Dibawah langit mendung ini, aku bersumpah, esok akan kujelajahi setiap podium, menggapai setiap impian-impian terdahulu. Mic didepan mulutku, kugerakkan setiap sisi lidah, berbicara sebisaku, kalau perlu yang memancing tepuk tangan membahana. Hidup harus punya cita-cita, itulah mengapa Alloh memberi karunia luar biasa dengan menciptakan setiap panca indera yang terpasang di tubuh ini, melengkapi semua unsur sebagai makhluk hidup.

“Mas, kok kamu bisa menjuarai banyak lomba? Resepnya apa?” sebuah pertanyaan meluncur begitu saja, polos tanpa tedeng aling-aling, sayang tak ada jawaban sepatah katapun keluar, ia meninggalkanku begitu saja. Mas Bagus namanya, begitu akrab dipanggil Igus. Orang-orang fakultasku mengenalnya lebih dari seorang mahasiswa biasa, ia seorang provokator, seperti pengakuannya dalam biodata buku yang ditulisnya.

Entah provokator macam apa, sesungguhnya ia penggerak diskusi, mendobrak setiap kekakuan dan kebekuan berpikir mayoritas calon-calon intelektual masa kini. Diam-diam ku sangat mengidolainya, sungguh luar biasa prestasinya, ide-ide gilanya sangat dahsyat.

Terlalu bodoh diriku ini, dulu ku pernah berseberangan, bodohnya diri ini, terlalu taklid pada dosen, kuanggap perjuangannya membela idealisme semata mencari masalah bukan menemukan permasalahan. “Mas, kata dosen, jurnalistik jangan suka mencari masalah, seharusnya menemukan permasalahan”

Bagai disulut api, pemuda yang lebih tua tiga tahun ini dengan berapi-api membalas, “Tahu gak sih kamu, jurnalistik itu fungsinya untuk mengontrol, kamu tahu, mereka para birokrat, takut jika kinerja buruknya disoroti”

“Sejatinya, kalau mereka kinerjanya bagus, kita tidak bakal membahasnya, ini bentuk perhatian kok”.

Begitu polosnya aku ini, apalagi masih berstatus pendatang baru dikampus, masih menganggap omongan dosen adalah paling benar, seperti ketika aku berhadapan dengan guru dimasa sekolah dulu. “Mas, tapi kata Ibu itu jurnalistik itu harus lebih bersahabat dan beretika lho, harus ikut menyumbangkan saran-saran konstruktif, bukan cari-cari masalah”.

“Jurnalisitik itu sejatinya harus kritis, jurnalistik adalah alat ampuh untuk mengontrol setiap ketidakberesan di dunia ini, artinya jurnalistik adalah salah satu alat untuk melawan kesewenang-wenangan”.

Sekarang dengan pemikiran yang semakin dewasa ini, aku pun menyadari jurnalistik juga bisa menjadi alat kebohongan, tergantung siapa yang punya kepentingan, terlihat sudah dengan mata telanjang, media-media penebar kebohongan bertebaran, menyajikan berita pun seperti amatiran, tidak menerapkan konsep cover both side, wacana-wacana bertebaran tapi berat sebelah, kadang yang benar menjadi salah, yang salah menjadi biasa, lama-lama dibenarkan.

Kala itu suasana agak memanas, jawaban konyol muncul, “Ah, gak semua yang dikampus kita ini jelek kok, buktinya masih banyak yang terpesona dengan tempat ini?”, kakak tingkatku ini terdiam saja, sepertinya ia terbahak-bahak di belakang, menertawakan kebodohanku sebagai seorang mahasiswa baru, yang manut begitu saja kepada seorang pengajar.

Belakangan kutahu inilah bedanya kuliah dengan sekolah. Di sekolah semua pendapat guru benar dan tidak ada yang dibantah, celakanya walau otoritarianisme sudah angkat kaki, tapi datanglah apatisme. Sungguh penyakit pikiran satu ini mengerogoti kreativitas dari dalam, mengokohkan apa yang disebut sebagai kemalasan. Sedangkan di kampus, sikap kritis adalah emas, tidak semua pendapat dosen benar, mahasiswa boleh membantah bahkan mungkin mendebatnya jika memang memungkinkan.

Diujung dialog itu, dia berpesan “Kita itu kuliah disini membayar, sudah sepatutnya menyuarak hak-hak kita, mereka itu takut, jika ada sesuatu yang kurang sesuai, maka saat itulah kita harus melawan!!!”.

“Menurutku, pikiranmu tidak mencerminkan seorang mahasiswa”.

“Kalau kamu merasa tidak cocok, mending tidak usah bergabung”.

Sejak itu, aku lebih sering diacuhkan, kutangkap kesan otoriter darinya, tampak bahwa ia kurang menerima perbedaan, tapi itulah sikap dalam mempertahankan idealisme, temanku berkata bahwa idealisme selalu berbanding lurus dengan otoriter, karena setiap orang sejatinya punya pandangan berbeda, kecuali mereka yang mabuk cinta dan mabuk doktrin.

Kini disebuah toko sepatu, berjejer aneka macam alas kaki, harga-harganya setinggi langit, mencekik kantong seorang perantaun. Tersadar Ipku kemarin turun, malu sekali, ibuku orang berpendidikan, sedikit tahu tentang seluk beluk perkuliahan. Bagaimana menjelaskan tentang ini?.

Coba kutawar, “Mba, bagaimana kalau 60 saja?”, mengejutkan sekali kemudian, “Tidak bisa ditawar Mas”, seketika aku pergi, sedangkan Mas Bagus juga berpergian ke penjuru negeri, menaklukan setiap lomba penalaran. Aku? Hanya kuliah-pulang, menghabiskan uang hasil keringat kedua orang tua. Sudah sepantasnya mahasiswa meninggalkan hedonisme, hijrah dan menetap sebagai seorang proletar sederhana, ku bertekad menggapai setiap panggung kompetisi daripada harus menjadi sampah di kampus tercinta ini
DEMAK,..