Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Beberapa hari lagi, kita akan memasuki bulan Ramadhan. Di tahun politik, banyak partai, elite politik, anggota dewan, calon legislatif, pengurus dan kader partai memanfaatkan Ramadhan untuk meyakinkan pemilih agar mencoblosnya pada Pemilu 2014 yang akan datang.

Spanduk dan baner ucapan selamat berpuasa terpasang di berbagai penjuru, di kota maupun di desa. Iklan di media cetak dan elektronik tak lupa juga dipasang. Tujuannya jelas: biar dikenal, disukai dan dipilih oleh masyarakat pemilih.

Acara buka bersama dengan pengurus, kader dan simpatisan disiapkan untuk mengkonsolidasi kekuatan partai agar tetap punya daya juang untuk memenangkan partai. Bingkisan lebaran dan THR juga mau tak mau harus disiapkan, untuk membangun hubungan emosionalitas yang kian kuat dan rekat antar partai dengan massa konstituen.

Pasar murah juga dipilih oleh partai untuk meringankan beban masyarakat yang menghadapi kenaikan barang dan jasa akibat kenaikan BBM. Ramadhan dan Idul Fitri merupakan momentum keagamaan yang membutuhkan pengeluaran ekstra untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan berlebaran.

Ramadhan di tahun politik ini, adalah hari-hari yang maha berat secara politik, ekonomi dan sosial bagi politisi. Ini “jihad akbar” dalam berkompetisi. Seluruh partai dan caleg memiliki “karep” yang sama dalam menampilkan partai dan figur yang dimiliki prima dan utama dibandingkan yang lain.

“Karep” ini yang mendorong politisi mengeluarkan “biaya politik” yang banyak, baik biaya itu bersumber dari partai maupun masing-masing orang. Biaya ini tak terelakkan karena semua kegiatan di atas membutuhkan pembelanjaan politik yang banyak. Sementara, sumber dana politiknya yang dimiliki tidaklah sebanyak kebutuhan biaya politiknya.

Untuk menyiasati hal tersebut, beberapa partai dan caleg, menyelenggarakan kegiatan partai ala kadar, yang penting ada spanduk dan buka bersama, sudah dinilai cukup menggugurkan kewajiban tradisional. Bahkan, ada beberapa partai dan caleg memilih untuk menunda gerakan politiknya untuk menghindari pembelanjaan politik Ramadhan ini. Mereka memilih bergerak setelah lebaran.

Ramadhan di tahun politik, walaupun tak menggambarkan “kemenangan akhir”, namun minimal mencerminkan “kemenangan awal” dalam melakukan gerakan politik di hadapan para pemuka dan massa akar rumput. Dengan demikian, Ramadhan bukan sekadar “jihadul akbar” bagi umat Islam, tapi terlebih juga bagi politisi. Ini medan perang: perang spanduk, perang baner, perang iklan, perang bukber, perang bingkisan dan juga perang THR.

Memang kemenangan akhir itu lebih penting daripada kemenangan awal. Akan tetapi, kemenangan awal menentukan bagi kemenangan akhir. Sebab, dalam doktrin gerakan politik socheh satria bangsa mengindikasikan  Artinya, kemenangan akhir sudah tentu diawali dari kemenangan awal.

Oleh karena itu, Ramadhan di tahun politik ini merupakan “garis start” bagi semua partai dan caleg. Garis finishnya pada 9 April 2014 yang akan datang. Apakah kita termasuk yang sampai ke garis finish terlebih dahulu atau tidak? Semua bergantung pada stamina dan kecepatan politik dari partai dan caleg masing-masing. Lebih baik kita bermandikan “keringat” pada saat latihan, daripada bermandikan “darah” pada saat pertempuran. Semoga!