Hubungan Orang Besar dengan Orang Kecil

Ada dua macam pendefinisian dari Orang Besar dan Orang Kecil, yaitu: definisi umum dan definisi ideal. Definisi umum mengatakan bahwa orang besar adalah mereka yang punya kedudukan, kekuasaan, kekayaan, atau popularitas seperti pejabat, tokoh masyarakat, selebritis, orang kaya, dst. Dan orang kecil adalah orang biasa, rakyat, bukan siapa-siapa. Sedangkan definisi ideal dari orang besar adalah mereka yang berjiwa besar, berpikiran besar, dan melakukan perbuatan besar. Adapun orang kecil adalah sebaliknya, kira-kira seperti gambar di bawah ini:

13744730011869653805

Antara definisi ideal dengan definisi umum atau realitas seharusnya sinkron, tapi sayang dalam kenyataannya tidaklah selalu begitu, sehingga didapatkan tabel di bawah:

1374473116102246124

Asumsi: Faktor pengali 1 dan 5, jiwa diberi bobot 1, cara pikir 1, dan perbuatan 2. Maka diperoleh beberapa catatan:

Posisi terbaik dan terburuk ditempati oleh Orang besar (realitas).

Tiga jenis Orang kecil ternyata masih lebih baik dari lima jenis Orang besar (dari total 8 jenis).

Dua jenis Orang besar ternyata mempunyai nilai yang sama dengan dua jenis Orang kecil

Seburuk-buruk Orang kecil masih jauh lebih baik daripada seburuk-buruknya Orang besar.

Orang besar punya kesempatan menyebarkan kebaikan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan orang kecil. Tapi sayangnya itu berlaku juga untuk keburukan.

Maka, orang besar sejati adalah orang yang humanis, cerdas, positif, dan tentunya punya kedudukan tinggi atau pejabat tinggi, presiden misalnya. Dan karena humanis, maka dia akan selalu bersikap adil terhadap rakyat kecil, selalu memperhatikan rakyat kecil, dan tidak ada satupun yang terlewatkan. Tidak meremehkan permasalahan kecil-kecil yang dihadapi oleh rakyat kecil, tapi menggunakan permasalahan kecil-kecil tersebut sebagai pemicu untuk memberikan solusi yang besar. Karena, biarpun mungkin permasalahan rakyat kecil itu remeh dan kecil, tapi dengan volume yang besar maka bisa menjadi masalah yang besar juga.

Sebuah rumah yang kokoh harus memiliki struktur yang kuat dan bahan yang berkualitas. Juga segala sesuatunya harus ditempatkan di tempatnya yang sesuai. Misalnya: Genteng harus dijadikan atap, tak bisa dijadikan tembok. Batu bata dijadikan tembok, kurang kuat dijadikan pondasi. Batu pondasi ditanam di bawah, tak mungkin dijadikan atap. Pintu, jendela, dan seterusnya, ditempatkan ditempatnya masing-masing. Semua bahan sama pentingnya, tak ada yang lebih penting dari yang lain.

Demikian juga negara, segala sesuatunya harus ditempatkan di tempat yang benar sesuai dengan spesifikasi, kualifikasi, dan fungsinya masing-masing. Memaksakan sesuatu di tempat yang tidak seharusnya hanya akan membuat negara menjadi rapuh. Contohnya: Orang yang tidak pantas menjadi presiden malah dijadikan presiden. Orang yang tidak pantas menjadi hakim malah dijadikan hakim. Orang yang tidak pantas menjadi polisi malah dijadikan polisi, dan seterusnya. Karena seorang presiden tidaklah lebih baik dari seorang tukang becak, bila dia tidak menjalankan perannya sebagai presiden dengan baik. Orang kaya tidaklah lebih baik dari orang miskin, bila dia tidak menggunakan kekayaannya dengan baik. Orang pandai tidaklah lebih baik dari orang bodoh, bila dia tidak menggunakan kepandaiannya dengan baik.

Maka, pada dasarnya, antara orang besar dan orang kecil (definisi umum) seharusnya tidaklah boleh ada perbedaan yang terlalu besar. Orang besar dan orang kecil adalah satu kesatuan yang justru harus saling mendukung satu sama lain. Di hadapan Tuhan, tinggi rendah derajat manusia ditentukan oleh derajat keimanannya. Adapun di dunia ini, derajat manusia pada dasarnya adalah sama. Semua manusia punya nyawa, dan nyawa jauh lebih berharga dibandingkan dengan kedudukan atau kekayaan. Nilai manusia yang sebenarnya adalah bagaimana dia bisa menjalankan perannya dengan sebaik-baiknya. Tidak peduli apapun peran itu, selama peran itu tidak merugikan sesama. Dan inilah contoh dari bangunan yang kokoh:
13744734521826582408

Dimanapun berada, batu bata tetaplah batu bata…

Role Model

Role model sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari sebagai panutan, teladan, dan sebagai suatu standar yang harus diikuti. Dalam suatu negara, peran ini seharusnya dipegang oleh presiden sebagai role model sentral. Dan lebih baik lagi jika seorang presiden bukan hanya role model, tapi juga idol bagi rakyatnya. Ini akan menetapkan standar yang tinggi bagi seorang idol. Sehingga masyarakat tidak terjebak dengan mengidolakan sosok-sosok yang sebenarnya tidak pantas diidolakan. Contoh kasus adalah banyaknya masyarakat yang mengidolakan para selebritis layar kaca, padahal banyak di antara mereka yang justru seringkali berkelakuan tidak pantas dan keterlaluan.

Untuk menjadi role model bagi bangsa yang besar ini jelas bukan perkara yang mudah. Karisma yang luar biasa sangat diperlukan oleh seorang presiden agar bisa menjadi role model. Tetapi heteroginitas bangsa ini begitu luar biasanya sehingga sulit untuk menemukan role model yang bisa memuaskan semua pihak, maka dalam hal ini karisma saja tampaknya belumlah cukup. Dibutuhkan suatu sistem yang bisa membantu seorang presiden agar bisa menjadi role model bagi seluruh bangsa ini. Sistem ini bukanlah sekedar mesin pencitraan, tetapi benar-benar menentukan dan membentuk karakter seorang presiden agar menjadi orang besar sejati, minimal selama masa kepresidenannya. Dan tentu saja karisma tetap dibutuhkan sebagai nyawa yang menghidupkan sistem ini.