“Jadilah pendidik, bukan pengajar.” – anonymous.

Adik saya baru masuk SMA. Ia masuk di sekolah tempat saya mengemban studi yang sama beberapa tahun yang lalu. Sekolah ini merupakan sekolah swasta, yang lokasinya masih bisa terjangkau dari lokasi rumah kami. Saya serta merta sangat antusias mendapati fakta bahwa ia sangat senang berada di sekolah barunya. Kepulangan saya ke Tangerang dari Jatinangor, bahkan membuatnya lebih senang lagi. Kami pun banyak bercerita tentang teman-temannya yang asik, gak neko-neko, dan perhatian, lingkungan sekolah yang asri, serta (penampilan) guru-gurunya yang sedap-sedap dipandang. Ups.. Terlepas dari semua itu, dari ceritanya, ada satu hal yang mengganjal dalam hati saya.

Beberapa hari yang lalu, adik saya menceritakan sedikit, setelah saya pancing-pancing untuk berbicara, tentang bagaimana kepengajaran guru-guru di sekolah barunya itu. Ia mengatakan bahwa satu dari seorang guru di sana, sebut saja Ibu Nania–sengaja saya samarkan namanya, yang mengatakan sesuatu yang agak vulgar sewaktu mengajar di kelas. Adik saya juga menambahkan bahwa kata-katanya itu sudah kelewat batas untuk ditangkap anak-anak SMA kelas X. Ibu Nania, hari itu, menurut cerita adik saya, masuk ke kelas dengan gaya yang sudah menjadi ciri khasnya: ngibas-ngibas rambut sambil senyum ceria. Ia masuk, lalu setelah beberapa menit kemudian, ia mengatakan, “Gue tau kalian sering (maaf) coli (ungkapan lain dari ‘masturbasi’ untuk laki-laki),” sambil menujukan pandangan kepada murid laki-laki, “itu wajar-wajar aja. Tapi kalo menurut agama itu gak boleh tau.”

Plak! Maksudnya apa…

Adik saya pun, setelah mendengar demikian, hanya bisa menganga heran karena–tak ada angin tak ada badai–si guru tiba-tiba menyelewengkan topik yang seharusnya diajarkan, kepada topik yang tidak ada hubungannya sama sekali. Adik saya pun hanya bisa tertawa sambil melanjutkan cerita-cerita serunya yang lain.

Lalu, apa yang mengganjal dalam hati saya?

Sikap para pengajar tersebut yang belum berubah dari waktu ke waktu. Hal inilah yang membuat saya agak kurang sreg sama perilaku dan topik-topik yang terkadang tidak terlalu esensial, bahkan bisa “membunuh” bagi para muridnya. Saya bisa berkata demikian karena saya pernah merasakan hal itu selama hampir tiga tahun bersekolah di SMA tersebut.
Teachers Cursing (sumber: memestache.com)

Teacher

Adanya bentuk-bentuk ujaran, gestur, gimik, atau perilaku yang menyimpang yang dilakukan oleh para teknisi pedagogi ini menegaskan garis dikotomi antara dua respons pada murid-murid yang saling bertolak belakang: yaitu mereka yang “pro” dan mereka yang “kontra.” Mereka yang “pro” mungkin akan beranggapan bahwa si guru tadi hanya melontarkan lelucon, tidak bermaksud apa-apa. Dalihnya bermacam-maca, bisa sebagai murni lelucon, pembunuh kebosanan, atau, bahkan, teknik bersosialisasi efektif dengan murid. Efektif…. Sementara yang kontra menganggap bahwa bentuk-bentuk tersebut merupakan hal yang tidak patut untuk dilakukan di ruang lingkup sekolah, khususnya di ruang kelas. Lebih parahnya lagi, bagi sebagian murid yang cenderung agak pasif, ujaran-ujaran si guru tentu akan berpengaruh besar baik terhadap pola belajarnya maupun terhadap kondisi psikisnya.

UU RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada bagian Ketentuan Lain dan Penjelasan di butir 5 pasal 4, sudah menjelaskan bahwa “yang dimaksud dengan guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran guru antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik,” bukan mereka yang, meskipun dalihnya semua itu dilakukan secara sengaja, mendemonstrasikan bentuk-bentuk tidak wajar yang mereka sendiri tidak sadar bahwa bentuk-bentuk tersebut dapat memberikan efek samping berbahaya yang berkelanjutan bagi siswanya. Dalam undang-undang pun telah tertulis secara gamblang bahwa satu dari berbagai kriteria seorang pengajar adalah menjadi “perekayasa pembelajaran,” yang sepertinya istilah ini memang sudah di’rekayasa’ dengan cara mereka sendiri yang keliru dan kurang berterima.

Paradigma yang sudah terlanjur mengakar kuat bahwa “Ah…mereka (baca: murid-murid) kan juga udah gede! Pasti ngertilah hal-hal yang ‘begitu’an.” Pembenaran macam ini, atau rasionalisasi, yang menyulap orang-orang yang hanya “menerima kebenaran” seperti itu, pada akhirnya akan menjadi racun mematikan bagi generasi penerus yang akan datang. Generasi di sini tidak hanya para murid tetapi juga teknisi pengajar. Sangat disayangkan apabila sebuah sekolah mempekerjakan guru-gurunya hanya dari faktor akademis belaka, mengabaikan faktor kognitifnya. Padahal, kembali ke undang-undang, satu dari berbagai persyaratan yang harus dimiliki seorang pengajar adalah menjadi “inspirasi belajar bagi para peserta didik.” Apa jadinya jika murid-murid itu dibesarkan dengan kata-kata kotor yang sudah terlanjur terucap, yang notabene-nya tidak bisa ditarik kembali? Boleh saja guru-guru itu berdalih bahwa mereka “juga manusia.. maklumi kami, manusia emang tempatnya khilaf.” Ya, itu mah udah terlanjur nyesel. Nyesel emang datengnya selalu belakangan, ucapannya kan gak bakal hilang, akan terus melekat. Hmm…

Solusi yang bisa ditawarkan mengenai kasus ini adalah mungkin dengan dilakukannya pengawasan berkala dari pihak sekolah terhadap para teknisi tersebut. Hal itu bisa dilakukan dengan baik mendorong para siswa untuk menegur atau mencatat nama-nama guru yang berbuat menyimpang, yang kemudian dilaporkan kepada oknum-oknum berwenang tertentu di sekolah–dan, ya…secara diam-diam. (Setidaknya itu lebih baik daripada tidak berbuat sama sekali) atau, alternatif yang lain, bisa dengan melakukan kontrol beberapa kali per bulan mengenai kemajuan dan perkembangan kepengajaran para teknisi pedagogi.

Saya yakin tidak hanya di sekolah adik saya saja yang mengalami hal demikian. Kasus serupa pasti juga pernah, bahkan sering, terjadi di sekolah-sekolah di luar sana. Entahlah. Meskipun demikian, saya terus berharap dan terus berupaya agar Indonesia memiliki para teknisi pengajar ulung yang kompeten serta memenuhi syarat, tidak asal rekrut lalu ngomong-ngomong aneh di depan siswanya. Dan saya juga berharap, lewat tulisan ini, agar saya bisa menjadi pengajar yang jauh lebih baik ke depannya.

Amin.

Dengan demikian, saya tutup ’suara’ saya ini dengan satu ayat dari surat Al-Mujadilah:

يَآيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْآ اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجَلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَتٍ وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ـ المجادلة
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis.” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu.” maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. al-Mujadilah: 11)