t’s Saturday.. and there’s no better time than week end to be loving and caring towards the man of our life.

Seperti biasanya saya selalu berusaha menyeimbangkan penulisan artikel dari sudut pandang Pria dan Wanita secara fair. Artikel kemarin yang berjudul “Ketika Istri Tak Seseksi Dulu Lagi ” rasanya menjadi lebih bernilai jika dilengkapi dengan artikel ini.

What is a husband ?. Beragam definisi bahkan ratusan untuk menggambarkan apakah seorang suami itu. Yang pasti seorang pria resmi menjadi suami ketika ada seorang wanita menerima pinangannya, bersama sama membangun rumah tangga, saling mendukung, membantu, menguatkan, termasuk juga saling berselisih paham dan beda pendapat.

Rasanya tidak sah suatu hubungan suami -istri tanpa pernah ada perbedaan pendapat. Pasangan yang tidak pernah berbeda pendapat dan berargumen, belum tentu merupakan pasangan yang berbahagia. Bisa saja keinginan untuk bicara sudah tidak ada disebabkan rasa cinta yang sudah lama menguap , tergantikan dengan ketidak pedulian yang sunyi.

Jika ditanya secara pribadi, dan saya bisa memilih apakah mau menjadi suami atau istri, maka saya akan tetap memilih menjadi istri. I have a great deal of respect to all good husbands. Suami yang baik bukanlah manusia sempurna dan tidak pernah melakukan kekeliruan atau tidak pernah sekalipun menyakiti hati sang istri.

Suami yang baik tetaplah seorang manusia biasa yang dengan segala lebih kurangnya masih memegang teguh komitmen untuk setia mendampingi istrinya , bertanggung jawab dalam rumah tangga, dan melindungi keluarganya dengan segala kekuatannya.

Persaman gender yang sekarang menjadi topik hangat dan sangat diusung, adalah merupakan bentuk penegasan kepada dunia bahwa istri (wanita) memiliki hak yang sama dalam kehidupan era modern ini. Wanita jaman sekarang sudah jauh berevolusi dan menjadi self-sufficient. Wanita diberi kesempatan sama luasnya dengan pria untuk menimba ilmu dan bekerja.

Tidak mengherankan fenomena modern sebagai bias dari tuntutan kepuasan dan gaya hidup hedonis, keperkasaan menjadi komoditi yang laku dijual. Keperkasaan di era sekarang ini lazim dikaitkan dengan kekuatan laki laki dari segi fisik dan sexual performance.

Tidak ada yang lebih menyakitkan, bahkan bisa membunuh seorang pria ketika mendengar bisik bisik ” dia tidak sanggup lagi memuaskan dan melayani istrinya.”

Mungkin secara rata rata pria memilih untuk lebih baik mati saja daripada harus menanggung penghinaan yang sedemikian besar, yang sering datang dari wanita yang paling dicintainya, kepada siapa seluruh hidupnya telah diberikan.

Jika keperkasaan suami hanya diukur dari sudut pandang seksual, maka betapa piciknya cara manusia berpikir, karena hati nurani dan akhlak sudah ditukar dengan pengejaran kepuasan yang tidak lagi didasari oleh rasa cinta, penghargaan dan kepedulian.

Fenomena “tante tante girang” yang bisa membeli laki laki muda, hampir selalu didasari alasan memiriskan yaitu : suami yang sudah tidak mampu memuaskan, dan rasa kesepian karena kesibukan suami.

Saya hanya ingin menyegarkan kembali dan mengajak para wanita untuk menyayangi dan berempati kepada para suami . Sungguh bukan pekerjaan mudah bagi seorang laki lakli untuk mendengarkan kicauan bawel sang istri, sementara mereka harus tetap juga bekerja dan bertanggung jawab memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Maka ketika suamimu kelihatan tidak seperkasa dulu lagi, tahukah anda hai istri….

– Ada saatnya ketika suami anda dulu harus terpaksa membuang malu dan harga diri untuk meminjam uang kepada teman atau atasannya, hanya karena anda sudah berapa kali mengingatkan bahwa orang tua anda akan merayakan ulang tahun perkawinan, dan anda tidak mau dituduh pelit, padahal tabungan hampir rata…

– Ketika dulu anda hamil dan setelah melahirkan masih tetap kelihatan sepeti badut Ancol yang tidak imut imut, dan berpapasan dengan teman kantor suami di mall, maka dengan tegas dan senyum cerah suami anda tetap mengenalkan anda kepada temannya tanpa malu malu… (Padahal anda sendiri rasanya lebih suka ditelan bumi karena istri temannya kelihatan seperti gabungan Sharon Stone dan Nadya Hutagalung, sementara anda dengan gaya pas pasan masih memakai baju hamil yang dimodifikasi….)

– Ketika dompet berisi gaji sebulan beserta seluruh kartu kredit melayang dicopet saat anda sembunyi sembunyi hendak membeli sepasang lagi sepatu hak tinggi untuk menjadi koleksi yang ke empat belas, suami anda masih bisa dengan tenang berkata, “stereo itu bisa kutunda pembeliannya , pakai saja dulu uangnya untuk keperluanmu…”

– Ketika dia bertugas keluar kota, dan hanya Tuhan yang tahu bagaimana dia diajak teman temannya untuk dugem, dengan setengah berdoa sambil menyebut nama anda dan anak anak dia menjawab…” kepalaku benar benar sakit malam ini….” (anda mungkin tidak pernah tahu soal ini….). Laki laki bukan seperti wanita yang senang mengumumkan kejadian seperti ini.

– Ketika dia dengan sabar mengangguk angguk dan tetap senyum mendengar celotehan dan nasehat orang tua anda, padahal anda sendiri jujur sudah bosan mendengar nasehat sama yang keseratus sepuluh kalinya diulang dalam setahun…

– Ketika mood anda “jumpalitan” bak’ roller coaster kehilangan kendali menjelang haid, dan seharian anda ngomel tak menentu, dengan senyum culun dia masih mencoba melucu dan bertanya ..“mau kubelikan martabak ?”…

Dear wives… laki laki yang menjadi suami anda hanyalah manusia biasa dengan segala upayanya ingin membahagiakan anda sebagai istrinya, tetapi sering mereka memang tidak diberi karunia untuk memahami wanita dengan segala kompleksitasnya.

Ketika suamimu tidak seromantis dan seperkasa dulu lagi… dan sering anda merasa dia tidak cukup punya keinginan untuk memahami keinginan dan harapan anda, mungkin itu disebabkan karena segenap tenaga dan fokus perhatiannya sudah habis tercurah mencari nafkah bagi keluarga, demi memastikan anda tidak kekurangan apapun dan anak anak dapat membayar uang sekolah tepat pada waktunya.

Keperkasaan seorang suami tidak semata diukur lewat otot dan bentuk tubuh yang gagah dan kuat. Keperkasaan seorang suami adalah bagaimana dia tetap bertahan bekerja meskipun sejujurnya dia sudah muak dengan atasannya, hanya karena dia mengingat bahwa dirumah ada istri dan anak anak yang membutuhkan gajinya.

Keperkasaan seorang suami diukur dari seberapa besarnya dia berjuang demi istri dan anak anak di dunia yang tidak ramah ini, dan memastikan bahwa anak dan istrinya tidak perlu tahu dengan segala permasalahannya di kantor. Dalam diamnya dia berkorban untuk anda…

Salam hormat untuk para suami penyayang…