Lagi,
kita duduk di beranda
berteman kopi
dan sepiring canda usang

“Cinta!” serumu
kau terkekeh
terisak
hingga sedu sedan
bahumu berguncang

“Kau tahu cintaku?” kau tanya aku
seakan aku tak punya rasa
seakan aku tak punya cinta

Aku tahu cintamu – kau

“Tuhan!” lagi kau seru nama-Nya
seakan Dia dalang atas kebodohanmu
seakan kau acungkan ujung tombak pada-Nya
dan kau teriakkan, “Teganya!”
seakan kau pria lusuh tak punya harap
seakan kau tak lagi punya jiwa
seakan sisa hidupmu seuntai benang merah rapuh
tipis pula

Lagi,
kita terdiam dalam sejuta jeda
kau tunjuk sesuatu yang tak terlihat
“Dia cinta sejatiku”

“Tuhan!!”
kita tersungkur
jatuh
mencium tanah
meratap.