Superman, dalam kisahnya merupakan manusia super di Bumi, yang sebenarnya merupakan makhluk dari planet lain. Di planet aslinya – Krypton, Superman bernama Kal-El. Ayahnya adalah Jor-El. Seorang ilmuwan penting. Ibunya, Lara wanita yang teguh, cerdas, dan berani. Sinopsis sampai disini sajalah, hehe.

Bagi para penonton, tentu mengetahui bahwa orang-orang Krypton tak bisa terbang mandiri. Mereka memerlukan bantuan hewan yang bisa terbang atau pesawat canggih mereka. Tapi mengapa Kal-El bisa terbang di Bumi? Koq Kal-El kehilangan kemampuan supernya jika dekat dengan batu krypton?

Penulis tak mendalami interaksi molekular dan radiomagnetik dalam kisah Superman ini. Namun kisah Superman bisa kita komparasi dengan orang-orang rantau yang memilih meninggalkan kampung halaman mereka, melepaskan ketergantungan mereka kepada area nyaman, dan menjadi “super” pada lingkungan yang berbeda.

Dalam banyak kisah kehidupan, kita dapati begitu banyak kisah Superman-superman asli Bumi. Asli Indonesia malah. Orang yang merantau dari kampungnya kemudian menjadi orang yang lebih sukses di negeri baru yang didatanginya. Mereka berani melompati ruang dan meninggalkan area nyaman.

Mereka yang berani meninggalkan area nyaman, akan mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk bertahan pada fase-fase awal, untuk kemudian membentuk area nyaman baru pada fase sesudah itu. Semakin berani orang itu, maka orang tersebut akan kembali melompat dari area nyamannya. Siklus ini terus berulang dan akan terus mengijinkannya bertumbuh. Siklus ini yang akan membuat para perantau dan para penikmat hal-hal baru itu perlahan-lahan menjadi “super” tanpa mereka sadari.

Namun seperti halnya Kal-El, ketika ia melemah jika dipertemukan dengan batu krypton, begitu pula para perantau itu. Mereka yang begitu garang dan begitu giat di kampung orang, akan menjadi lebih pasif dan santai jika tiba saat pulang ke kampungnya. Kembali beradaptasi dengan negeri “gemah ripah loh jinawi”, menikmati BBM bersubsidi, dan seabreg kampanye sosial para politisi.

Sampai pada paragraf ini, penulis malah teringat tenaga kerja Indonesia yang kita sebut juga “pahlawan devisa”. Di negeri orang mereka berjuang keras, sepulang di negeri sendiri, kebanyakan malah nasibnya kembali tidak jelas. Kita semua satu, harus saling menguatkan dan menjaga. Pada akhirnya, tidak perlu orang-orang berkemampuan super untuk mengangkat harkat dan martabat negara, jika kita bisa benar-benar utuh sebagai bangsa.