Terkait dengan banyaknya pro dan kontra seputar dana investasi “patungan” ala Ustadz Yusuf Mansyur yang baru baru ini sedang ramai diperbincangkan, ada beberapa pendapat menarik yang cukup satir akan pandangan masyarakat tentang para Ustadz yang konon menimbun kekayaan.

Ustadz kok terjun ke bisnis. Dakwah ya dakwah aja. Ustadz kok kaya raya dan naik mobil mewah. Ya jadi Ustadz itu gak boleh kaya?

Siapa yang bilang jadi Ustadz gak boleh kaya? Pendapat yang mudah dibantah dengan kisah bahwa Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam pun pernah berdagang. Justru didalam dagangnya, Nabi Muhammad SAW pun berusaha mencontohkan tidak hanya kepada ummatnya saja, tetapi kepada siapa pun bagaimana konsep berdagang yang ‘menguntungkan’ kedua belah pihak, dalam artian adil, jujur, tidak riba dan memberikan kepuasaan pada kedua belah pihak.

Terbuka. Antara modal dan keuntungan yang diambil dengan tidak seberapa, sesuai dengan konsep syariah sendiri. Memberikan dagangan yang terbaik, menjelaskan apa adanya barang dagangan itu sendiri. Tidak melebih lebihkan dan juga tidak mengurangi. Tak lupa, dari hasil selalu disisihkan untuk sedekah. Tak jarang, bahkan Rasulullah pun melakukan tukar menukar , atau barter.

Barter sendiri sebetulnya merupakan konsep yang memberikan rasa keadilan. Nilai tidak tergantung dari besaran mata uang. Namun cukup dengan nilai kebutuhan akan barang tersebut dan kepuasan antara sang pemberi dan penerima. Demikian pula sebaliknya. Hal hal inilah yang pada akhirnya dengan sendirinya mengangkat nama Rasulullah menjadi seorang pedagang yang mempunyai banyak pelanggan.

Sayangnya, hal ini semakin jarang terjadi ke arah terkini. Dakwah , bukanlah hal untuk meraih kekayaan. Ilmu didalam Al Qur’an itu bukan seharusnya diajarkan dan mematok biaya per jam untuk dakwah seperti halnya profesi pengacara atau bahkan psikolog kawakan. Dakwah sendiri semestinya tidak mematok biaya, atau bahkan seharusnya sungkan akan pemberiannya. Memang, ada keikhlasan dalam memberi dari pihak yang satu lagi. Dan ini diperbolehkan, selama hal tersebut tidak menjadi suatu mata pencaharian atau bahkan ‘gratifikasi’ dakwah sendiri.

Disini, para Ustadz ini diharapkan untuk mencari mata pencaharian dengan jalan lain. Salah satunya? Ya berdagang itu sendiri. Tentu dengan tetap berada didalam koridor unsur yang Syari. Dan memang sulit apabila dibikin sulit, untuk tetap berada di tatanan hukum yang tepat yang mengakibatkan para Ustadz ini dengan mudah tergelincir akan apa yang namanya ‘fulus’ ini.

Bukankah sudah pernah diceritakan. Bahwa Syaitan pun bersorak sorak, melangsungkan pesta yang mewah saat mereka mengetahui bahwa uang, inilah yang jadi kelemahan anak cucu Adam nantinya.

Bagi yang menjalankannya dengan baik? Uang atau kekayaan itu bukan apa apa. Pernah dengar istilah kejarlah akhirat, maka dunia akan mengikuti? Itu benar benar nyata adanya. Sudah banyak contoh dimana beberapa tokoh yang sudah masuk tahap Makrifat, dimana kekayaan itu tidak ada artinya sama sekali untuk mereka. Eh, perkara yang begini seperti uang dan kekayaan malah seakan akan ingin ‘menyeret’ kaki mereka.

Rejeki, apapun pengertian kita tentang rejeki itu sendiri malah justru datang dari segala penjuru. Yang berkah lho ya. Kalau yang enggak berkah itu bukan rejeki namanya. Jangan disalah artikan. Yang tidak berkah itu sudah ‘tercium’ dari jauh, jadi boro boro diterima. Kebanyakan pasti ditepis oleh mereka.

Namun para Beliau ini malah biasa biasa saja tuh menanggapinya. Hanya dengan bersyukur, hidup tetap sederhana dan rejeki ini justru banyak dipergunakan untuk sedekah. Berbisnis secara sederhana, dengan hasil yang justru melimpah ruah dan tidak kompleks seperti halnya para Ustadz yang menawarkan berbagai hal lain atau cara untuk menjadi kaya. Sederhana bukan berarti menyalahkan kreativitas atau cara berdagang terkini. Namun adil, jujur ,syari itu yang jadi tolak ukur dan tidak bisa ditawar.

Kaya itu relatif. Tolak ukurnya tidak jelas. Ketenangan batin, kebahagiaan itu jelas. Dan itu sebetulnya tujuan dari manusia berikhtiar.

Betul, gak punya uang itu tidak enak. Maka dari situlah sebetulnya ummat memang harus pintar dalam mencari uang. Tetapi mencari sendiri hanya bentuk ikhtiar, tetap dalam koridor yang Syari tadi dengan tetap adil, jujur dan selalu bersedekah. Dan selalu bersikap sederhana, seperti apa yang telah dicontohkan terdahulu.

Jadi, Ustadz itu gak boleh kaya? Jelas boleh. Asal tetap dalam koridor syariah, dan yang jelas tetap sederhana.