Mungkin makna dari judul tulisan ini terasa aneh bagi Anda. Mungkin Anda berpikir istilah tersebut kurang begitu dekat di telinga dan pikiran banyak orang. Mungkin juga, Anda sudah pernah mendengar istilah tersebut tapi tidak terlalu menggubrisnya karena terasa kaku kedengarannya. Yang jelas, Anda tidak akan merasa ada kesulitan apapun memahami makna judul di atas karena memang secara terminologi frase tersebut mudah sekali dicari pengertiannya di kamus sederhana sekalipun. Apapun yang ada dalam pikiran Anda, dengan istilah ini, saya ingin mencoba mensinergikan pemikiran dua orang tokoh yang sangat berkomitmen di bidangnya. Mereka adalah D.J. Schwaltz – seorang penulis buku best seller yang berjudul ‘The Power of Thinking Big’ dan Rhenald Kasali – guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang juga seorang pakar strategi bisnis dan penulis buku (buku terakhirnya berjudul ‘The Cracking Zone’; laris manis di pasaran).

Adalah D.J. Schwaltz yang pertama kali menggulirkan ide ‘Berpikir Mekanis’ tersebut. ‘Lalu, apa hubungannya dengan si profesor – Rhenald Kasali?’ mungkin begitu pertanyaan yang muncul dalam benak Anda. Guru besar yang juga pengamat ekonomi modern ini pernah menulis dengan manis tentang Growing Mindset, yang konsep dasarnya berhasil ia kembangkan berdasarkan temuan seorang psikolog Carol Dweck, di sebuah harian nasional yang saya nikmati betul ulasannya. Nah, dengan dua istilah tersebut saya ingin berbagi dengan Anda. Mengingat tujuan dari ide tersebut adalah demi perbaikan pribadi setiap orang, maka saya merasa memiliki kewajiban moral untuk menyampaikan kepada siapapun termasuk Anda. Ingat, ini untuk kebaikan kita semua. Saya hanya berharap semoga lebih banyak orang bisa terinspirasi untuk melakukan perbaikan dalam kehidupannya.

Sekitar setahun yang lalu pertama kali saya mengenal (mungkin saya terlambat mengetahui) istilah berpikir mekanis itu. Ya, dari buku The Power of Thinking Big itulah saya mengenalnya, itupun dari buku kusam yang saya pinjam dari perpustakaan salah seorang kawan. Dalam salah satu bab di buku tersebut dijelaskan bahwa berpikir mekanis adalah sebuah mindset atau pola pikir di mana kita berusaha sekeras tenaga untuk (mampu) mengendalikan pikiran kita sedemikian rupa seperti layaknya sebuah mesin sehingga dengan demikian hal tersebut akan berdampak langsung pada semangat kita dalam menghadapi segala sesuatu dalam hidup terutama hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban, rencana atau keinginan kita.

Dalam berpikir mekanis kita sama sekali tidak boleh mentolerir ‘suara-suara kecil yang negatif’ yang sering mempengaruhi niat baik kita untuk melakukan sesuatu. Sering sekali kita terjebak pada keinginan untuk menunda dan menunda bahkan sama sekali tidak melakukan sesuatu yang bahkan sudah terencana. Kita malah terpuruk pada suasana mental di mana kita kalah dan tunduk oleh perasaan ingin berleha-leha dengan mendengarkan suara-suara negatif itu, misalnya: ‘Ah…toh nanti juga bisa saya lakukan..!’ atau ‘Alaah…masih banyak waktu ini..!’ dan suara-suara menyesatkan lainnya.

Berpikir mekanis sama sekali tidak membolehkan ‘tawar menawar’ dengan perasaan negatif itu sehingga dengan demikian hal itu akan berpengaruh pada kemampuan untuk fokus dan self control kita– dua life skills lainnya yang menurut beberapa pakar psikologi perlu dikembangkan sejak dini. Intinya, ketika sebuah pikiran positif terbersit dalam benak kita, seketika itu pula kita harus SEGERA BERANJAK melakukannya. Hal ini persis sama dengan ketika sebuah mesin dijalankan – pada saat kita mengaktifkan tombol ‘Power On’ nya- seketika itu pula ia berjalan aktif, menggelinding, berputar dan tidak peduli apapun yang akan terjadi.

Menganut konsep berpikir mekanis secara positif inilah yang menurut Rhenald Kasali adalah bagian dari Growing Mindset. Menurutnya, growing mindset adalah sebuah Life Skill yang harus terus kita kembangkan dan harus selalu kita update perkembangannya.

Pendapat Rhenald Kasali ini bahkan diperkuat oleh Cooperrider, Kelly, Stavros yang memperkenalkan konsep pengembangan pemikiran terutama kaitannya dengan dunia usaha dan karir. Dalam konsep tersebut mereka mengungkap sebuah pernyataan: ‘Allow your thoughts to take you to heights of greatness’ yang terjemahan bebasnya kira-kira begini: Biarkan pikiranmu membawamu pada kebesaran yang tertinggi. Cooperrider dan kawan-kawannya ingin menekankan bahwa dengan penataan pola pikir yang baik, kita akan mendapatkan kesuksesan yang kita dambakan. Maka, tidak berlebihan bila kita mencoba mengaplikasikan ide brilian dari D.J. Schwaltz ini dalam kehidupan sehari-hari kita.

Secara empiris, berpikir mekanis sangat tepat diaplikasikan terutama bagi orang-orang yang merasa dirinya PEMALAS. Lebih lagi, tekhnik ini sangat efektif bagi para PROCRASTINATOR; si penunda-nunda.

Memang, semua bergantung pada komitmen kuat kita. Kalau kita yakin dengan kemampuan kita untuk menerapkan pola berpikir ini maka sangat mungkin kita bisa mencapai perbaikan kualitas mental yang didambakan yang pada gilirannya akan mengantarkan kita pada kesuksesan yang kita idamkan. Semuanya bergantung pada keinginan kuat itu. Karena dalam menerapkan tekhnik berpikir mekanis, sekali kita memikirkan sesuatu yang positif apalagi yang sudah kita rencanakan (ingat, sering juga kita malah mengesampingkan apa yang sudah kita rencanakan dengan berbagai macam alasan), seketika itu pula kita harus bergegas melakukannya. Tanpa ada kompromi, tanpa harus ada tawar-menawar. Bayangkan saja Anda sedang menekan tombol mesin otak Anda, seketika power on Anda hidupkan, maka segeralah ia berjalan / bergegas.

Jika Anda seorang muslim, ada cara bagus untuk mengaplikasikan tekhnik berpikir mekanis ini dalam kehidupan sehari-hari. Orang Islam mengenal sholat lima waktu. Nah, di waktu-waktu inilah kita bisa berlatih mengaktifkan tekhnik berpikir mekanis ini. Misalnya, seketika Anda mendengar panggilan sholat (adzan) segeralah aktifkan berpikir mekanis itu. Jangan tawar-tawar lagi. Langsung bergegas mengambil air wudhu dan segeralah sholat. Pada awalnya, mungkin kita akan merasakan kesulitan. Tapi, terapkan dulu latihan tersebut selama tiga hari berturut – turut (Ingat, ‘repetition is the mother of all skills’ kata orang bijak) dan kita akan rasakan sensasi positif dari tekhnik berpikir mekanis ini.

‘Bagaimana seandainya kita sedang berhadapan dengan klien yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan karir kita ke depan? Kurang elok rasanya – bahkan mungkin akan lebih runyam urusannya – bila kita harus meninggalkanya hanya karena kita mendengar suara adzan padahal waktu sholat masih agak lama.’ mungkin ada yang bertanya begitu. Ingat, berpikir mekanis adalah untuk diri kita dan untuk kepentingan kita terutama bagi yang ingin melatih diri agar menjadi orang yang lebih berkomitmen terhadap kewajiban atau apapun yang sudah direncanakan. Bila menyangkut kepentingan orang lain, maka kita harus tetap memperhatikan faktor-faktor sosial agar kepentingan orang tersebut tidak kita korbankan. Sebagai makhluk sosial tentu saja kita tetap harus menjunjung tinggi nilai-nilai sosial.

Pendek kata, berpikir mekanis sebaiknya kita terapkan dengan ketat sejauh itu menyangkut kepentingan pribadi kita. Bila kita harus berurusan dengan orang lain kita tetap harus fleksibel.