Berita Politik Humaniora Ekonomi Hiburan Olahraga Lifestyle Wisata Kesehatan Tekno Media Muda Green Jakarta Fiksiana Freez
Home
Lifestyle
Catatan
Artikel
Catatan
M. Rasyid Nur
TERVERIFIKASI
Jadikan Teman | Kirim Pesan

M. Rasyid Nur, pendidik yang bertekad “Ingin terus belajar dan belajar terus”. Silakan juga diklik: http://mrasyidnur.blogspot.com/ sebagai tambahan komunikasi.
0inShare
FPI Mengubur Mimpi
OPINI | 22 July 2013 | 09:26 Dibaca: 123 Komentar: 10 0

MENULIS masalah FPI (Front Pembela Islam) sepertinya sudah membosankan. Sama bosannya dengan melihat kelakuan dan tindakan mereka yang arogan. Kian hari kian ditinggalkan simpatisan. Rakyat yang tadi menudukung, diam-diam ngacir meninggalkan.

Di awal-awal FPI menunjukkan kegarangannya memerangi maksiat (versi mereka) sungguh besar dukungan dari berbagai pihak ke organisasi keagamaan ini. Tidak hanya rakyat yang diam-diam dan terang-terangan mendukung gerakan ‘penghentian maksiat’ mereka tapi beberapa pejabat pun bagaikan berdiri di belakang mereka. Informasi liar yang menyebutkan ada becking kuat di belakang FPI kian kencang. Tidak diiyakan tapi tidak pula dibantah. FPI sendiri tambah berani. Polisi dianggap tak bergigi.

Kiprah FPI yang cenderung bertindak bagaikan polisi syariah mengalahkan polisi resmi juga diam-diam seperti direstui. Banyak kasus yang melibatkan FPI yang membuat polisi sibuk. Yang kita baca di media, tahun 2010 dan 2011 saja ada 40-an kasus yang melibatkan FPI. Entah langsung atau entah sekedar menamakan FPI, yang pasti polisi menyebutnya itu kasus membabitkan FPI. “Pada 2011 ada lima kasus vandalisme yang melibatkan FPI tersebar di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Jakarta. Sedangkan, sepanjang 2010, Front Pembela Islam (FPI) termasuk Organisasi Massa (ormas)yang terlibat dalam 29 kasus vandalisme.” Itu berita di salah satu media online yang bisa diakses. (http://www.beritasatu.com/nasional)

Kini FPI benar-benar tersudut. Tidak sekedar ‘tersudut’ dalam makna konotasi mereka bahkan tersudut dalam makna denotasi sekaligus. Kasus terakhir bentrokan antara FPI dengan masyarakat Sukorejo, Kendal adalah kasus yang membuat anggota FPI benar-benar tersudut. Kasusnya sendiri konon berawal ketika rombongan FPI dari Temanggung, Magelang, dan Yogyakarta berniat untuk melakukan razia di tempat-tempat hiburan di Kendal. Tapi warga yang tidak bisa menerima niat FPI itu akhirnya bentrok dengan rombongan FPI hingga mereka benar-benar tersudut di Masjid Besar Sukorejo. Massa FPI baru bisa dievakuasi atas bantuan polisi dan TNI. (http://id.berita.yahoo.com)

Jika cara-cara FPI yang di awalnya mungkin berniat baik tapi akhirnya kebablasan seperti yang kita tahu sekarang sama artinya FPI mengubur mimpi sendiri. Presiden yang selama ini juga tidak berkomentar kini sudah menyatakan kecamannya. FPI akan terus kehilangan simpati dari masyarakat yang dulu mungkin sangat bersimpati atas kiprah FPI memerangi maksiat di negeri ini. Pengamalan FPI atas anjuran memerangi kemungkaran dengan ‘tangannya’ yang dulu tidak banyak dipersoalkan, kini sudah ada toleransi. Polisi yang sudah lama ingin membubarkan FPI, kini tentu mendapat momen untuk melakukannya.

Kekeliruan FPI memaknai hadits yang menyuruh melawan kemungkaran dengan ‘tangan’ atau sekedar dengan ‘lisan’ atau cukup dengan ‘hati’ adalah ketika mereka memaksa memeranginya dengan tangan mereka. Sayang, mereka melakukan tidak dengan tangan (institusi) penguasa resmi. Di sinilah masalahnya bermula karena tangan-tangan yang mereka pakai ternyata menimbulkan efek merusak (pisik dan perasaan) masyarakat secara keseluruhan. Kebablasan yang berlangsung lama inilah yang akhirnya memudarkan dan menghiolangkan simpati kepada FPI. Maka akan terkuburlah mimpi FPI seperti yang selama ini mereka katakan. Sejatinya, FPI menyuburkan simpati semua orang, apapun caranya. Bukan mengubur simpati orang. Jika akhirnya FPI dikecam semua orang, itu adalah buah kerja dari yang mereka lakukan selama ini