socheh-satria-bangsa.jpg

Oleh: socheh satria bangsa (presma1 unisfat demak)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Wacana pemerintah Republik Indonesia untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi kerap menjadi topik yang hangat, baik di media konvensional, internet maupun di perbincangan sehari-hari. Jelas saja, kenaikan harga ini tentu memberikan pengaruh langsung yang cukup terasa bagi seluruh lapisan masyarakat. Efek langsung yang ditakuti adalah inflasi dan kesejahteraan rakyat yang menurun, tapi sebagai bangsa yang pintar kita tidak boleh berpikir jangka pendek saja. Apa saja efek positif yang bisa terjadi di jangka panjang dan apa yang membuat saya mendukung kenaikan harga BBM?

Anggaran subsidi BBM setiap tahunnya memakan jumlah yang tidak sedikit. Untuk tahun 2012, anggaran subsidi BBM mencapai Rp 123.60 triliun atau 8,71 persen dari total APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). BBM subsidi ini kebanyakan dinikmati oleh kelas menengah ke atas, atau lebih spesifiknya, yang punya mobil. Sederhana saja, pengguna mobil sekali membeli bensin 30 liter, pengguna motor hanya dua liter. Pengguna mobil tentu akan menerima jauh lebih banyak subsidi. Maka subsidi dengan skema seperti ini sangat salah sasaran. Kenaikan harga BBM akan jauh lebih berhasil daripada sekedar spanduk himbauan untuk para pengguna kendaraan pribadi ini untuk tidak lagi memakan subsidi yang bukan menjadi haknya.

Terlebih lagi, distorsi harga pasar akan menyebabkan penggunaan yang berlebihan. Subsidi ini lebih baik dialihkan ke anggaran pendidikan atau kesehatan juga untuk membiayai perbaikan infrastruktur transportasi publik yang jelas-jelas memperbaiki kesejahteraan rakyat pada umumnya. Pengalihan anggaran subsidi BBM untuk membiayai transportasi umum akan membuat inflasi yang ditakutkan tidak muncul karena harga transportasi umum dapat ditekan. Jadi, alangkah lebih baik menggunakan uang yang kita punya untuk mencerdaskan anak bangsa, menjaga kesehatan dan membangun MRT daripada malah menambah utang negara untuk membayar bensin mobil-mobil itu, bukan?

Untuk perindustrian, subsidi modal kerja dan infrastruktur umum (contohnya pupuk dan mesin panen untuk petani, lemari pembeku umum untuk nelayan) lebih berguna daripada subsidi BBM. Bantuan subsidi yang lebih tertarget dan konkrit ini bisa dirasakan hasilnya di kemudian hari di mana produksi pertanian dan perikanan lokal bisa menguat, dan ini akan memperbaiki kondisi ekonomi negara pada umumnya.

Melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, subsidi untuk usaha kecil menengah (UKM) juga bisa diberikan demi memperdayakan wirausaha Indonesia. Apabila industri lokal kuat, lapangan pekerjaan akan bertambah dan kesejahteraan akan meningkat secara otomatis. Kesejahteraan yang akan dicapai bukan hanya kesejahteraan semu, tapi kesejahteraan tanpa ketergantungan terhadap subsidi.

Saya mendukung kenaikan harga BBM, dan penghapusan subsidi BBM dalam jangka panjang apabila anggaran yang ada dapat dialihkan menjadi subsidi langsung ke pihak-pihak yang jelas memerlukan untuk kegunaan yang jelas pula. Untuk Jakarta, cukup dengan memperbaiki dan membangun sistem transportasi publik yang aman, nyaman dan terpercaya

mapala-unisfat

alasan kami adalah..

“Pertama adalah keberpihakan pada rakyat kecil. Saat ini, 10 persen dari orang kaya menggunakan Rp 5,8 triliun dari subsidi BBM. Sementara itu, 10 persen orang miskin menggunakan Rp 500 miliar subsidi BBM,”

Kedua, kenaikan harga BBM juga dipandang sejalan dengan upaya penghematan dan penciptaan energi terbarukan. “Ketiga, dana yang sebelumnya digunakan untuk subsidi BBM dapat dialihkan untuk pembangunan infrastruktur,”

Keempat, pengurangan subsidi turut menekan kasus penyelundupan BBM ke negeri tetangga. Saat ini, harga BBM di Singapura mencapai Rp 15.695 per liter, sementara di Malaysia sekitar Rp 5.750.

“Pengurangan subsidi juga membantu pemerintah 2014. Pemerintahan yang akan datang tak terbebani subsidi BBM yang tinggi,” .

Sementara itu, PRESMA 1 BEM UNISFAT  mengatakan, rencana kenaikan harga BBM bersubsidi dipandang telah bergeser menjadi isu politik, bukan ekonomi.

“Ini telah menjadi isu politik. Padahal, kenaikan harga BBM ini seperti harga cabai naik. Kalau harga cabai naik, tentu kita harus menyesuaikan pengeluarkan kita. Ini seharusnya business as usual,”

bem

http://news.okezone.com/read/2013/06/15/337/822545/bem-se-jakarta-dukung-kenaikan-bbm