Pagi ini sudah saya siapkan rencana untuk mengurus surat pengantar dari RT dan kelurahan untuk membuat SKCK sebagai salah satu kelengkapan berkas penempatan saya. Sekitar pukul 06.30 pagi saya mendatangi rumah pak RT di lingkungan saya untuk meminta surat pengantar pembuatan SKCK untuk diteruskan ke kelurahan. Tidak ada hambatan dalam mendapatkan surat pengantar dari pak RT karena beliau adalah tipikal baik. Kemudian saya pergi ke kelurahan sekitar pukul 11.00 siang untuk mendapatkan surat pengantar selanjutnya. Terakhir kali saya kesini tahun 2009 saat membuat Kartu Keluarga, jadi agak sedikit asing dengan perubahan yang terjadi.

Saya masuk dan ditanya ada keperluan apa, dan kemudian saya menjelaskan keperluan saya. Dan ternyata potokopi KK saya tertinggal, saya pun pulang dan mengambil potokopi KK tersebut. Saya datang kembali membawa persyaratan dan ternyata mereka lagi ngobrol karena ada penjual kue yang menawarkan dagangannya. Saya pun duduk di antara mereka dan “di kacangin” selama sekitar 5 menit. Mereka asyik memilih kue karena penjual kue sedang memberi promo gratis.

Setelah sekitar 5 menit barulah saya di tanya keperluannya, saya menjawab dan menyerahkan surat pengantar dari RT, potokopi KTP & KK ke petugas. Petugas itu kemudian mengambil surat pengantar dari RT itu dan saya pikir untuk di jadikan referensi pembuatan surat pengantar selanjutnya namun ternyata surat tersebut di jadikan tempat kue yang di bagikan tadi. Saya tak habis pikir melihatnya, bukankah itu seharusnya untuk arsip? Saya sempat mengambil gambar “bungkus kue” tersebut.

13750794251737325317

Saya ingin cepat-cepat selesaikan urusan tersebut karena sudah terlanjur emosi “di layani” dengan semau-mau. Kemudian petugas tersebut mulai mengetik, eiiiiiits tunggu dulu dia mengetik bukan memakai KOMPUTER tapi masih menggunakan MESIN KETIK yang sudah berkarat. Saya heran, masak sih tidak ada dana untuk mengganti mesin ketik tersebut dengan komputer agar pelayanan lebih baik. Sepanjang dia mengetik saya di tanya-tanya sesuai form surat itu, padahal seharusnya surat pengantar dari RT tadi yang di jadikannya referensi. Setelah selesai dia menyerahkan surat pengantar dan saya pun bertanya “sudah selesai ini bu?” dia menjawab “sudah dek”. Ketika saya mau beranjak pergi petugas itu berkata “Administrasinya dek…”. Saya bertanya administrasi untuk apa, dia menjawab adminisrasi untuk potokopi. Saya pun bingung dalam hati saya, potokopi buat apa gak masuk akal banget. Saya tnanya berapa, dia jawab terserah atau apa saya lupa, yang jelas tidak sebut nominal. Akhirnya dengan terpaksa saya menyerahkan 2 lembar uang 5000 dan langsung pergi karena sudah tak tahan berada disana.

Sebelum ke kelurahan pun saya sudah menduga akan “dipalak” namun tidak menyangka pelayanannya akan sangat ‘memuakkan” seperti ini. Saya yakin banyak rekan-rekan yang pernah mengalami hal yang sama. Ya beginilah Negeri ini koruptor sudah seperti budaya. Dari yang kecil seperti ini di tingkat kelurahan sampai yang tinggi. Saya pun jadi terpikir tentang orang-orang pajak yang dicap semuanya kotor hanya karena seorang Gayus. Saya pun sempat berpikiran demikian sebelum saya merasakan suasana kantor pajak, ya saya sempat magang beberapa bulan disana, kebetulan bagian pelayanan. Di pelayanan kantor pajak semuanya begitu cepat dan tak ada pungutan biaya, mulai dari pembuatan NPWP ataupun pengukuhan PKP. Saat jam istirahat siang pun ada pegawai yang “stand by”, tidak seperti kantor yang sebelumnya saya sebut yang pegawainya sudah entah dimana. Masyarakat atau yang biasa disebut Wajib Pajak pun dilayani dengan ramah dan dilayani dengan baik.

Semua karena media yang “memblow up” kasus Gayus berlebihan sehingga masyarakat menganggap semua orang pajak sama seperti Gayus. Oke kembali lagi ke kantor kelurahan tadi, sungguh miris melihat keadaan seperti ini yang sepertinya sangat sulit untuk di atasi. “Pemalakan” itu di anggap biasa sebagai uang terima kasih, dan menjadi tidak biasa saat tidak di lakukan. Padahal petugas-petugas itu seharusnya tidak meminta uang lagi, mereka sudah di bayar oleh negara bukannya malah minta ke masyarakat lagi. Keadaan ini sulit di atasi juga karena tidak ada tindakan tegas dari atasannya.

Semoga kedepannya ada pemimpin yang bisa bertindak tegas atas masalah seperti ini. Sehingga Negeri ini tidak semakin bobrok tenggelam dalam budaya korupsi ini. Dan semoga anda yang membaca ini tidak melakukan hal-hal yang di lakukan oknum di cerita saya ini ataupun hal-hal yang sejenisnya. kalo seandainya ada oknum yang membaca, bertobatlah sebelum tak sempat.
Besok saya akan ke POLRESTA untuk mengurus SKCK nya, semoga tidak ada kata-kata “Administrasinya dek….” lagi.