai teratas gedung akan mati. Cukup dengan melihat dan membaca dari informasi yang ada sudah bisa menumbuhkan keyakinan terhadap itu. Maksudnya, tidak harus menjadi penjahat dulu untuk menjadi orang baik. Cerita dan pengalaman orang lain kadang alat introspeksi yang sangat membantu.

**catatan pagi di shuttle 30 Juli 2013*