Saya terpana melihat mantan dosen saya suatu hari menghiasi rubrik “Sosok” di harian Kompas. Syukurlah, saya ikut bangga, kiprahnya sekarang membawa banyak manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Tak perlu saya ungkapkan jati diri dan detil kegiatan beliau seperti yang ditulis dalam rubrik itu, yang jelas saya pernah (tak sengaja) belajar korupsi dari sosok dosen itu sekitar 27 tahun yang lalu.

O ya, rubrik “Sosok” adalah favorit saya, karena kita bisa mendapatkan informasi, inspirasi dan manfaat dari seseorang yang ditampilkan. Biasanya sosok yang ditampilkan berintegritas tinggi, inspiratif dan mempunyai konstribusi atau bermanfaat besar bagi lingkungan sekitarnya, bisa skala lokal, nasional ataupun internasional. Bisa sosok yang masih muda belia hingga lanjut usia.

Di masa lalu, saya bersama teman mahasiswa lainnya diminta bantuannya oleh dosen kami itu untuk meneliti dokumen-dokumen penawaran proyek. Dosen kami adalah anggota panitia tender proyek di kampus. Tugas saya adalah memberi bobot salah satu perusahaan peserta tender, dengan membandingkan terhadap kriteria yang sudah ditetapkan. Cuma sekitar dua jam saja pekerjaan itu sudah selesai.

Beberapa hari berikutnya, kami semua yang ikut membantu dipanggil ke ruang dosen untuk menerima honornya. Alhamdulillah, senangnya. Honornya seharusnya sebesar 5 ribu rupiah. Waktu itu uang sebesar itu bisa untuk membeli 20 piring (ralat) nasi gudeg lauk telur bulat, bisa untuk menyambung hidup lebih dari tiga hari. Namun, pak dosen menyuruh kami menandatangi kwitansi seolah-olah saya mengerjakan tiga dokumen tender, sehingga saya menerima honor 15 ribu rupiah, wah nilai yang tak sedikit bagi mahasiswa cekak seperti saya.

Saat harus menandatangani itu saya juga sudah berpikir kalau dosen kami nggak bener dan uang yang saya terima uang haram. Namun gimana lagi, karena sungkan, kami tanda tangan dan terima saja uang itu.

Merasa uang yang menjadi hak saya hanya 5 ribu rupiah saja, maka sisanya yang 10 ribu rupiah saya ‘sedekahkan‘, mentraktir teman-teman kos yang pantang menolak itu, jan ndemenakake tenan kanca-kancaku kolo semono. Tak saya jelaskan uang itu dari mana, yang jelas saat itu saya merasa bangga dan terhormat dikagumi teman-teman, menjadi bos dadakan dan dermawan. Sorot mata teman seperti bertanya-tanya, njanur gunung (tumben) saya mau berbagi, ngowah-owahi (merombak) adat.

Sebetulnya saya mempunyai bakat untuk mengembangkan ilmu korupsi dari dosen itu, namun karena situasi, kondisi dan kesempatan tidak memungkinkan, maka bakat itu layu sebelum berkembang, ilmu itupun tak berguna.

Jika saja sekarang ini mantan dosen saya membaca tulisan ini, boleh jadi beliau dua kali sakit hati. Pertama, mungkin dulu yang niatnya ingin sedekah kepada mahasiswa miskin, malah dituduh ngajari korupsi. Kedua, balasan kebaikannya malah air tuba, eh pencemaran nama baik. Jika pun demikian, saya mohon maaf dan mohon tidak diteruskan sampai ke meja hijau.

Ya, saya sadar untuk menjadi pakar apapun menurut Malcolm Gladwell membutuhkan 10.000 jam terbang, setara dengan sekitar 10 tahun pengalaman kerja. Pantas, saya makin kesulitan melakukan korupsi, lha jam terbang saya cuma 2 jam… Dan pantas pula, mudahnya menangkap para koruptor di perioda masa jabatan yang singkat di negeri ini. (Depok, 20 Juli 2013)