ILUSTRASI (wartanews.com)

Ada dua jenis “bau mulut” kaum beragama atau mengaku beragama. Pertama, yang bau mulutnya harum semerbak bak kasturi, yang harumnya tercium dari jarak sekian dan sekian. Kedua, bau mulut busuk seperti bau comberan.

Bau mulut pertama berasal dari kaum beragama yang saleh, dalam ilmunya, dan santun tutur katanya. Setiap kata adalah hikmah dan telah dipikirkan masak-masak.

Dakwahnya penuh dengan kesejukan. Bahasanya manis semanis madu. Penuh dengan ajakan yang meluluhkan hati orang yang tersesat dan penuh dosa. Tidak pernah ada hardikan sesat! kafir! anda masuk neraka! cupu! kanker! nyelekit! dst.

Sedangkan bau mulut kaum beragama golongan kedua lebih bau dibandingkan comberan atau WC umum di terminal super rame yang tak pernah dibersihkan tujuh bulan non-stop. Contohnya bisa dilihat di kolom komentar artikel Sdr Imam Prasetyo ini. Padahal, mereka mengaku orang beragama loh.

Mereka mendakwahkan keyakinan agamanya tapi dengan kata-kata kotor, sinis, sarkastik, caci-maki, dan penuh dengan cemooh. Bagaimana orang mau simpati. Alih-alih orang tertarik malah jadi antipati dan berpikir “oooh begini toh orang agama X ini?! Gak jadi gabung ah.”

Kalau demikian adanya apa bedanya kaum beragama dengan kaum tidak beragama atau tak mengenal peradaban atau kaum liberal sekalipun. Kaum liberal kasar dan suka-suka masih wajar. Namanya juga kaum liberal. Lah ini kaum beragama gitu loh.